06 Oktober 2012

Journey to The Holy Penanggungan Mountain


Gunung Suci Penanggungan

“Waktu meninggalkan Jajawa ia menuju Padhameyan,
berhenti di Cunggrang untuk menikmati keindahan alam di hutan,
kemudian berkunjung ke sebuah tempat resi di lereng gunung Pawitra”


Narsis di Candi Guru
Itu terjemahan  kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca  yang menclok di buku Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapanca karya Pak Hadi Sidomulyo (Nigel Bullough).  Di situ ada kata “Pawitra”. Para ahli menyebutkan bahwa Pawitra ialah Gunung Penanggungan. Bagi saya gunung ini keren, Raja Hayam Wuruk saja sampai pergi ke sana dan menikmati pemandangan, lalu berkunjung ke seorang resi.
Tidak hanya dalam Negarakertagama, dalam kitab Tantu Panggelaran pun Pawitra disebut-sebut sebagai gunung suci. Konon, Gunung Penanggungan ialah puncak Mahameru yang dipotong untuk menyeimbangkan Pulau Jawa. Sedangkan Mahameru sendiri ialah  gunung yang dipindahkan para dewa dari India (Jambudhipa) karena resah melihat Jawa (Jawadhipa) masih terombang-ambing di tengah samudera.
Beberapa Situs Candi
Sebagai bukti bahwa Gunung Penanggungan ialah gunung suci ialah kini kita bisa melihat banyaknya peninggalan bersejarah di situ. Tahun 1951 saja Van Romondt berhasil mencatat 81 situs purbakala, termasuk goa pertapaan, candi-candi yang kebanyakan punden berundak, gapura, juga petirtaan. Sayangnya saat ini yang bisa dijumpai hanya sekitar 40-an dan dengan kondisi yang sangat buruk, itu pun arca-arcanya sudah banyak yang hilang digasak maling.
Medan Menuju Beberapa Situs
Kebetulan beberapa minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi lebih dari 20 situs dalam seminggu, bahkan beberapa di antaranya ada yang belum terpetakan (belum ada di peta Belanda). Tapi, ya kondisinya buruk, misalnya ada goa yang sudah tertutup semak dan akar-akar, lalu ada reruntuhan candi dengan relief-relief yang cantik.  Uhh senangnya! Lebih senang lagi ketika kita sedang berjalan di tanjakan batu, tapi ternyata itu adalah tanjakan yang disusun orang-orang jaman dulu untuk menuju ke candi. Wow! Masih ada yang lebih wow lagi, diperkirakan candi-candi itu saling berkait karena ditemukan batu-batu sebagai jalur penghubung antara satu candi dengan candi lain. Ahh saya terkesima, tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk utuh bangunan-bangunan berelief indah itu berabad-abad yang lalu!
Ini awang-awang saya saja, seandainya dicari lebih serius, diteliti lebih dalam, mungkin situs yang ditemukan lebih banyak. Mungkin bisa tembus angka 100. Hehe.. Iya sih susah, tapi ini kan peninggalan masa lalu, cikal bakal Indonesia juga. Sedih melihat batu-batu indah itu disusun sembarangan (asal berbentuk), ada yang terkubur, dsb.
Diskusi dengan Pak Hadi
Pantas saja saya jatuh cinta dengan Gunung Penanggungan. Bagi saya, Penanggungan itu eksotik. Bentuknya kerucut sempurna bak miniatur Mahameru, bentang alamnya menunjukkan bahwa ini adalah bekas Gunung Api Tua, situs-situsnya yang bertebaran membuat saya seolah kembali ke masa silam dan ikut merasakan hawa kejayaan Majapahit. Kecintaan itu datang dengan sendirinya meskipun kata orang Gunung berketinggian 1659 itu cadas, panas, dan tidak eksotik. Ada semacam panggilan hati. Misterius. Makanya saya bersyukur sekali ketika mendapat kesempatan menemani Pak Hadi untuk memetakan ulang candi-candi dan sekalian membantu Pak Kusworo untuk mewujudkan Penanggungan Archeological Trail.
Cara yang paling tepat adalah mengunjungi candi-candi perblok, dan blok lainnya pada waktu yang lain. Bisa dibilang ada 3 blok besar candi: blok Gajahmungkur, Bekel, dan Kedungudi. Di blok Gajahmungkur sendiri kita bisa menemui sekitar 7 situs, bahkan bisa lebih kalau mau sedikit susah sekalian eksplor sisi baratnya bisa bertemu belasan situs.
so serious
Di blok Bekel, sebenarnya ada dua jalur: jalur pertama yakni menuju ke Candi Kendalisodo lalu ke puncak Bekel lalu mengarah ke candi-candi di jalur Jolotundo; jalur kedua nanti bisa ketemu beberapa situs candid an goa yang lumayan eksotis karena di atasnya tumbuh pohon amat besar, hanya saja jalurnya sudah tertutup sehingga kita harus melipir jurang. Sedangkan blok Kedungudi kita bisa naik dulu ke puncak lalu turun lewat jalur Kedungudi, nanti banyak sekali candi-candi yang akan kita temui.
Pokoknya Gunung Penanggungan ini cocok sekali sebagai tempat pendakian bertema arkeologi. Mendaki dan tiba di puncak sudah biasa, tapi mendaki gunung hingga ke puncak lalu turun melewati jalur candi-candi itu luar biasa. Jangan lupa untuk mempersiapkan waktu, kekuatan dan ketahan fisik, serta pemandu.
Tim Arkeologi divisi hore :p



01 September 2012

Katakan "Tidak" pada Bersih Gunung


Kalau saja semua pendaki tidak membuang sampah sembarangan di gunung, orang lain tidak perlu repot-repot bersih gunung.
Barisan Tenda

Namun, hal itu sekarang jadi kian mustahil karena semakin banyak penggiat alam, yang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang, kini mendaki gunung. Sebenarnya siapapun sah-sah saja mendaki gunung, yang penting setiap orang punya KESADARAN dan ETIKA berinteraksi dengan alam.
Tapi jujur, hati saya tak semulia mereka yang selalu aktif bersih gunung. Saya enggan ikut acara bersih gunung. Seperti yang saya katakan, kita nggak perlu bersih gunung kalau semua pendaki gunung selalu membawa sampahnya kembali pulang. 

Fasilitas dan Kesadaran Menjaga Fasilitas
Untuk kebutuhan syuting film 5cm Juli lalu, dibuatlah toilet sederhana dengan alas semen, dinding triplek, WC jongkok, dan timba air di Kumbolo. Mungkin waktu itu toilet dibuat untuk kebutuhan kru dan artis film. Okelah, ada bagusnya juga disediakan toilet agar lingkungan di sekitar Ranu Kumbolo tidak tercemar. Sayangnya, fasilitas yang sudah ada ini tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh pendaki lainnya dan tidak dijaga kebersihannya.
Hemat saya, orang-orang malas mengambil air di danau dan mengangkatnya ke toilet. Padahal jarak toilet dan danau hanya terhitung belasan meter. Anehnya, beberapa memilih menggunakan tisu basah (lalu tisunya dibiarkan di situ) atau memilih tidak menyiramnya sama sekali padahal mereka buang hajat. Astagaa.. Kebacut tenan tho yo!
Kemarin ada beberapa teman berhati mulia saat kemping di sana sempat bersih-bersih toilet itu, disiram dengan banyak air dan disikat, eh nggak lama sudah kotor lagi. Hiks.. Oh iya, ada lagi, di tanjakan, semak-semak, dan di balik pohon depan toilet itu juga banyak ranjau yang tidak dikubur. Huh, pendaki kok jorok!
Ayolah, Kawan, kita sudah punya fasilitas, kenapa sih kita nggak mau menjaga fasilitas itu agar tetap utuh dan bersih. Bayangkanlah betapa nyamannya kita menggunakan fasilitas itu kalau fasilitas itu terawat dengan baik. Dengan adanya toilet itu kita nggak perlu lagi menggaruk-garuk tanah dan mencari semak untuk buang air. Pendaki mancanegara yang ke Kumbolo pun pasti akan menaruh simpatik jika fasilitas yang ada tetap bersih.

Masalah Klasik yang Tak Kunjung Selesai: SAMPAH
Keharusan menuliskan daftar logistik bawaan pendaki di pos perizinan pendakian  bisa dibilang formalitas saja. Pasalnya saat turun dari Gunung Gede Pangrango dan Gunung Semeru saya tidak mendapatkan pemeriksaan apakah sampah saya bawa turun atau tidak. Pencataan logistik dan jumlahnya pun asal-asalan saja tanpa ada pengecekan. Jadi?
Tumpukan Sampah
foto: Ferdi
Kembali ke Ranu Kumbolo. Ya, maklum saja, tempat indah ini seringkali dijadikan tempat untuk event-event besar semacam jambore dan pendakian massal. Setelah acara itu lagi-lagi sampah menumpuk dan terserak. Saya bukan orang yang anti pendakian masal kok. Bukan salah acaranya, tapi salah orang yang meninggalkan sampahnya begitu saja.
Di suatu jambore di Ranu Kumbolo, ada lomba untuk mengumpulkan sampah paling banyak. Yang paling banyak dan berat menurut timbangan akan mendapatkan hadiah dari penyelenggara. Oke.. Bagus. Setidaknya ada usaha untuk membersihkan lingkungan Kumbolo. Tapiiii… Sayangnya usaha bersih-bersih itu selesai sampai di situ. Jadilah kantung-kantung sampah itu terkumpul dan menggunung di sana, tidak dibawa turun.
Salah manajemen nih. Kenapa kantung kresek tidak dibagikan saat penutupan sebelum turun gunung untuk mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya dalam perjalanan ke Ranupani? Lalu di pos perizinan baru sampah-sampah itu ditimbang dan siapa yang paling banyak mendapat sampah mendapat hadiah. Ide ini lebih bagus bukan? 
Oke, WTF lah dengan hal itu. Mari buktikan ke masyarakat bahwa pendaki adalah orang-orang yang santun terhadap alam, yang mendaki tanpa merusak dan mengotorinya. Membawa kembali sampah, mengubur hajat dan sisa makanan, serta tidak vandalis. Dengan begitu gunung kita akan lebih indah. Itu mudah kok, Kawan. Dan saya yakin, kalau kita membiasakan diri seperti itu, kita akan malu dan enggan membuang sampah sembarangan walau hanya satu bungkus permen. Mari menularkan kebiasaan baik. Salam.

30 Agustus 2012

Mbolang Mencari Coban Wilis


Coban Wilis yang Tak Pasti
coban wilis
Coban Wilis
Wajah yang tampak lelah dan masam itu tiba-tiba berubah sumringah ketika wajahnya menoleh ke kanan di sebuah kelokan di bibir jurang. “Hwaa… air terjun,” ujar Mba Omi senang dan terkejut. Dan keterkejutan itu menimpa kami berlima. Air terjun yang mengalir ke jurang di depan kami itu mungkin Coban Wilis yang kami cari. Tapi kami tidak tahu persis. Hanya saja coban ini merupakan coban terdekat di antara dua coban yang lain yang kami lihat sejak di tanjakan terakhir di bukit yang kami lewati sebelum kami tiba di kelokan ini.
Berjam-jam sudah kami berjalan sejak pukul 11.30 siang dari rumah Mbah Bejo, hingga kini pukul 16.00 di Kelok Kejut (kami namai seperti itu karena di kelokan ini penuh kejutan). Setelah kelokan itu ada setapak menurun yang tak kami tahu pasti di mana ujungnya. Semoga saja mengarah ke air terjun di depan kami, air terjun terdekat.
Biasanya wisatawan yang pergi ke coban biasa memarkir kendaraannya di Patokwesi, tanah lapang batas antara perladangan dengan hutan. Dan mereka biasanya tek-tok, yakni datang dan pulang dalam hari yang sama. Tidak begitu dengan kami, dua buah tenda beserta logistik sehari semalam sudah berada di ransel kami. Kami mau bermalam di sana, di tempat yang tak kami ketahui apakah ada tempat untuk mendirikan tenda atau tidak. Karena itu kami memilih memarkirkan kendaraan di rumah Mbah Bejo dan mencari jawab atas ketidaktahuan kami itu. Pak Kastoro (penemu air terjun) telah memberitahu kami kalau di atas tidak ada tempat buat kemping, apalagi di sekitar air terjun, di sana batu-batu semua. Tapi Mas Tovik dengan pedenya mengajak untuk kemping di sana, “Wes digowo ae tas’e, ndelok disek nang kono.”
Pemadangan dari Patokwesi
 Di Patokwesi, medan yang akan kami hadapi terlihat. Lima bukit menjulang dan harus kami lewati. Air terjun itu berada di ujung bukit kelima, di sebuah ceruk yang sepi. Siang itu begitu terik dan pepohonan rindang tak banyak. Belum lagi kami semua sedang kelaparan karena belum makan siang dan sebagian lain malah belum makan sejak pagi hari. Keinginan memasak sekadarnya (mie instan) pun kami urungkan karena persediaan air yang terbatas. Yap, kami hanya berjaga-jaga terhadap kemungkinan terburuk, misalnya kami tidak sampai di air terjun dan harus nenda di tempat lain yang belum tentu ada air karena kami di atas bukit, sedangkan air hanya mengalir di sungai jauh di dasar jurang sana.
Karena lapar, lelah, dan dalam tanda tanya seringkali kami mengimajinasikan hal-hal yang nggak jelas, misalnya “semangka ceblok (semangka jatuh)” dari pohon padahal pohon semangka kan tidak seperti pohon kelapa. Lalu, imajinasi lagi berharap pohon di pos III (pos sepoi-sepoi) itu berbuah rambutan yang banyak, dan lain sebagainya. Trek selanjutnya ialah melipir bukit dengan medan lumayan datar tapi sempit dan penuh semak tinggi.
Tiba di bukit keempat (mungkin) pemandangannya begitu indah. Puncak Sumbing yang tinggi menjulang tampak begitu kokoh dengan ditemani bukit-bukit lain yang sama kokoh hijau dan jurang-jurang yang menganga. Kami terpesona dengan sisi lain Gunung Kelud yang ada di utara Blitar ini. Pun begitu, suara air terjun samar-samar mulai terdengar. Saat itu kami berusaha agar tidak kecewa. “Itu suara angin,” kata salah satu teman entah siapa. Tapi setelah kami dengar lagi itu benar suara air terjun. “Tapi mana?” kata saya.
Dua air terjun lain
Di depan kami ada tanjakan yang kemudian kami beri nama Tanjakan Galau karena saat melewati tanjakan itu kita pasti merasa galau. Ada suara air terjun tapi tak tampak wujudnya. Lalu sedikit agak ke atas, air terjun tinggi tampak mengalir di tebing di seberang jurang di sisi kiri kami. “Waahh air terjunn,” kata kami senang. Tapi kemudian kami bertanya-tanya, benarkah itu air terjunnya, kalau benar bagaimana kami menuju ke sana karena kami dipisahkan jurang dalam, curam, dan jauh. Kalau harus memutar berarti perjalanan masih jauh. Hiks..
Lalu sedikit naik ke atas lagi di dasar jurang sebelah kanan ada air terjun bertingkat tiga yang begitu cantik. “Cakeepp,” desis kami. Tapi lagi-lagi kami galau karena tak mungkin juga untuk turun ke sana, teramat jauh dan tidak jelas jalurnya. Di antara kegamangan itu kami terus berjalan mengikuti setapak yang ada hingga sampailah kami di Kelok Kejut, kelokan yang tiba-tiba menyuguhkan sebuah pemandangan menakjubkan di depan kami.

Bermalam di dekat Coban Wilis
coban wilis
Kolam air terjun Coban Wilis
Tas kami letakkan dan segera minum air sumber yang begitu segar. Makanan kami keluarkan. “Sing penting maem sik, masalah nenda kita pikirkan nanti,” celetuk teman-teman. Kami pun mulai memasak dan sholat bergiliran. Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di situ, ada tanah datar cukup untuk satu tenda meskipun malamnya kami harus tidur dengan kaki ditekuk dan dan tidak bisa bebas bergerak. Sempit. Setelah makan malam, kami ngobrol lalu tidur.
Terbersit rasa takut waktu itu. Pertama, kami kemping pada Kamis malam Jumat yang pasti mitosnya macam-macam, tidak saya utarakan dan coba saya pendam dalam-dalam. Tapi kalau mau pipis saya tetap minta antarkan Mbak Ifa atau suami saya Mas Arief. Hehe.. Ketakutan kedua ialah karena di belakang, depan, dan sisi kanan tenda kami adalah tebing. Di sisi kiri kami jurang. Haha, apa-apaan ini. Bagaimana kalau longsor?!
coban wilis
Aktivitas kami di Coban Wilis
Malam itu menakjubkan! Kami tidur dalam gelapnya malam diiringi debur air terjun yang terdengar begitu merdu. Dan paginya SREET.. SREEETTTT.. ketika saya membuka pintu tenda dan mendongak ke samping kanan, tampak air terjun yang indah, membikin pagi kami ceria. Air pagi itu benar-benar BBBRRRRrrrrr…!!!
Kami nikmati waktu di sana dengan memasak, berfoto, dan yang pasti bermain air terjun berair super dingin ini. Bagi saya air terjun ini spesial, karena untuk mencapainya diperlukan perjuangan ekstra dan terletak di tempat yang sangat indah, sepi pula. Saya rasa airnya pun air sumber karena terletak jauh di ketinggian, berbeda dengan air terjun yang seringkali ditemui di bawah (yang sering jadi tempat wisata) yang berasal dari aliran sungai.
Alhamdulillah mbolang kami hari itu sukses, lancar tanpa kendala nyasar,  kekurangan air dan makanan. Logistik yang kami bawa cukup spesial dan membikin nikmat. Terima kasih Kawan, terima kasih alam Blitar, dan terima kasih Tuhan atas potongan surga ini.
Menu Makan Kami

Informasi Umum:
Coban Wilis terletak di lereng tenggara Gunung Kelud, tepatnya di Desa Semen, Wlingi, Blitar bagian utara (bisa ditempuh lewat Pujon-Ngantang-Selorejo kalau dari arah Malang). Lama perjalanan sekitar 4-5 jam, bisa dikurangi lagi kalau naik motor atau ngojek sampai ke Patokwesi.

Rute:
Desa Semen – Jalan Nanas – Kampung Aceh (Rumah Mbah Bejo) – Patokwesi – Pos Bakar Ayam – Pos Sepoi-sepoi – Pos Hore  - Tanjakan Galau – Kelok Kejut – Coban Wilis.

Tips:
Jika berniat kemping di sana sebaiknya kemping di Pos Hore, tanah datar sebelum tanjakan galau, terlebih bila ke sana pada saat musim hujan. Setidaknya sedikit lebih aman daripada di area air terjun yang dikhawatirkan longsor.

07 Juli 2012

Catatan Gathering I Jepecom Jatim


Keluarga Besar JPers Jatim
“Sukses gathering I JPers jatim, terima kasih buat panitia untuk acaranya sehingga kita bisa bertemu keluarga baru di samping itu juga dapat ilmu baru.....jaya terus JPers Jatim.....” by: Setiyo Adi Nugroho – Peserta)
Senang rasanya acara Gathering I Jepecom Jatim akhirnya terlaksana dengan cukup memuaskan. Bertempat di Kebun Raya Purwodadi, 30 Juni – 1 Juli 2012 kami berkegiatan bersama-sama mulai dari kemping, sharing dan diskusi ilmu, trekking, serta game-game seru. Ahh saya yakin akan ada banyak hal yang bisa kita lakukan setelah bertemu di sini, di gathering yang seru ini, untuk bersama-sama melakukan kegiatan positif dan bermanfaat berikutnya. ^_^
Dan inilah persembahan saya berupa cerita jalannya kegiatan dari sudut pandang panitia, dan mungkin sudut pandang pribadi saya. Catatan kegiatan ini juga saya tulis di web Jepecom.

Pra Gathering
Berawal dari kebiasaan ngopi bareng dengan teman-teman JPers Jatim yang cuma segelintir ini, muncullah sebuah ide untuk kumpul bersama dengan mengajak teman-teman anggota Jejak Petualang Community yang berada di wilayah Jatim untuk kumpul bersama. Langkah awal kami adalah membentuk sebuah grup di fesbuk dengan nama JPers Jatim. Namun, apalah artinya sebuah grup jika sepi kegiatan. Dan rencana kegiatan awal kami adalah membuat sebuah gathering sebagai tahap awal cara mempersatukan para petualang di Jawa Timur.    
Kami pun membentuk sebuah panitia kecil untuk mensukseskan acara ini. Yang pertama kali survey lokasi adalah Mas Dadang dengan dibantu Bang Ori. Setelah tempat fix, tahap-tahap persiapan selanjutnya pun kami lakukan. Koordinasi seminggu sekali di Taman Pelangi sepertinya jadi agenda wajib. Harus sukses, itu harapan kami.
Kendala demi kendala mulai muncul saat kami terbentur oleh hal pendanaan, jumlah personel, perizinan, dll. Untunglah dengan bantuan beberapa pihak baik secara materi maupun dukungan dan tenaga, acara gathering siap juga untuk dilaksanakan.

H-1 Gathering
Persiapan
Entah kenapa Mas Dadang tiba-tiba mencetuskan ide agar panitia sudah siap di Kebun Raya Purwodadi (selanjutnya ditulis KRP) mulai Jumat malam. Ternyata yang siap ikut kemping duluan hanya empat orang, yakni saya, Mas Dadang, Mas Arief, dan Mas Udin. Belum ke sana saja saya sudah membayangkan yang nggak-nggak. Maklum, areal kemping kami terletak di KRP paling belakang dekat dengan Sungai Baung yang terkenal angker. Serem euy. Hehe..
Tapi akhirnya kami jadi juga ke sana. Pertama masuk ke KRP hawanya sudah nggak enak. Ada rasa-rasa gimana gitu yang susah dijelaskan. Intinya saya takut. Dan saya tau baik Mas Arief, Mas Dadang, dan Mas Udin juga mempunyai rasa yang sama, hanya saja masing-masing dari kami masih bisa mengendalikan rasa takut itu. Kami berempat naik motor ke areal kemping. Nah, pas baru tiba di sini ada sebuah insiden kecil yang terjadi dan cukup menggetarkan hati. Motor Mas Arief yang sudah dalam keadaan netral tiba-tiba lari sendiri, dan Mas Arief yang memegangi setirnya pun terpaksa ikut lari mencoba menghentikan motor. Agak susah memang, karena itu sebuah turunan. Dan di depan sana ada turunan vertikal setinggi 1,5 meter. Untung saja Mas Arief dan motornya bisa berhenti pas di pinggir turunan itu.
Karena ada tambahan personel dari mahasiswanya Mas Udin, kemping malam itu jadi lebih ramai. Eh lagi-lagi ada insiden berdarah (lebayyy). Mas Dadang berniat membuat gelas dari kaleng minuman. Ia pun menggunakan cutter untuk memotongnya. Dan sreettt… ujung jempolnya ternyata juga ikut terkena sambaran cutter. Darah menetes-netes banyaakk sekali. Wahh kami jadi merinding-merinding gimana gitu. Belum lagi kamar mandinya jauh di bawah di dekat sungai. Hadeehh…

Hari Pertama Gathering, 30 Juli 2012
Materi Malam
Pagi itu setelah sarapan kami dibantu mahasiswanya Mas Udin untuk memasang banner dan kain putih untuk screen yang akan digunakan sebagai media nonton film malam nanti. Beberapa juga mengurusi perihal air minum dan makanan untuk dua hari.
Siang harinya beberapa peserta mulai datang padahal kami belum bersiap di depan. Kami masih berberes area camp, ngurus genset, dsb. Agak bingung juga karena jumlah panitia yang cuma 9 belum lengkap. Hanya 5 orang di sana dan peserta sudah datang. Waw!
Hp saya berbunyi terus karena ada SMS dan telepon masuk dari peserta yang baru sampai di gerbang KRP. Rata-rata mereka bingung, setelah dari pintu gerbang, mereka harus kemana. Rencana awalnya panitia akan ada yang stay di gerbang, tapi kondisi mengatakan lain. Jadi kami kadang dengan terpaksa membiarkan peserta tanya pada satpam dan membiarkannya jalan sendiri dari gerbang ke area camp sampai tersasar (maaf yaa..) dan kadangkala kami jemput di pintu gerbang lalu diantarkan masuk ke area camp. Saya sebagai bendahara dan yang mengurus pendaftaran merasa sangat senang karena ada peserta tambahan yang daftar di tempat, dan itu berarti acara gathering ini akan semakin ramai orang.
Pembukaan acara gathering dimulai setelah Magrib. Bentuknya ialah duduk melingkar di tengah areal kemping dengan gelar tikar, matras, dsb. Pembukaan diisi dengan sepatah dua patah kata dari ketua panitia, Mas Trisno, dan sesepuh JPers, Bang Ori, lalu perkenalan dari masing-masing peserta dan panitia. Lalu kami makan bersama dengan nasi bungkus.
Selepas itu kami berkumpul lagi di depan screen untuk menimba ilmu tentang film dokumenter yang dipimpin oleh Bang Ori. Beliau menjelaskan bagaimana cara membuat film dokumenter dan juga menceritakan pengalaman-pengalamannya selama ini. Sangat menarik. Selanjutnya ada materi tentang Travel Writing dan Travel Photography dari Mas Ayos Purwoaji, jebolan ACI 2010 dan contributor di beberapa majalah-majalah traveling. Para peserta sepertinya tersihir oleh Mas Ayos, Penjelasannya begitu asik dan mudah dicerna. Saya saja sampai ikut menimba ilmu di posisi paling dekat dengan Mas Ayos. Menarik! Pun kami tidak lupa membagiakn doorprize berupa majalah DiveMag yang dilengkapi dengan video documenter karya Cahyo Alkantana.
Malam memang sudah larut, tapi ternyata ini bukan saat yang tepat untuk tidur. Masih ada satu kegiatan lagi, yakni trekking malam. Tujuannya ialah untuk mengetahui dan merasakan suasana malam yang gelap gulita di areal KRP. Kira-kira acara trekking ini baru selesai pukul 1 dini hari. Waduh-waduhh, apa peserta nggak capek ya. Nggak papa yaa, kan jarang-jarang kita beginian. ^_^

Hari Kedua Gathering, 1 Juli 2012
Game
Sebenarnya agenda pagi itu adalah senam pagi bersama, tapi karena semua tidur saat malam sudah sangat larut, jadi pada mbangkong. Saya sendiri baru bangun pukul 06.30 pagi dan langsung nyeruput kopi di sebelah Mas Arief yang sedang ngobrol dengan Om Gendon dkk.
Makan pagi dan kita mulai kegiatan berikutnya, yakni games. Ada macam-macam games yang cukup membuat kami haus dan lapar lagi (hehe..). Kebetulan saya juga ikut nge-game bersama teman-teman jadi saya bisa ikut merasakan. Yang paling seru menurut saya adalah game warrior atau perang tembak-tembakan dengan kata. Siap – angkat senjata – isi peluru – eklek2 – bidik – tembak – dooorrr!! Ada cacing, laler, mbek, dan badak yang siap ditembak. Hihi..
Setelah itu kami trekking ke puncak Air Terjun Baung. Meskipun namanya “puncak” kami tidak perlu mendaki ke sana. Kami hanya akan menyeberangi Sungai Baung lewat jembatan gantungnya lalu menyisir sisi kanan sungai yang berbatu-batu hingga bertemu puncak air terjun. Jembatan gantung itu jembatan tua, menyeramkan, dan beberapa dari kami agak was-was juga melewatinya. Sedangkan puncak air terjun itu pun juga menyeramkan karena sisi-sisi air terjun berupa tebing curam yang sangat menyeramkan. Apabila jatuh ya wassalam. Saya sendiri tidak berani terlalu dekat dengan bibir tebing. Faktor X bisa saja muncul tanpa diduga. Saya sempat sangat was-was ketika teman-teman begitu beraninya mendekat ke bibir jurang dan melihat apa yang ada di bawah sana. Haduuhh saya merinding dan dalam hati berdoa agar tidak terjadi apa-apa. Kalau ada yang jatuh, habis sudah…! Maka cepat-cepat peserta ditarik mundur dan istirahat di samping jembatan gantung.


Di sana kegiatan tulis menulis berlangsung. Setiap ada yang mengambil kertas ke saya, saya mengatakan, “Ayo tulis dan menangkan doorprize dari cozmeed,” untuk menyemangati mereka. Saya senang karena mereka terlihat sangat serius. Ada yang menulis di gazebo atas, ada yang di undakan, ada juga yang di pinggir sungai. Seru! Peserta yang sudah selesai menulis dipersilakan istirahat dan bersiap untuk acara pembagian doorprize dan penutupan. Di lain pihak, Mas Ayos mulai sibuk membaca karya mereka satu persatu dan menentukan mana 5 karya paling menarik yang akan mendapatkan doorprize dari cozmeed.
Puncak Coban Baung
Saat pengumuman pemenang pun tiba. Mas Ayos telah memilih 5 tulisan terbaik untuk mendapatkan doorprize berupa produk dari cozmeed dan 6 tulisan pemenang harapan yang mendapatkan voucher diskon dari cozmeed. Ada yang menuliskan tentang kenangannya bersama sang istri di KRP, ada yang menulis tentang capung sebagai indikator air; batu-batuan sungai; kesulitan menuju KRP, dan sebagainya. Dan Mas Ayos mengulasnya dengan begitu asik. Selanjutnya masing-masing peserta mendapatkan majalah DiveMag yang super keren.
Penutupan acara diakhiri dengan pesan, kesan, dan kritik dari peserta gathering, lalu persembahan kata dari Bang Ori dan Mas Trisno. Puas sudah.. Kami sangat bersyukur ini semua bisa terlaksana.

Ucapan Terima Kasih:
  1. Allah Swt karena izin-Nya acara ini bisa terlaksana,
  2. Sesepuh JPers yang membantu kami baik secara materi, tenaga, dan dukungan, khususnya kepada Tante Nhanha, Bang Ori, Om Silo, Om Jegger, Mas Kohan, Mba Diana, dll.
  3. Para sponshorship yang sudah mendukung kegiatan kami, Cozmeed, DiveMag, dan Azka Holiday.
  4. Teman-teman panitia yang mau meluangkan waktunya untuk mensukseskan acara ini: Mas Arief, Mas Dadang, Mas Trisno, Mas Udin, Mas Wahyu, Mas Hero, Mba Iil, Mas Fahad, Mas Lutfi, dan Mas Amin.
  5. Teman-teman peserta gathering yang berasal dari berbagai latar belakang dan hobi yang sudah dengan antusias mengikuti jalannya gathering. Semoga kalian puas dan persaudaraan kita tidak berhenti sampai di sini.
  6. Pihak Kebun Raya Purwodadi yang telah membantu kami dan tidak mempersulit kami.