07 Januari 2012

Resep Bola-bola Coklat


Bola-bola Coklat
Makanan manis seperti coklat dan permen biasanya disukai anak-anak. Namun tidak dengan biskuit atau roti marie. Kebetulan kemarin ada sebungkus roti marie yang sepi peminat (nggak ada yang suka). Tiba-tiba muncul ide untuk membuat bola-bola coklat. Berikut cara membuatnya.

Bahan:
1.     Roti marie (saya biasa beli yang remuk)
2.     Susu coklat kental manis
3.     Meses coklat dan warna-warni
4.  Coklat blok + margarine (dilelehkan)

Cara Membuat
1.     Hancurkan roti marie sampai halus (nggak perlu halus banget)
2.     Beri susu coklat kental manis sambil diaduk-aduk, tapi jangan terlalu banyak. Cukup sampai kira-kira bisa lengket kalau dibuat bulatan.
3.     Setelah tercampur rata, bentuk seperti bola-bola kecil, jangan lupa lapisi tangan dengan plastik biar nggak lengket.
4.     Celupkan pada coklat blok yang telah dilelehkan dengan margarin.
5.     Guling-gulingkan di meses.
6.     Terakhir masukkan bola-bola coklat ke kulkas karena kue ini lebih enak dimakan pada saat dingin.

Selamat Mencoba! J

01 Januari 2012

Resep Brownies Coklat


Salah satu hobi saya adalah membuat kue, termasuk brownies coklat. Dari dulu saya sudah mencoba berkali-kali, tapi selalu saja ada yang kurang. Nah, beberapa hari yang lalu saya mencoba lagi membuat brownies dengan mengubah-ubah resep yang saya punya. Hasilnya, 90% memuaskan. Saya bisa menghasilkan kue yang terlihat bantat tapi empuk, lembut saat dimakan. Hmm… Nyummiii!!!  

Berikut resep brownies saya.
Bahan:
  1. Lelehkan
1.     175 gr  coklat batangan (dark coklat)
2.     190 gr mentega (kemarin saya menggunakan blue band yg 200 gr, saya sisain sedikit)

  1. Campurkan
3.     20 gr coklat bubuk
4.     150 gr tepung kue
5.     baking powder secukupnya
6.     garam secukupnya

  1. Mixer
7.     150 gr gula pasir
8.     4 butir telur (satu telur dibuang putihnya)

Cara Membuat:
  1. Lelehkan coklat batangan dan mentega dalam satu wadah, lalu diangin-anginkan supaya dingin.
  2. Di wadah yang lain campurkan bahan B sampai rata.
  3. Tuang lelehan coklat-mentega ke dalam campuran bahan B, aduk-aduk sampai rata.
  4. Mixer bahan C sampai mengembang, kira-kira sepuluh menit.
  5. Campurkan bahan yang sudah dimixer dengan campuran bahan B yang sudah diberi coklat. Aduk-aduk sampai rata, sampai semua adonan berwarna coklat.
  6. Tuang ke dalam loyang.
  7. Panggang dalam oven dengan api sedang (agak kecil) selama 40 menit.
  8. Dan jadilah brownies panggang yang nikmat. Nyummii!

25 Desember 2011

Tas dan Dompet Cantik dari Kertas Semen



Pencetus Ide

Tas berbahan kain memang sudah biasa. Namun, bagaimana bila Anda dihadapkan dengan tas berbahan daur ulang. Tak tanggung-tanggung, bahan daur ulang yang digunakan adalah sak semen.
Seperti itulah lead berita saya di detiksurabaya.com tanggal 7 Desember 2011. Saya memang baru meliput pasangan suami istri yang mencetuskan ide pembuatan tas dan dompet dari kertas (sak) semen. Mereka adalah Weny Indrasari (39) dan Sutiono(39), warga Perum TAS 2 Blok R3, Tanggulangin, Sidoarjo.
Seperti yang dikatakannya pada semua orang dan wartawan, hasil karya mereka ini muncul atas ketidaksengajaan. Kebetulan saat itu, sekitar tahun 2010, Pak Sutiono Dan Bu Weny sedang merenovasi pagar belakang rumah. Akibatnya banyak sak sisa semen yang menumpuk.
Di saat bersamaan, ia mendapat tantangan dari sebuah acara bertema daur ulang dalam program Sidoarjo Bersih Hijau (SBH). Mereka pun berpikir seandainya sak-sak semen itu bisa dijadikan tas.
"Semuanya nggak sengaja, pas ada tuntutan membuat kerajinan daur ulang, pas juga ada banyak sak semen bekas renovasi rumah," tutur Weny di rumahnya Rabu (7/12/2011).
Memberi Warna
Sebenarnya Pak Sutiono dan istrinya tidak punya keahlian khusus dalam membuat tas. Waktu punya ide membuat tas, ia pun meminta saran dan bantuan dari tetangga sebelah rumahnya. Ia bertanya teknik pembuatan tas dan dompet. Setelah dilihat-lihat ternyata teknik dasarnya ya itu-itu saja, tinggal bagaimana mengkreasikannya agar terlihat lebih menarik. Apalagi Bu Weny sebelumnya juga bekerja sebagai pembuat kerudung, jadi kemampuan menjahit atau menyulam sudah tidak perlu diragukan lagi.
Saat saya ke sana, mereka sedang mengerjakan pesanan tas sebanyak 200 buah. Jadi saya bisa melihat secara langsung proses pembuatannya. Pak Sutiono dan Bu Weny pun sangat ramah dan tidak segan-segan membagi ilmunya.
Secara singkat akan saya jelaskan. Awalnya kertas semen dibersihkan dari semen dengan menggunakan spon dengan sedikit air. Kedua, kertas semen dicelupkan ke dalam air sebentar. Ketiga kertas semen dimasukkan ke dalam air mendidih yang sudah diberi pewarna (wantek). Dalam memasukkannya ke air mendidih harus ada tekniknya biar merata. Keempat, kertas yang sudah diwarnai diangkat lalu dicelupkan sebentar ke air dingin. Kelima, kertas semen dijemur. Keenam, kertas semen disetrika. Selanjutnya kertas baru bisa diproses seperti dijahit atau disulam. Setelah itu kertas diberi formula tahan air. Terakhir diberi lapisan fernis agar terlihat mengkilap.
Karya Kreatif
Awalnya, semua bahan baku tas dan dompet buatan mereka berasal dari kertas semen. Seiring berjalannya waktu, mereka memberi modifikasi pada bagian dalam tas dan dompetnya dengan menggunakan kain seperti tas pada umumnya.
Itu berarti, keduanya tetap mengguanakan sak semen hanya untuk pelapis luar saja. Sedangkan bagian dalamnya sama seperti tas pada umumnya. Ini memungkinkan tas dan dompet buatannya tidak akan rusak bila terkena air. Selain itu, menurutnya kertas semen cocok untuk dibuat tas ataupun dompet karena seratnya lebih tebal.
"Nggak semua kertas semen bisa dipakai, hanya merek tertentu saja (Semen Gresik) yang seratnya lebih tebal," kata Sutiono.
Dalam sehari Weny dan Sutiono bisa mampu membuat 10 tas atau dompet. Harganya bervariasi mulai Rp 35 ribu sampai Rp 100 ribu. Dari usahanya ini Weny bisa mendapatkan keuntungan 1,5 juta setiap bulan.
Karena keterbatasan tenaga kerja, sementara ini Weny dan Sutiono hanya memasarkan produknya di UKM Provinsi Jatim di Juanda. Namun tidak jarang ada konsumen yang langsung datang ke rumahnya untuk memesan tas maupun dompet. Bahkan produknya sudah pernah dikirim ke Medan, Pontianak dan Samarinda.

Yang Berbeda Setelah Menikah


Saya tidak pernah menyangka jodoh itu datang begitu cepat. Di usia yang masih 21 tahun 8 bulan, saya sudah menjadi istri orang. Tidak, saya tidak menikah karena “kecelakaan”. Saya menikah karena mungkin sudah waktunya, sudah dapat panggilan. Seperti orang berhaji, walaupun secara materi cukup tapi kalau belum merasa dapat “panggilan”  ya nggak akan berangkat, tapi kalau sudah mendapat panggilan dan memang itu rizkinya, taka da sesuatu pun yang bisa menghalangi. Begitu juga dengan saya.
Cerita bahagia dan duka sudah pasti ada, bahkan banyak. Namun, sebenarnya ada sisi lain yang mesti dipahami oleh seorang istri dalam kehidupan berkeluarga. Saya tidak berbicara tentang “ayat” karena saya tidak tahu banyak, takut salah. Saya hanya berbagi sedikit cerita dari apa yang saya alami.
Saya berangkat dari pergaulan yang sedikit bebas dengan teman-teman petualang. Kebetulan saya hobi berpetualang. Namun bebas di sini bukan berarti bebas tanpa syarat dan bebas negatif. Kebebasan yang saya anut adalah bebas bergaul, berpetualang, dolan, naik motor dengan teman-teman petualang tapi tetap dalam batas tertentu. Saya ingat betul pertama kali bermain dengan JPers Jatim pada April 2008 ke Ranupani, dari sekian orang hanya saya sendiri yang perempuan.
Pertemuan-pertemuan selanjutnya juga begitu, entah itu sekadar nongkrong di FT Unesa, touring, nginep di rumah Mas Tovic (Batu), atau mendaki gunung, saya menjadi minoritas di antara teman-teman cowok. Bukan berarti saya tidak suka berpetualang dengan perempuan, tapi teman petualang perempuan sangat sulit saya temui. Saya nyaman dengan itu semua. Saya juga nyaman pulang malam walaupun naik motor sendirian, karena di belakang saya ada teman-teman JPers yang mengantar seperti Mas Kohan, Mas Hero, Mas Wahyu, Mas Rangga, dll.
Begitulah dari segala petualangan itu saya menemukan “teman hidup”. Sejak saat itu ada peraturan yang lebih kuat yang mengikat saya, salah satunya tentang pergaulan dan pulang malam. Saya boleh berteman dengan siapa saja, mau perempuan atau laki-laki terserah. Hanya saja sekarang saya tidak bisa sembarangan minta bonceng teman cowok. Alasannya?  Ya karena saya sudah punya suami, jadi harus menjaga perasaan suami dari rasa cemburu. Saya juga harus menjaga diri dari fitnah. Kan tidak lucu misalnya saya sedang dibonceng teman cowok eh tiba-tiba ada tetangga yang tahu, dan saya dikira selingkuh. Aw aw aw…. Saya juga sudah tak bisa bebas ikut trip sana sini karena ada tanggung jawab di rumah. Malah kata Ibu saya harus pergi denga suami kalau mau ke mana-mana. Saya bisa, suami nggak bisa, dan sebaliknya. Jadilah setengah tahun ini kami lebih sering di rumah.
Sejak SMA, pulang malam sudah jadi kebiasaan. Semuanya bermula dari OPA Rekgiwa dan teman FPTI Sidoarjo yang isinya orang malam semua. Setiap kali ada rapat mesti baru dimulai pukul 9 malam dan berakhir pukul 1 dini hari. Ketika berteman dengan JPers pun tidak jarang pulang agak larut. Namun, sekarang saya tidak bisa sebebas itu. Bahkan saya seringkali menolak ajakan keluar malam. Alasannya? Suami saya baru pulang kerja pukul 6 sore. Saya kan mesti menyiapkan makan, minum, dan sebagainya. Kan sangat tidak etis kalau suami baru pulang lalu saya tinggal keluar.
Kawan, menikah itu bukan mengekang kebebasan, tapi hanya membatasi. Kita boleh bergaul dan bermain seperlunya asal dalam batas-batas tertentu dan tetap melaksanakan kewajiban di rumah. Jadi jangan heran kalau sekarang saya lebih sering menolak ajakan keluar malam, atau saya membawa serta suami saya dalam pertemuan-pertemuan. Rasanya kok jadi lebih romantis.
Mari belajar jadi istri yang baik!

09 Desember 2011

Suka Duka Jadi Wartawan Magang

Sebulan sudah saya magang di detikSurabaya.com. Sebulan sudah saya merasakan suka duka jadi wartawan. Ya, saya memang masih wartawan-wartawanan, bukan wartawan sesungguhnya, tapi rame-rame rasa itu begitu menggoda saya.

Awalnya, ketika baru memulai dan baru kenal dengan kru, rasa canggung  tidak bisa saya cegah. Bahkan saya sampai enggan ke kantor karena merasa sungkan. Waktu itu sempat terjadi salah persepsi antara kami dengan redaksi. Kami mengira harus mencari berita sendiri dan harus setor berita. Ternyata, yang sebenarnya, kami tidak boleh keluar kantor kalau tidak ada penugasan. Hal ini karena dikhawatirkan kami meliput berita yang tak layak tayang. Apalagi saya tidak punya latar belakang jurnalistik atau ilmu komuniasi. Saya kuliah dan dididik menjadi guru, mentalnya pun mental guru.

"Kasihan kan sudah capek-capek tapi nggak dimuat," begitu kata Mbak Icha, atasan kami.

Semakin hari saya semakin kenal dengan siapa-siapa yang ada di kantor detikSurabaya. Ya, tidak semua, tapi lumayanlah bisa sedikit akrab dengan mereka. Biasa, saya menggunakan jurus SKSD. Ada Mbak Icha (redaktur yang 'memegang' kami), Pak Budi Sugiharto (Kepala Detik Biro Surabaya), Pak Budi Hartadi (redaktur), Mbak Nila (admin), Mas Sis, Mas Mas Gilang, Mas Zainal, Mbak Norma, dan Mas Rois. Semuanya baik. Saya suka.

Suka duka yang lain masih banyak. Baik, mari kita mulai dengan memikirkan duka dulu. Susah-susah dahulu bersenang-senang kemudian.

DUKA:
  1. Meliput sendirian adalah kondisi yang kurang begitu saya sukai. Maklum, saya belum kenal siapa-siapa dan belum punya pengalaman menjadi reporter. Ada kalanya saya seperti orang "hahok" bingung bagaimana harus meliput. Ada kalanya saya kesasar karena belum terlalu kenal Surabaya.
  2. Duka yang kedua adalah duka yang berhubungan dengan kuliah. Sembari magang, saya masih punya kewajiban kuliah setiap hari Selasa s.d. Jumat. Kadangkala tanggung jawab magang sedikit "menyenggol" kepentingan kuliah. Saya juga sempat tidak masuk karena harus ke kantor. Pernah, saya harus kebut-kebutan di jalan untuk mengejar sisa waktu UTS di kampus setelah meliput sebuah berita. Akhirnya saya hanya mengerjakan UTS dalam waktu 15 menit. 
  3. Duka yang ketiga apa ya, mungkin hanya rasa capek karena jaraknya jauh dari rumah. Dan saya harus berkutat dengan tiga tempat, yakni rumah, kampus, dan kantor.
  4. Duka berikutnya adalah dijuteki narasumber (orang Dinas P...). Hihi saya sudah pernah merasakannya. Begitu tidak nyaman.

SUKA:
  1. Saya paling suka kalau melihat tulisan dan jepretan saya di web detikSurabaya. Ada rasa puas dan bangga yang mengalir ke dada, jantung, dan darah. Hehe..
  2. Selain harus berpanas-panasan di Surabaya, sejujurnya saya suka kalau disuruh meliput. hal itu membuat saya lebih cepat hafal dengan jalan di Kota Surabaya. 
  3. Bisa ketemu dan kenalan dengan wartawan senior dari berbagai media. Mendengarkan mereka bercanda dan ikut ngobrol adalah menyenangkan buat saya.
  4. Dapat makan, hehe... Maklum mahasiswa, paling senang kalau dapat yang gratis.
  5. Selain itu semua yang terpenting adalah saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman dan teman baru di sini. Mereka seperti Mbak dan Mas saya sendiri. Suatu saat saya akan merindukan mereka kalau sudah tidak magang lagi.
Tinggal satu bulan saya magang di detikSurabaya.com, semoga saya bisa memberikan yang terbaik buat mereka. Aaaamiiin. :)


19 November 2011

Segarnya Es Yokik Bikin Ketagihan



Siapa yang tak mengenal es yokik? Bagi masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya, es yokik adalah salah satu minuman populer. Es yokik yang berisi campuran bubur kacang hijau, kelapa muda, dan alpukat, dan di atasnya diberi serutan es yang disiram susu kental coklat terasa manis dan segar.
Sebenarnya nama es ini berasal dari nama salah seorang siswa SMA Katolik Sidoarjo. Puluhan tahun lalu Yokik yang anak SMA suka sekali minum es dengan campuran kacang hijau, kelapa muda, alpukat, dan susu. Akhirnya teman-temannya menjuluki es tersebut dengan nama es yokik. Dan dengan segera es ini mulai banyak dijual pedagang kaki lima.
“Dulunya es yokik ini nama anak sekolahan. Dia suka minum es ini, lalu teman-temannya ngasih nama esnya itu es yokik,” kata Pak Wahidi di warungnya di Jalan Raden Wijaya Sidoarjo.
Uniknya, meskipun populer, es ini hanya dijual di Jalan R.Wijaya atau lebih sering disebut Mahkota oleh masyarakat. Beberapa pedagang kaki lima menyajikan es yokik di samping menu es yang lain.
Pak Wahidi mengaku masih banyak pembeli yang suka memesan es yokik. Ia bisa menghabiskan satu kilogram kacang hijau setiap harinya untuk menjual es yokik.
“Rasanya suegerr, bikin ketagihan, dan murah,” kata David, salah satu penggemar setia es yokik sejak sepuluh tahun lalu. Es yang manis dan segar ini memang dijual cukup murah, hanya Rp3.000,- saja.

15 November 2011

Pameran Foto “Dari Pegangsaan Sampai Rijswijk”


Kemarin saya berkunjung ke House of Sampoerna Surabaya khusus untuk melihat pameran foto “Dari Pegangsaan Sampai Rijswijk”. Pameran ini digelar di Galeri Seni HOS dari tanggal 10 November 2011 s.d. 11 Desember 2011. Tadinya saya tidak tahu apa itu Rijswijk, tapi setelah melihat-lihat barulah saya tahu bahwa itu adalah nama lama dari Istana Merdeka.
pose di depan foto
Di dalam pameran tersebut terdapat 66 potret sejarah Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaannya tahun 1945—1950 yang dicetak di atas bahan aluminium lalu digantung dengan senar berurutan sesuai tahun pengambilan foto. Foto-foto jurnalistik tersebut adalah hasil dari Mendur Bersaudara dan para pewarta foto yang tergabung dalam Indonesian Press Photo Service (IPPHOS). Pameran yang diadakan atas kerjasama dengan Galeri Jurnalistik Fotografi Antara (GJFA) ini diharapkan dapat mengingatkan kembali masyarakat akan perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
foto-foto
Mungkin karena saya berkunjung pada hari Senin, jadi pemeran tersebut terkesan sepi pengunjung. Menurut penjaganya, hari itu baru 10 orang yang berkunjung, sedangkan akhir pekan kemarin jumlah pengunjung minimal 20 perhari. Sebebenarnya dengan begitu saya bisa lebih leluasa melihat foto-foto sambil menghubungkannya dengan sedikit pengetahuan saya tentang sejarah, tapi saya juga ingin banyak orang datang dan melihat foto-foto itu. Ada rasa takjub, haru, merinding, lucu, dan lain-lain. Tidak jarang saya tertawa sendiri atau mengucapkan kata “Wow!”. Belajar sejarah itu menyenangkan, terlebih lagi jika belajar melalui foto.


(Sidoarjo, 15 November 2011, 08.26 WIB)