09 Juli 2009

Iman dalam Cinta

Saya pernah jatuh cinta. Sejak kapan? Entahlah.. Mulai jaman kelas III SMP saya sudah merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis. Entah itu cinta yang bagaimana saya tidak pernah tahu. Mungkin cinta monyet. Cintanya anak-anak ABG seperti saya waktu itu. Malu-malu tapi mau akhirnya saya menerima ungkapan cinta dari seseorang, sebut saja Ismail.

Meskipun kata teman-teman kami sudah jadian, menjadi sepasang ABG yang sama-sama disatukan dengan tali abstrak bernama pacaran, hubungan kami biasa-biasa saja seolah tidak ada yang spesial. Dia tak pernah memegang tangan saya seperti teman-teman kebanyakan. Sayapun tak pernah minta diantarnya pulang. Kami juga tidak mesra. Sesekali hanya saling melempar senyum. Kalaupun sedang duduk berdekatan paling-paling masih berjarak lebih dari 30 cm. Anehnya kami masih bertahan dengan hubungan itu. Alasannya? Saya juga tidak tahu.

Mungkin malu dengan orang tua dan tetangga, tak sekalipun juga ia saya izinkan main ke rumah. Jalan berdua juga tidak pernah tertulis dalam pengalaman pacaran kami. Pada akhirnya sayalah yang menyerah. Bukan karena saya tidak sayang ataupun saya telah menemukan pengganti yang lain. Tapi karena saya tidak bisa memberi sikap yang lebih terhadap dia. Mungkin hal ini pengaruh dari didikan keluarga yang selalu menanamkan kepada saya bahwa antara perempuan dan lelaki terdapat batasan yang tidak boleh dilanggar tanpa adanya status muhrim. Lalu berakhirlah hubungan kami. Sebatang coklat mete masih sempat ia hadiahkan untuk saya. Kartu ucapannya pun masih saya simpan hingga sekarang. Dia cinta pertama saya. Cinta monyet saya. ^_^

Dan lagi-lagi saya jatuh cinta. Juga lagi-lagi saya tidak mengetahui itu cinta yang seperti apa. Sebatang coklat mete pernah saya terima dari tangannya. Coklat yang saya anggap spesial, meski tanpa kartu ucapan. Tapi mengikuti hati tidak selamanya jauh dari kesalahan. Adanya pengakuan dan penerimaan adalah salah satu harapan saya. Saya yakin dia tahu, hanya ia tak mau. Alasannya? Entahlah. Mungkin juga alasannya sama seperti alasan saya waktu itu. Atau karena hal lain. Biar ia saja yang menjawab. Yang saya tahu adalah saya berharap terlalu banyak dan terlalu mengagumi baktinya pada Pencipta. Namun, saya telah memilih. Dan hidup saya untuk masa depan. Cinta saya kepada dia adalah cinta yang indah. Mengingatnya semakin membuat saya kagum akan keagungan sang Pencipta. Dan pilihan saya, semoga dia juga seperti itu. Pilihan yang mampu membawa cinta saya menggapai rangkulan-Nya. Tanpa membandingkan dengan siapaun, saya mohon yakinkan saya dengan "cinta".

12 Juni 2009

Pendaki dan Pencinta Alam

"pendaki gunung sahabat alam sejati
jaketmu penuh lambang, lambang kegagahan
memproklamirkan dirimu pencinta alam
namun maknanya belum kau miliki"
(Pencinta Alam-Rita Rubi H.)

Cuplikan lirik lagu di atas nampaknya sudah merupakan gambaran umum penggiat alam bebas atau pendaki di Indonesia. Pendaki, yang pada umumnya lahir dari komunitas atau organisasi pencinta alam kini jumlahnya semakin banyak, yaitu di sekolah-sekolah menengah, di universitas, di kampung, di instansi-instansi, perusahaan, bahkan komunitas dunia maya melalui internet. Tidak tanggung-tanggung sekarang hampir setiap akhir pekan gunung-gunung menjadi tujuan mereka. Mulai dari pendakian solo, duo, trio, bahkan pendakian massal dengan berpuluh-puluh atau beratus-ratus orang. Refreshing setelah seminggu sibuk dengan rutinitas pekerjaan merupakan salah satu alasan. Alasan lain bisa karena ingin berkencan dengan pacar (padahal ga perlu jauh-jauh ke gunung), rindu udara dingin, olahraga, cari pengalaman, berkumpul dengan teman, hingga sampai pada tujuan komersil, yaitu mencari keuntungan. Hampir semua gunung di Indonesia terjamah oleh manusia yang menyebut dirinya pencinta alam atau pendaki. Tak ada gunung yang sepi, hampir hilang mitos mengenai hutan yang angker. Semua karena manusia.

Seorang teman pernah mengirimi saya SMS yang isinya kira-kira mengatakan bahwa justru pendaki adalah perusak alam yang bersembunyi di balik nama pencinta alam. Singkat cerita, dia "gerah" dengan para pendaki. Ulah mereka di gunung tidak mencerminkan diri sebagai pencinta alam. Saya pikir-pikir ada benarnya juga perkataan teman saya. Saya yang juga mempunyai hobi mendaki dan ketertarikan kepada gunung dan keindahannya seringkali menemui sisa-sisa vandalisme liar. Bebatuan besar hitam bisa menjadi warna warni dengan tulisan-tulisan yang pada umumnya menyebut nama diri, nama komunitas, atau sekedar say love buat pacar. Banyak lagi aksi mereka yang merugikan, seperti membuang sampah plastik sembarangan dan mencemari air sumber atau sungai dengan sabun. Apakah mereka bangga dengan sikap seperti itu? Hanya para pelakunya yang tahu.

Samakah pendaki gunung dengan pencinta alam? Apa makna sesungguhnya di balik kata "pendaki" dan "pencinta alam"? Pendaki menurut saya lebih identik dengan mereka-mereka yang suka menapaki tanah-tanah gunung hingga puncak. Dari satu gunung ke gunung lain. Mencari pengalaman bahkan tantangan. Manfaatnya akan berbeda-beda tergantung bagaimana mereka memaknai sebuah pendakian. Mendaki gunung adalah salah satu aktivitas olagraga outdoor. Kawan-kawannya adalah susur gua, susur pantai, panjat tebing, rafting, diving, terjun payung, dan sebagainya. Sedangkan pencinta alam biasa diidentikkan dengan sebuah komunitas atau organisasi dengan kegiatan-kegiatan lingkungan hidup maupun aktivitas outdoor adventure. Padahal seharusnya semua orang harus menjadi pribadi pencinta alam. Kita semua sama-sama tinggal di bumi, di alam yang telah Tuhan sediakan untuk kita, manusia. Tergabung atau tidaknya kita di komunitas PA bukan menjadi tolak ukur pengabdian kita pada bumi. Pelajar, mahasiswa, guru, tukang becak, menteri, presiden, pendaki, dan sebagainya adalah orang-orang yang WAJIB mencintai alam. Pencinta alam belum tentu seorang pendaki, tapi seorang pendaki HARUS menjadi pencinta alam.

Pendaki-pendaki tercinta, mendakilah dengan santun! Para penikmat alam, nikmatilah alam dengan santun!

SAVE OUR FOREST - SAVE OUR EARTH

Nurul.Aneh

02 Juni 2009

Surabaya-Porong (Kencan tak Romantis)

Rata Penuh

“Hahaha… edan!” mz Kohan mengatakan hal itu di sebelahku saat kami sedang berjalan kaki di trotoar jalan raya Sidoarjo.
“Katene nang endi (mau ke mana)?” tanya ibuku sebelum aku berangkat.
“Nang Porong Buk, mlaku-mlaku ambek mz Kohan (ke Porong Bu, jalan-jalan ama mz Kohan),” jawabku saat itu.
“Laopo panas-panas mlaku-mlaku. Ati-ati! (ngapain panas-panas jalan-jalan. Hati-hati!)” jawab ibuku.

Seandainya kami sepasang kekasih, kami adalah pasangan kekasih yang paling tidak romantis di dunia. Mz Kohan sebagai pasangan lelaki yang paling tega terhadap pacarnya, dan aku adalah pasangan cewek gila yang mau-maunya diajak edan. Untungnya kami bukan pasangan kekasih. Ya… ini karena kami memutuskan untuk ke Porong naik mersikil alias jalan kaki. Sebenarnya ini adalah ide mz Kohan sejak lama dan baru terlaksana Sabtu, 30 Mei 2009 bersamaku. Kenapa aku ikut? Mungkin karena kecewa tidak jadi mendaki ke Lawu dan mungkin juga aku sudah tertular virus edan mz Kohan.

“Mission started. Aku berangkat.” itu isi SMS mz Kohan kepadaku sekitar pukul 05.40 a.m. Saat itu aku masih asik telpon-telponan dengan seseorang di Jakarta sana ^_^. Semalam saat nongkrong di kampus UNESA tiba-tiba pikiran untuk mewujudkan keinginan itu timbul Aku telah menyanggupi ikut dengannya, tapi aku start dari Sidoarjo saja karena rute Surabaya-Porong tentulah melewati jalanan dekat rumahku.

Pukul 09.40 a.m aku berangkat berjalan kaki menuju SMAN 1 Sidoarjo, sekolahku dulu, di mana mz Kohan sedang menungguku untuk menemaninya ke Porong. Akhirnya dia tiba juga di Sidoarjo. ^_^. Untuk apa kami melakukan misi ini? Tenang saja, kami punya jawabannya. Ini bukan perjalanan tanpa arti kok.
Alasan itu antara lain:
1. Memperingati 3 tahun keluarnya Lumpur lapindo (29 Mei),
2. Memperingati ulang tahun kota Surabaya (31 Mei), dan
3. Mengisi buku harian JPers Surabaya dengan cerita-cerita unik dan menyenangkan.
Nggak ada yang salah kan dengan alas an kami? ^_^

Walaupun Porong masuk ke dalam wilayah kabupaten Sidoarjo, tapi menuju ke sana juga sangat melelahkan. Berbeda dengan mendaki gunung di mana kita akan menyaksikan pemandangan indah khas pegunungan yang mendinginkan kalbu walau kaki sudah panas, berjalan di kota ruwet kita akan merasakan fenomena masyarakat sebenarnya. Mulai dari macet, polusi, trotoar untuk pejalan kaki yang berubah fungsi menjadi tempat orang berjualan berbagai macam barang atau jajanan.

Sekitar 15 km kami tempuh. Mz Kohan yang sudah berjalan dari pagi nampak lelah, aku masih fit karena baru memulai perjalanan. Ngobrol ngalor ngidul, duduk sana-sini, foto malu-maluin, dan beli jus buah adalah sekilas apa yang kami lakukan di jalan. Aku tak lupa memakai payung yang dibawa mz Kohan. Semakin lama semakin panas. Kadang kami masih menyempatkan posting di facebook. Barulah sekitar pukul 1 siang bendungan Lumpur lapindo mulai tampak. Akhirnya.. sebentar lagi sampai..!

Mz Doifani sebagai tim penjemput sudah menunggu daritadi. Berturut-turut mz Hero dan Tias juga datang. Kami ngeteh di warung pinggir jalan. Mendinginkan tenggorokan, menyelonjorkan kaki. “Naik motor cepet kok jalan,” ejek mz Hero dan mz Dhoi pada kami sambil tertawa riang. “Yee behno, lapo pean nyusul mrene hayoo (biar, ngapain kalian nyusulin ke sini)?!” balasku ga mau kalah. Toh tadi pagi Mz Dhoi juga sempet mau ikutan jalan kaki, hanya saja dia terlambat. Wkwkw…! Kami akan naik ke atas tanggul kalau Mz Wahyu sudah datang. Sekarang kami minum es buah dulu ^_^.

Menjelang ashar mz Wahyu datang, lalu kami naik ke tanggul dengan ditarik biaya masuk Rp 5.000,- per motor. Menyisir sisi barat tanggul Lapindo sudah cukup bagi kami karena jika ingin masuk lebih jauh ke sisi timur harus bayar Rp 5.000,- lagi. Ah tidak!! Cukup di tempat itu kami berhenti, duduk, ngobrol, mengibarkan banner JPers, foto, dan memandangi genangan air dan lumpur. Untung sudah sore jadi tidak terlalu panas, bahkan semilir angin sedikit menyegarkan kami.

Tidak berlama-lama kami kembali ke Sidoarjo dan mampir ke warung nasi belut dan nasi wader. Mz Dadang yang tadinya tidak ikut ke Porong akhirnya menyusul ke Sidoarjo. Ada saja tingkah Hero yang menggelitik sore itu. Dia tidak mau makan nasi belutnya karena tidak ada kecap. Akhirnya ia pergi dulu survival kecap entah ke mana, barulah dia mau makan. Dasar Hero aneh!

“Selamaaaatttt.. anda sukses jalan sampai Porong!” itu yang sempat aku dengar dari mulut mz Hero saat ia menyiramkan segelas teh hangat sisa minumku tadi ke badanku. Ah lagi-lagi dikau mengerjaiku. Tapi terima kasih ya udah mau menjemputku dan mz Kohan. Terima kasih JPers Surabaya. Satu lagi cerita-cerita unik tertulis di diary kita.

Pulang (NU Bag.III)

Sekitar pukul 5 p.m kami (kecuali mami Ayu) tiba di rumahku di Sidoarjo. Pelangi warna-warni nampak indah di sisi tenggara menyambut kedatangan kami dari Malang. Ibu mempersilahkan kami masuk dan menyuguhkan minuman hangat buat kami yang baru berbasah-basahan dengan hujan. Kami saling bercerita mengenai keunikan motor Hero selama perjalanan pulang tadi.

Setelah berpisah dengan teman-teman di Cangar kami (aku, Tias, Kohan, Hero, Udin, Dadang, Doifani, Gentong dan mami Ayu) harus segera kembali ke Surabaya dan Sidoarjo. Rute yang akan kami tempuh kira-kira seperti ini: Cangar-Pacet-Mojosari-Sidoarjo-Surabaya. Saat itu hujan yang awalnya rintik-rintik bertambah deras. Jalur Cangar-Pacet adalah jalanan aspal naik turun berbelok-belok dengan kanan kiri vegetasi hutan tropis yang masih hijau lebat. Hero yang terbiasa ngebut dengan motornya saat itu sedikit terhambat dengan adanya hujan. Ban motornya tidak cocok dengan jalanan basah. Aku yang diboncengnya jadi sedikit ketakutan. Terbayang jika tiba-tiba hero lengah, ban selip, dan kami terjatuh dalam jurang-jurang pinggir jalan itu. Naudzubillah….

Tuhan Maha baik kok. Kami semua masih diberi keselamatan. Walaupun aku, Hero, dan Tias basah kuyup karena hujan dan tidak membawa raincoat. Kami memutuskan untuk makan siang dulu di Pacet sembari menunggu hujan deras itu reda. Sekitar satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju arah Mojosari. Seperti biasa Hero dan aku di depan, mami Ayu di barisan ke dua, kemudian yang lain beriring-iringan menyusul di belakang. Suatu kali Hero berhenti di pom bensin, yang lainpun berhenti. Setelah istirahat dan sholat kami melanjutkan misi pulang ini. Ternyata dari situlah awal keunikan motor Hero terjadi. Mami Ayu melesat cepat di depan, motor Hero ngambek. Berhenti seketika. Tidak bisa distarter. Lalu dibetulkan sebentar – jalan – mogok lagi. Dan akhirnya sang pahlawan bengkel (Gentong dan Doifani) turun tangan tepat di depan sebuah masjid di daerah Mojosari. Entah diapakan, apa yang macet, atau bagaimana, sebagai seorang cewek yang nggak ngerti mesin, aku hanya bisa menunggu, begitu juga teman yang lain.

Lebih dari setengah jam akhirnya motor Hero bisa jalan lagi. Kami lanjut perjalanan. Namun, motor Hero masih ngambek, tidak mau jalan. Lagi-lagi kami berhenti dan mereka bertiga (Hero, Doifani, dan Gentong) membetulkan motor di depan sebuah bengkel. Sekitar setengah jam kami menunggu. Dan nampaknya Hero sedikit capek menangani motornya. Sedari tadi awal motornya mogok, tak sekalipun ia melepas helemnya. Kenapa rO?

Motor jalan…. Tapi setiap beberapa kilometer pasti motor ini berhenti alias ngambek alias mogok. Tinggal membuka penutup bensin sebentar lalu ditutup lagi distarter lagi motorpun jalan lagi. Hal ini terjadi berulang-ulang hingga tiba di rumahku. Berapa kali mogok ya? Mungkin lebih dari 10 kali. Kasihan.. Tapi jadi bahan tertawaan! ^_^

Ah.. JPers!! Ada-ada saja polah tingkah dan pengalaman unik. Pelangi itu suka dengan persahabatan kita, karena itu dia menampakkan diri, agar kita melihat warna-warninya, agar persahabatn kita penuh warna, insya Allah.

Tour de Cangar (NU bag. II)

Malam itu kami terlelap di rumah Mz Tovik di Batu, Malang. Udara yang dingin memberikan kenikmatan tersendiri dalam menikmati hangat sleeping bag kami masing-masing.

Keesokan paginya seperti biasa kamar mandi menjadi rebutan sekitar +/-20 orang dari JPers Jatim dan teman-teman dari Jakarta. Pagi itu kami tidak membeli makanan di warung, tetapi mami Ayu berinisiatif memasak buat kami semua. Beberapa orang ikut membantunya (saya tidak), alhasil jadilah pagi itu kami menyantap sarden, sambel terong pedas, oseng tempe, dll.

Sebelum pukul 10 a.m kami sudah bersiap berangkat ke Cangar, mau mandi air panas, berendam. Sebagian naik mobil dan sebagian yang lain iring-iringan naik motor. Menikmati bukit-bukit yang sebagian telah menjadi perkebunan, jalanan menikung dan naik turun, pemandangan indah menemani kami sampai di wisata air panas Cangar. Tiba di sana semua menjadi agak kikuk karena ramainya orang. Apa boleh buat, ini tempat umum, mau tidak mau ya kami harus berbaur. Rugi dong udah datang jauh-jauh, bayar lagi.. fiuuhh…!!

Kolam air panas jadi sasaran pertama JPers dan SIOUX. Hanya beberapa orang saja yang tetap di atas karena mengemban tugas mengabadikan tiap-tiap momen penting kegilaan kami. Cebur-ceburan ramai sekali di kolam sempit itu. Saling tarik-menarik dan dorong mendorong adalah kebiasaan manusia-manusia ini. Termasuk ketika saya masih bersantai duduk di pinggir kolam, Hero menarik saya hingga “Byuurr…!!”. Cekrik..cekrik..cekrik.. suara kamera mengambil gambar. Fuihh….!

Tak puas di satu kolam saja kami pindah ke kolam lain yang terlihat lebih luas dan bersih. Rupanya kolam biasa (enggak panas) dengan kedalaman 1,5 meter. Aksi tarik-menarik masih terjadi. Tias yang sedari tadi memutuskan tidak berenang akhirnya menjadi korban keganasan mereka. Mau tidak mau yah basah . Yang di atas melemparkan koin atau barang apapun sejenisnya, dan yang di dalam kolam berebutan mencari. Gendong-gendongan sesama teman di kolam begitu menyenangkan. ^_^

Sudah tengah hari saat Mz Aji menginstruksi kami agar segera bersia-siap pulang. Saatnya kami kembali ke peraduan masing-masing . Temen-temen SIOUX harus kembali ke Jakarta, JPers Jatim harus kembali ke rumahnya masing-masing. Hiikkss…. Tak terasa waktu yang singkat ini memberikan kesan sangat hangat di hati yang akan selalu tersimpan sebagai memori-memori unik bersama kawan cyber. Luv you all…!!

28 Mei 2009

TRUST HIS HEART

Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka.

Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk didewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup.

Anak laki-laki tersebut di bawa jauh menuju hutan yang paling dalam. Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan dibuka, dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.

Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri, begitu gelap dan ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala, bunyi dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau menangis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut.

Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari tubuhnya.

Cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi siap menembakan anak panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya. sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.

Dalam mengarungi kehidupan ini, sepertinya Tuhan "begitu kejam" melepaskan anak-anakNya kedalam dunia yang jahat ini. Terkadang kita tidak dapat melihat penyertaanNya, namun satu hal yang pasti Ia setia, Ia mengasihi kita, dan Ia selalu berjaga-jaga bagi kita


God is Too wise to be mistaken.
God is too good to be unkind
So,
When you don't understand And
When you can't see His plan And
When you can't trace His hand
TRUST HIS HEART

Mengatasi Gangguan Binatang

a. Nyamuk
Obat nyamuk, autan, dll
ombal dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk. Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk.

b. Laron
Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan

c. Lebah
Oleskan air bawang merah pada luka berkali-kali
Tempelkan tanah basah/liat di atas luka
Jangan dipijit-pijit
Tempelkan pecahan genting panas di atas luka.

d. Lintah
Teteskan air tembakau pada lintahnya
Taburkan garam di atas lintahnya
Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya
Taburkan abu rokok di atas lintahnya.

e. Semut
Gosokkan obat gosok pada luka gigitan
Letakkan cabe merah pada jalan semut
Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut.

f. Kalajengking dan lipan
Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar
Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit
Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka
Bobokkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka
Taburkan garam di sekeliling bivak untuk pencegahan.

25 Mei 2009

JAMBORE JEJAK PETUALANG 3

it’s all about the Nature
it’s all about Adventure …
it’s all about You……


JAMBORE JEJAK PETUALANG 3

Sabtu - Minggu, 8 – 9 Agustus 2009
Bumi Perkemahan Ranca Upas, Jl. Babakan Jampang – Cibuni, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat


… Lebih dari Seribu orang Petualang Indonesia berkumpul, bercanda dan berkegiatan bersama untuk memupuk tali persaudaraan, peduli dan menghijaukan Bumi Nusantara..…..

Mountain Bike, Fun Orienteering,
Trekking (Snake Handling, Survival, Obat Alam, Intepretasi Hutan, Fotografi Alam, Jurnalistik Alam), Malam Jejak Petualang, Adopsi Pohon dan Penghijauan, Global Development Village bertema "Bumi Indonesia" , serta Fun Games dengan beragam lomba.....

Persyaratan Peserta :
1. Usia minimal 15 tahun (fotocopy KTP atau kartu pelajar)
2. Sehat jasmani dan rohani
3. Mengisi form biodata peserta
4. Membentuk tim yang terdiri dari 3 orang tim
5. Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 300.000,00 /tim
6. Sanggup menaati tata tertib Jambore Jejak Petualang 3


Fasilitas per orang peserta
1. Kaos kegiatan
2. Gelang Peserta
3. Tanda Peserta
4. Satu kali Snack dan air mineral saat daftar ulang
5. Satu bibit pohon adopsi (jenis bibit telah ditentukan)
6. Biaya masuk lokasi kegiatan
7. Peralatan umum kegiatan
8. Kapling tapak kemah + pemandian air panas
9. Transportasi droping saat pulang dari Ranca Upas ke Kota Bandung

Catatan :
1. Perlengkapan perkemahan dan sarana pendukung perkemahan disediakan sendiri oleh tim peserta
2. Biaya pendaftaran tidak termasuk makan/logistik selama kegiatan
3. Biaya tidak termasuk transportasi keberangkatan dari tempat tinggal ke lokasi di bumi perkemahan Ranca Upas, Ciwidey


PENDAFTARAN peserta akan segera dibuka ….

Nantikan informasi berikutnya di www.jambore.jejakpetualang.org atau milist jejakpetualang@yahoogroups.com

email panitia : info@jejakpetualang.org

Organized by :
member milist jejakpetualang@yahoogroups.com
Jejak Petualang Community (www.jejakpetualang.multiply.com)


Panitia Jambore JP3
Ketua (Campchief),

aji rachmat

Nuansa Ular VI (Bag. I)































"Ular?? Malas ah! Serem. Tau-tau ntar digigit, kena bisa terus mati," kata seseorang ketika kuajak ke Malang untuk mengikuti workshop Nuansa Ular oleh SIOUX (lembaga studi ular Indonesia) yang bekerjasama dengan PT.Otsuka dan Jpers Jatim. Harus dimaklumi bahwa persepsi setiap orang tentang ular berbeda-beda. Ada yang berpersepsi positif, tapi tidak jarang juga yang berpersepsi negatif. Sebagian besar menganggap ular itu menakutkan. Perlu dijauhi dan kalau perlu dibunuh apabila mereka mendekat.

Hal inilah yang ingin diluruskan oleh teman-teman SIOUX. Karena itu diadakanlah Nuansa Ular VI di Malang, Sabtu, 9 Mei 2009. Acara tersebut berupa workshop yang diisi materi kelas dan juga praktek lapangan. Pematerinya adalah instruktur SIOUX dan muscle SIOUX yang sudah berpengalaman dalam masalah yang berhubungan dengan ular. Acara tersebut bertempat di Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang. Pagi itu panitia sempat terkejut mendapati bahwa peserta Nuansa Ular melebihi target yang diharapkan. Dari 75 target, ternyata peserta yang daftar hingga 85. Makalah yang sudah disiapkan harus diperbanyak lagi. Namun ini bukanlah sebuah musibah. Justru dengan begini tujuan SIOUX akan dapat diterima masyarakat luas dengan cepat.

















Acara tersebut dimulai sekitar pukul 09.15 WIB. Langsung materi oleh Mz Aji dan muscle yang lain. Peserta workshop nampaknya sangat tertarik dengan penjelasan-penjelasan mengenai ular. Mereka antusias mendengarkan dan juga bertanya. Suasanan di ruangan itupun tidak kaku. Tidak jarang derai tawa muncul ketika pemateri mengatakan sesuatu yang lucu. Apalagi ditambah dengan adanya hadiah-hadiah bagi mereka yang aktif berpartisipasi dalam bentuk tanya jawab pertanyaan. Menjelang dhuhur waktu ishoma pun tiba. Peserta diberi fasilitas makan dan minum gratis (kan udah bayar di muka :p). Banyak peserta yang mengerubungi beberapa ular yang dipajang di luar ruangan. Mereka tertarik untuk bertanya dan juga foto-foto dengan ular-ular lucu tersebut.

Setelah ishoma, worksop pun dilanjutkan. Kali ini bentuknya bukan materi kelas, tetapi praktek lapangan. Tim SIOUX ingin menunjukkan bahwa sesungguhnya ular itu tidak takut garam. SElain itu tim SIOUX juga menunjukkan bebrapa ular mulai dari yang tidak berbisa, berbisa menengah, bahkan sampai yang bisanya tinggi. Ada sebuah peristiwa menarik yang menunjukkan keberanian seseorang dalam hubungannya dengan ular. Seorang mahasiswa peserta workshop asal FKH Unair Surabaya digigit oleh ular piton ketika berusaha menangkapnya. Namun tidak perlu khawatir, tim SIOUX akan sigap menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan ular.






















Acara ini berakhir setelah Ashar. Semuanya nampak senang telah mendapatkan ilmu yang baru, dan diharapkan dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. pikiran negatif tantang ular perlu ditepis, yang penting punya ilmunya semua akan beres, insya Allah. Mba Riri yang sedari tadi sibuk membuat sertifikatpun nampaknya lega. Acara hari itu selesai dengan sekses sembari melebarkan harapan untuk melindungi ular. Jangan Bunuh Ular!!

06 Mei 2009

Nobar di Ranupani

TNBTS, 2 dan 3 Mei 2009






Sore itu setelah Ashar Pak Khobir selaku kepsek SMAN 4 Probolinggo melepas kepergian kami ber-14 ( PA SMAN 4, JPers Sby, dan 2 guru pembina PA) ke desa Ranupani di kaki Gunung Semeru untuk melaksanakan agenda kegiatan “Nobar Laskar Pelangi” yang digagas oleh teman-teman PALAPA (Penggiat Alam SMAN 4). Waktu pemberangkatan ini ngaret satu jam dari jadwal semula. Dan hal ini berdampak pada waktu tempuh kami menuju ke sana.


Karena kurang terbiasa dengan medan jalan naik turun dan menikung di sepanjang perjalanan agaknya perjalanan jadi lebih lambat. Mungkin juga ada faktor dari kendaraan yang tidak bisa diajak kompromi. Apagi ketika kami memasuki kawasan lautan pasir Bromo. Nampaknya teman-teman semakin kesusahan. Tidak jarang si driver menyuruh penumpangnya untuk turun dan berjalan kaki. Namun, tidan begitu dengan aku yang dibonceng mz Hero dengan motor warna-warninya. Dia melesat cepat seolah driver handal dan nampaknya Mz Hero sangat menikmatinya. Aku?? Ya… aku tak bisa bohong kalau agak takut juga dengan cara menyetir mz Hero yang ngebut dan meliuk-liuk. Dan aku hanya bisa pasrah. Namun jujur aku menikmati juga sensasi menyenangkan dan menegangkan itu.

Menjelang Isya kami baru tiba di desa Ranupani, rumah Bu Nunuk tepatnya. Setelah shalat teman-teman PALAPA langsung mempersiapakan peralatan yang dibutuhkan untuk acara nobar tersebut di balai desa setempat, tepatnya di belakang Rumba (Rumah Baca). Aku, Mz Hero, dan Mz Dhoi masih asik menghangatkan diri di rumah Bu Nunuk. Setelah acara dimulai barulah kami ke sana dengan berbekal sleeping bag, maklum udara sangat dingin.


Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Agaknya terlalu malam memutar film yang berdurasi dua jam di desa yang udaranya sangat dingin tersebut. Awalnya balai desa tersebut dipenuhi warga mulai dari yang kecil, pemuda-pemudi, hingga yang tua-tua. Mereka begitu antusias melihat film Laskar Pelangi tersebut walau udara dingin begitu menusuk. Kadang mereka tertawa, kadang ada sepi, kadang juga ada suara rengekan anak kecil yang mengantuk. Di atas pukul 21.00 WIB satu persatu warga mulai berjalan pulang. Maklumlah hari sudah malam dan mereka harus beristirahat. Kebiasaan di desa tidak sama dengan kebiasaan di kota yang warganya bisa nonton film atau kelayapan hingga larut malam. Hingga film tersebut berakhir terhitung masih ada sekitar 17-an warga yang masih bertahan. Harapan PALAPA, khususnya, dan harapan kami, umumnya, semoga acara ini bisa menambah semangat belajar anak-anak Ranupani, dan semangat untuk terus melanjutkan pendidikan seperti tokoh Lintang yang selalu bersemangat pergi ke sekolah walau rumahnya sangat jauh dan jarak itu ditempuhnya dengan bersepeda melewati berbagai halangan.

Dan malam itu kami terlelap dalam sleepeing bag masing-masing. Zz..zzZzz….!

Esok paginya kami ber-11 berjalan-jalan ke danau/ Ranupani dan Ranu Regulo. Waktu ke Ranu Regulo kami tak melewati jalan biasanya. Jadi kami mengambil arah menaiki bukit dan akhirnya agak nyasar-nyasar dikit. Namun untungnya pemandangan yang kami dapat begitu indah. Jadi lumayanlah untuk mengobati lelah kami. Setelah di atas bukit ternyata tidak ada jalan turun ke arah danau. Dengan nekat karena kami tidak mau "balik kucing" kami menuruni bukit itu ke arah danau sambil sedikit "nyasak-nyasak". Padahal waktu itu aku memakai rok yang tidak longgar! Susahnya melewati semak-semak kala itu. namun bersyukur kami semua menikmati perjalanan itu, hitung-hitung olahraga jelajah alam.





Setibanya di Ranu Regulo kami langsung foto-foto. Termasuk foto khusus JPers. Tidak kuduga Mba Devim dan Mz Doi begitu jahilnya langsung menarikku dan menceburkanku ke danau tersebut. Terjadi adegan tarik menarik di antara kami. Teman-teman dan guru SMAN 4 hanya melihat dan tertawa. Sesekali mereka mengambil gambar kegilaan kami. Jadi deh mereka menjahili aku dan menceburkanku sebanyak tiga kali di danau tersebut.
Setelah dari Ranu Regulo kami beranjak kembali ke rumah bu Nunuk. Berharap sampai di sana aku segera berganti pakaian dan makan pagi dengan nasi hangat. Badanku sudah kedinginan gara-gara ulah mereka. Namun tidaku kusangka, ketika aku tiba di depan balai desa Ranupani Mz Hero datang dan langsung menarikku ke danau Pani (Ranupani). Aku meronta-ronta sekuatnya, tapi Mz Doi dan Mba Devim malah membantu Mz hero menjahiliku lagi. Hikkkss.... dua kali diceburin di Ranupani. Total pagi itu aku mandi di danau sebanyak lima kali. Dingiiinnnn....!!! Tak rela dengan perlakuan Mz Hero aku, Mba Devim dan Mz Doi mengambil lumpur dan mengotori Mz Hero yang kayaknya juga belum mandi.





Sekitar pukul 11 siang kami pamitan pulang kepada Bu Nunuk dan Pak Ingot. Kalau kemarin kami berangkat lewat Bromo kali ini kami pulang lewat Senduro, Lumajang sembari menikmati lebatnya hutan dan pohonan tinggi yang berkanopi-kanopi. Saat itu aku ngantuk sekali.... Tak lama kemudian aku tertidur. ZZ...zzzZZ..ZZ...!