04 Januari 2010

Pendaki Nekat, Pendaki Egois

Salah satu hobi saya selain makan dan tidur adalah mendaki gunung. Kegiatan ini sudah saya lakoni sejak empat tahun lalu saat kelas I SMA dan tergabung dalam organisasi pecinta alam. Pokoknya sejak saat itu saya suka sekali mendaki, ikut-ikutan milist, tambah-tambah teman mendaki, baca-baca catatan perjalanan orang baik di buku maupun blog. Semua itu saya maksudkan untuk menambah wawasan saya mengenai dunia yang saya cintai ini.

Dari banyak membaca, mendengar, dan melihat itu memang banyak ilmu yang saya dapatkan. Namun ternyata tidak sedikit juga kejanggalan-kejanggalan yang saya temukan, yaitu tentang keegoisan. Padahal sejatinya para pendaki akrab dengan kata membuang jauh-jauh keegoisan dari dalam diri. Namun, masih banyak juga pendaki egois yang tidak merasa bahwa dirinya egois. Salah satu bentuk ketidaksadaran itu bisa berupa kenekatan tanpa persiapan yang matang saat mendaki.

Salah satu contoh adalah alm.Hanafi yang tanggal 17 Desember kemarin meninggal di Semeru saat mengikuti acara napak tilas So Hok Gie. Menurut berbagai cerita yang saya dengar di sana, ada yang menyebutkan bahwa Hanafi meninggal karena hipoxia dan hipotermia, ada juga yang bilang karena kondisi fisik yang tidak bagus tapi tetap memaksakan diri dan tidak memberitahukan kepada orang lain termasuk panitia. Menurut saya mungkin saja Hanafi berpikir kalau ia mengadu sakit dia tidak akan bisa sampai ke puncak, mungkin juga dia berpikir tidak ingin merepotkan orang lain, dsb yang hanya diketahui sendiri olehnya. Sadar atau tidak ini adalah bentuk keegoisan pada diri sendiri dengan mengabaikan keselamatan. Sebenarnya banyak kasus seperti ini yang kadang terjadi pada diri kita dan tidak kita sadari. Berusaha mendaki hingga puncak, padahal puncak bukanlah tujuan akhir perjalanan.

Beberapa hari setelah itu ada juga yang tersesat di Gunung Panderman dan terperosok ke jurang hanya gara-gara kenekatan. Kalau tidak salah namanya Imam. Awalnya dia dan rombongannya bertemu dengan rombongan pendaki lain saat turun. Karena ingin cepat sampai bawah ia mengikuti jalan pintas yang diberitahukan rombongan yang naik tadi, tapi sebelumnya Imam dkk belum pernah lewat jalur tersebut, dan tersesatlah mereka. Jurang menghambat mereka di tengah jalan dan Imam nekat menuruninya padahal sudah dilarang oleh teman-temannya. Hasilnya ia terperosok dan patah tulang kaki bagian kanan.

Oya September lalu saya naik Gunung Lamongan di Lumajang, Jatim (maaf contoh lagi). Tidak terlalu tinggi memang, hanya sekitar 1600-an mdpl dan cuma butuh 4 jam untuk mencapai puncaknya. Waktu itu saya berbarengan dengan rombongan dari Lamongan sekitar 40 orang. Nampaknya masih SMA. Mungkin dari sispala. Saya melihat mereka diajak berjalan malam dan tiba di Pos Watu Gede tempat saya dkk mendirikan tenda kira-kira pukul 12 malam, mungkin lebih. Lalu tidak tidur dan pukul 2 dini hari melanjutkan perjalanan dengan harapan saat fajar mereka sudah tiba di puncak. Saya masih tidur waktu itu dan merasa terganggu dengan keramaian yang mereka buat. Yang ada di pikiran saya saat itu kenapa adik-adik pendaki ini diajari kakaknya untuk berjalan di malam hari, kayak babi hutan aja. Hehe.. Lalu saat turun baru saya tahu sebagian dari mereka cuma memakai sandal, celana pendek, dan kaos pendek. Padahal jalur di situ didominasi bebatuan lepas yang lumayan menyulitkan. "Kasihan adik-adik ini," pikir saya.

Sedih kan kalau mendengar cerita seperti itu? Sangat disayangkan bila hal ini terus-terusan terjadi. Sangat disayangkan kalau masih banyak pendaki yang mendaki tanpa persiapan yang memadai baik fisik, mental, dan perbekalan. Dan sangat-sangat disayangkan kalau pendaki hanya berpikir bahwa puncak adalah adalah tujuan akhir, puncak adalah tujuan terpenting. Makna mendaki gunung tidak terbatas pada puncak, bisa melalui kebersamaan, pengalaman, pelajaran, dan kesederhanaan.

Saya mungkin cuma pendaki cupu yang baru kenal dunia pendakian kemarin sore, tapi saya ingin menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Saya sadar bahwa saya bukan orang yang tidak egois, tapi saya ingin belajar menundukkan keegoisan ini. Mari belajar bersama-sama dan saling mengingatkan.

Teringat kalimat dari Mbah Jarody, "Gunung mempertemukan kita semua". Juga kalimat bijak dari mas Wiwid, "Keberhasilan sebuah pendakian bukanlah saat puncak bisa didapat, tapi bagaimana bisa kembali dengan selamat".

31 Desember 2009

Ranu Kumbolo yang Memanggil

Minggu, 20 Desember 2009

Hangat sekali rumah Pak Buhari, tahu-tahu sudah pagi saja. Kami sarapan nasi goreng buatan tuan rumah dan mulai berkemas. Tidak lupa juga memasukkan 12 biji kentang rebus yang Om Don pesankan pada tuan rumah untuk kami. Wah.. berat juga nih keril (punya Mz Arief sih yang berat, saya mah ringan). Tak lama kamipun berpamitan pada tuan rumah. Melapor sebentar dan tuk.. tuk.. tuk.. kami berjalan selangkah demi selangkah menuju Ranu Kumbolo yang kami rindukan.

lelah

Sedikit terik di awal perjalanan, tapi tak terasa karena setapak menuju Pos I ternyata sangat rimbun. Udara kembali dingin dan sesekali kabutpun lewat. Entah kenapa fisik ini sedikit susah diajak kompromi. Telapak kaki saya sakit dan badan agak lemas. Di setapak paving blok itu saya sempat istirahat dan berbaring. Mz Arief bertanya apakah saya masih sehat. Seandainya saya memang sakit lebih baik tidak dilanjutkan. Saya jadi bimbang juga. Mungkin pengaruh terlalu banyak makan dan tidak pernah berolahraga. Pikir punya pikir akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Sayang kan sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak ke Kumbolo. Sungguh pemikiran ceroboh dan egois. Itulah yang mendasari kematian salah seorang pendaki beberapa hari sebelum kami, yaitu memaksakan diri. Tidak begitu dengan pikiran saya, saya hanya merasa sedikit kelelahan di awal perjalanan, dan saya yakin akan membaik nantinya. Sepatu yang tadinya saya pakai diganti dengan sandal jepit punya Mz Arief, sedikit kegedean. Tapi tak apalah.

Perlahan-lahan kami berjalan dan istirahat dengan tempo sesuka-suka kami. Jika lelah kami istirahat, jika lapar kami makan, nongkrong, ngobrol, bahkan mencari buah arbei kesukaan saya. Memang kami sangat lambat di awal perjalanan ini. Dari pos lapor Ranupani pukul 9 dan baru tiba di Pos I kira-kira pukul 10.50. Hampir dua jam kan? Sangat lama. Hehehe... Tiba di Pos I kami berdua langsung makan kentang rebus ditambah biskuit buat tambahan tenaga. Lumayan lama juga kami istirahat di sini. Kira-kira 15-20 menitan, baru kami jalan lagi.

Dari Pos I kemampuan fisik saya sudah membaik. Kami sudah berjalan normal lagi bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Bertemu dengan beberapa pendaki lain yang turun dan saling melempar senyum. Sungguh kebiasaan menyenangkan ketika mendaki gunung. Menyamaratakan manusia dengan status saudara, tak melihat kaya atau miskin, suku, dan agama. Cepat rasanya kami tiba di Pos II. Tepat pukul 11.40. Lalu saya langsung apdet status di fb. Suasana lebih berkabut dari sebelumnya. Hawa dingin mulai menyerang. Istirahat 10 menit, lalu lanjut jalan lagi.

burung yang selalu mengikutiku

Dari pos II ke pos III lumayan jauh. Hikss... Sudah jauh, eh kami malah asik berfoto-foto di jalan. Tentu saja ini mengulur waktu. Apalagi saat itu kami sempat bertemu beberapa kera yang melompat-lompat di pohon. Lalu ada juga burung (entah burung apa) yang selalu berjalan di depan kami, seolah-olah ingin ikut dengan kami. Malah bergaya dia saat difoto. Burung yang aneh! Entah pukul berapa kami tiba di pos III. Mungkin sekitar setengah satu siang. Di sini kami makan siang ditemani gerimis yang mulai turun. Kami pikir ini bukanlah pendakian dengan target, jadi nyantai, nyaman, aman, dan senang adalah prioritas kami. Tak disangka-sangka kami bertemu tiga orang teman dari Jakarta yang saya ceritakan sebelumnya. Obrolan demi obrolan berlalu begitu saja membuat kami lebih lama di pos III. Mungkin sejaman kami di sana. Hari semakin sore dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo sebelum hujan datang. Langit mendung, kadang terdengar gemuruh, rintik-rintik hujan pun kadang menyapa.

motretin bunga

Mempercepat langkah agar segera sampai di Ranu Kumbolo nyatanya sia-sia saja. Ketika danau indah itu mengintip kami dari kejauhan, kami seolah-olah tersihir dengan keelokannya. Mz Arief tak lagi menyimpan kameranya di dalam tas. Jepret sana-jepret sini layaknya seorang fotografer handal. Ilmu dari Om Don diterapkannya (hehe). "Aku bosen motretin peri terus, mosok modelku siji thok," katanya pada saya. Saya cuma bisa nyengir. Ranu Kumbolo semakin jelas, tapi semakin lama pula kami tidak segera sampai. Apalagi setelah turunan dan kami menemui bunga-bunga yang merekah indah. Bak kemarau merindukan hujan, itulah gambaran sikap kami. Langit putih mendung, tapi keadaan sekitar masih cerah. Barulah kegiatan bernarsis ria ini kami akhiri ketika kabut pekat tiba-tiba datang dan tak mau pergi. Tiba di pondokan barulah turun hujan padahal belum sempat kami mendirikan tenda. Akhirnya kami tiba di Ranu Kumbolo..... Ranu Kumbolo yang berkabut.. Ranu Kumbolo yang dingin.. Ranu Kumbolo yang romantis..


bersambung ^_^

Berjumpa dengan Om Don Hasman di Napak Tilas Soe Hok Gie

Sabtu, 19 Desember 2009

Pagi di hari kedua saya memaksa Mz untuk menemani saya jalan-jalan ke Ranu Regulo, sekalian saya ingin melihat seberapa ramai peserta napak tilas Gie yang camp bersama di Ranu Regulo. Sambil gemetaran ia menemani saya, tak tega rasanya. Terima kasih ya Mz. ^_^

Selepas bersantap pagi di rumah Bu Nunuk kami sudah siap memulai perjalanan indah ini. Mulai meniti langkah dengan beban di punggung. Lalu nampak seorang bapak tua baru keluar dari rumah sederhana di depan Musholla. Kami saling melempar senyum dan bersalaman. Berkenalan.

”Nurul,” kata saya.
”Don,” jawab beliau.
”Don Hasman ya?” timpal mz Arief dengan nada cepat dan tekanan tertentu.
Akrablah kami bertiga dengan obrolan ringan. Beliau bertanya tentang tujuan kami dan kami jawab dengan jujur hanya akan camp di Kumbolo.
”Sudah, tunda saja besok. Ini acara puncak. Bang Herman lagi di perjalanan,” kata Om Don.


Wah-wah... saya dan Mz saling pandang antara bingung dan tidak percaya. Tapi akhirnya kami tetap disandra Om Don untuk mengikuti acara puncak napak tilas. Dengar-dengar ada Nicholas Saputra dan Mira Lesmana yang sedang jalan-jalan ke Ranu Kumbolo. Bang Herman serta beberapa teman kira-kira seangkatan Om Don di Mapala UI sedang di perjalanan. Saya dan Mz ikut saja kemana Om Don pergi. Pertama-tama beliau mengajak kami ke kemah Ranu Regulo, di sana kami dikenalkan dengan banyak orang yang mungkin sudah saya lupakan nama-namanya. Memang menyenangkan bertemu dengan orang besar, dari setiap gerak-geriknya dapat dijadikan pelajaran. Yang seru lagi saya, Om Don, dan Mz Arief sempat menjadi satu tim dan tanding voli. Ternyata kami menang lho.. Semua gara-gara tangan ajibnya Om Don. Di usianya yang ke-69 staminanya tidak kalah dengan yang muda. Percaya atau tidak jika berjalan sangat cepat dan tidak ngos-ngosan. Orangnya cepat tanggap, terbukti ketika motor salah seorang warga jatuh beliau langsung lari memberi pertolongan. Semua orang disapanya, ternyata beliau sangat supel dan peduli dengan orang lain.



Waktunya makan siang dan Om Don mengajak kami kembali ke rumah Pak Buhari tempat Om Don menginap. Beliau juga mengajak kami menginap di sana. Bersama Mz Fay juga kami berempat menikmati santapan nikmat yang disediakan pemilik rumah. Selepas makan siang di sela-sela gerimis yang membasahai tanah Ranupani kami berempat berjalan lagi hendak ke Ranu Regulo, tapi mampir dulu ke guest house mencari bang Herman. Ternyata bang Herman belum datang, tapi di sana ramai teman-teman Om Don dari mapala UI. Wah ternyata ada bang Maman (Abdurachman) dan beberapa teman lain yang dulu ikut mendaki Mahameru bersama Soe Hok Gie. Asik sekali melihat keceriaan perjumpaan sahabat lama itu. Setelah dikenalkan dengan mereka saya dan Mz hanya menjadi penyimak cerita-cerita mereka yang mungkin sarat makna. Kadang ikut tertawa, ikut berfoto juga. Tapi bukan kamera saya ataupun Mz Arief. Mungkin lain kali saya akan memintanya pada Om Don atau Mz Fay jika mereka sudah pulang dari perjalanan panjang ke Merapi Jatim.

Hari semakin sore, kami cabut ke Ranu Regulo lagi, tentu saja untuk ketiga kalinya di hari ini. Wkwkwkw..... Panitia sibuk dengan persiapan acara puncak. Peserta yang tinggal sebagian ikut membantu. Sempat menunggu-nunggu kapan acara ini dimulai, lalu datanglah sosok yang sudah tidak asing lagi, yaitu bang Herman Lantang. Semua menyambutnya dengan ceria, bersalaman dan berfoto. Om Don yang mungkin sudah lama tidak bertemu dengan bang Herman langsung merangkul dan menggandeng beliau kemanapun. Sebuah persahabatan indah nampak di depan mata saya. Sampai menjelang malam bapak-bapak dan ibu-ibu seangkatan Om Don itu masih melepas rindu. Lalu hujan datang lagi. Berteduh kami bersama-sama. Om Don sangat disiplin, menjelang malam beliau mengajak kami kembali ke Pak Buhari untuk makan malam sebelum acara panjang malam itu. Hihi... tau aja Om perut ini sudah lapar. Wuah... di tengah hujan langkah Om Don semakin cepat saja. Saya sih di belakang aja dengan Mz Fay. Tapi Mz Arief yang bisa mengimbangi langkah Om Don ternyata tidak bisa mengimbangi kestabilan nafas. Mz Arief ngos-ngosan. Hahahaha....


Bersantap malam sambil bercengkerama dan Om Don mengajari kami menghargai pemilik rumah. Kami iuran minimal Rp 15.000.-an maksimal terserah. Tadinya malam ini kami hendak bermalam bersama Om Don, tapi Om Don diajak teman-temannya menginap di Malang. Berkali-kali beliau meminta maaf pada kami karena beliaulah yang mengajak kami menginap bersama, tapi malah beliau yang pergi. Tak masalah bagi kami, Cuma kami masih ingin belajar dari orang hebat seperti beliau.

Lagi, malam itu kami ke Ranu Regulo mengikuti acara puncak. Rasanya mata ini sudah lelah, ingin dipejamkan dalam hangat sleeping bag. Dikuat-kuatinlah! Saat tiba ternyata acara sudah dimulai. Sedang acara talk show dan bedah buku. Saya menjadi penonton setia saja. Malas rasanya mau jeprat-jepret mengambil gambar. Pada acara ini juga diberikan penghargaan kepada pahlawan-pahlawan yang dulu ikut dalam penyelamatan Gie dkk. Dilanjutkan dengan acara musikalisasi puisi. Pukul 9 malam saya dan Mz Arief memutuskan untuk pulang ke Pak Buhari, tentu saja bersamaan dengan Om Don dkk yang hendak meninggalkan Ranupani. Acara belum selesai, Nicholas Saputra belum terlihat batang hidungnya. Hukss... Tak apalah, lebih penting bertemu dan hidup sehari dengan Om Don. Akhirnya sampai juga pada ujung perjumpaan. Sampai jumpa Om Don.. Sampai jumpa Mz Fay....


bersambung...

Dari Tumpang hingga ke Ranupani

Jumat, 18 Desember 2009

Adalah hari yang menyenangkan ketika saya tahu seseorang dari sebuah kota di barat pulau Jawa sana akan tiba di Surabaya pagi itu dan akan menemui saya di terminal Bungurasih. Ini adalah hari pertemuan yang kami sepakati sejak beberapa minggu sebelumnya. Mungkin bagi orang lain ini biasa, tapi bagi saya sangat istimewa. Setelah dua bulan kami tidak bersua, kini saatnya kembali mengukir kenangan manis di sebuah tempat indah bernama Ranu Kumbolo.

Setelah beradu pandang dan membagi seulas senyum salah tingkah kami langsung menuju ke Malang dan dilanjutkan ke Tumpang. Di sana sudah menunggu tiga orang teman dari Jakarta. Namun ketika kami tiba di Tumpang mereka baru saja melaju ke desa Ranupani dengan beberapa pendaki lain dari UI. Tinggallah kami berdua yang bingung memikirkan bagaimana caranya bisa sampai desa tersebut. Awalnya kami hendak naik hardtop dengan tarif Rp 450.000,- tapi menunggu hingga tiga jam sejak pukul satu siang seolah tak ada hasil. Tak satupun pendaki yang tiba. Dilema! Tidak mungkin kami berdua carter jeep dengan harga tersebut. Bisa-bisa uang ini habis sebelum turun gunung. Kami bukanlah tipe pendaki kaya yang bisa membayar mahal demi tercapainya tujuan kami. Kami ini sejenis orang kere. Maunya yang murah-murah, asal bisa jalan dan tiba di tempat tujuan.




Seorang bapak paruh baya yang mengaku sebagai salah satu petugas TNBTS tiba-tiba menyapa saya dan memberikan saya saran agar naik ojek saja atau mencari truk sayur di belakang pasar. Tanpa pikir panjang lagi kami langsung mencari ojek, daripada hari semakin beranjak malam dan beranjak naik pula tarif ojek. Sejuk rasanya mata ini memandang yang hijau-hijau. Pepohonan khas hutan tropis dengan lumutan yang memberikan nuansa alami, jalanan berlubang, tidak rata, menanjak, berkabut, seolah-olah semua beradu tuk merebut kekaguman dari hati kami. Tarif Rp 100.000,- per ojek harus kami bayar dengan senang hati sebagai ganti keindahan dan keramahan bapak tukang ojek. Sejam perjalanan akhirnya kami tiba di rumah Pak Ingot. Beliau sekeluarga menyambut kami dengan hangat. Lama kami saling bercerita, baik itu tentang saya, mz Arief, bahkan hingga nostalgia masa muda Pak Ingot dengan Bu Nunuk. Tak terasa hari sudah malam dan kami belum makan. Dengan meminjam motor Pak Ingot saya dan Mz Arief melaju ke Pos Lapor sekadar untuk mencari makan dan melihat bagaimana sih ramainya malam Ranupani dengan pendaki peserta napak tilas Soe Hok Gie. Hahaha... Lucunya tangan Mz Arief gemetaran karena kedinginan. Motor ini jadi tidak stabil jalannya. Di sekitar Pos Lapor banyak yang berjualan makanan. Sebagian adalah penjual musiman, tergantung ramai atau sepinya pendaki. Saya memilih bakso sebagai santapan malam, ditambah bumbu tawa antara saya, mz Arief, pak bakso, dan beberapa pendaki lain. Sedikit hangat untuk malam Ranupani yang dingin.


bersambung...

28 November 2009

Ricuh Berebut Daging Kurban - Agenda Tahunan Masyarakat

Di Indonesia ketika tiba hari raya haji atau hari raya Idul Adha hampir setiap daerah pasti melakukan penyembelihan hewan kurban sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Dan kini saat peradaban sudah semakin maju, agama Islam berkembang pesat, serta tingkat perekonomian sebagian masyarakat yang meningkat tentunya menjadi salah satu faktor meningkatnya kwantitas masyarakat yang menyembelih hewan kurban baik dilakukan di rumah-rumah maupun diserahkan ke masjid-masjid terdekat agar dapat dibagi-bagi secara merata kepada warga yang lebih membutuhkan.

Sungguh teladan yang baik dalam bersikap. Namun, ternyata perasaan miris muncul ketika kita melihat banyak masyarakat yang saling berebut daging dan saling berdesak-desakan yang kita ketahui dari televisi, internet, maupun media cetak. Ini benar-benar fakta yang sangat menyedihkan di balik agungnya suasana lebaran haji. Misalnya saja ricuh pembagian daging di di kantor Pengadilan Negeri (PN) Surabaya di Jalan Arjuno hari yang meskipun tidak sampai menelan korban jiwa, tetapi pasti tidak sedikit wanita, orang tua, dan anak-anak yang terinjak-injak ribuan massa yang saling berebut. Begitu juga ricuh pembagian daging kurban di Masjid Agung Kauman Semarang. Anak-anak menangis karena didorong ribuan warga yang ingin mendapatkan daging kurban. Dan tentu masih banyak lagi peristiwa-peristiwa ricuh pembagian hewan kurban di berbagai tempat.

Melihat dari berbagai peristiwa di atas nampaknya Idul Adha memang menjadi ajang “perbaikan gizi” nasional oleh masyarakat menengah ke bawah dan kemungkinan besar sudah sangat dinanti-nantikan oleh mereka yang jarang atau bahkan tidak pernah makan daging kecuali dengan mengharap welas asih orang yang lebih mampu melalui momentum seperti ini. Seperti yang saya kutip dari Kompas.com salah seorang pengantre bernama Imronah (45) berkata, "Saya rela jauh-jauh datang ke Semarang demi anak saya di rumah agar dapat menikmati daging kurban, mau beli tapi tidak punya uang," katanya. Ini merupakan bukti bahwa mereka (para orang tua) rela antre berlama-lama bahkan saling berdesak-desakan demi anak-anak mereka. Hal lain tentu saja karena kondisi perekonomian mereka yang kurang. Tragis dan menyedihkan!

Sepertinya peristiwa seperti ini sudah menjadi agenda tahunan di Indonesia. Meskipun berkali-kali terjadi dan terulang kembali agaknya sikap antisipasi panitia terasa kurang. Tentu saja tidak sepenuhnya salah panitia kurban karena sebetulnya mereka hendak berbuat baik. Namun, mugkin karena sistem pembagian yang kurang tepat memberi celah warga masyarakat untuk berdesak-desakan. Selain itu masyarakat sendiri bersikap seperti itu karena rasa takut tidak akan mendapat jatah daging. Bagaimanapun caranya mereka harus dapat walaud engan berebut. Mungkin sebaiknya panitia memikirkan cara lain agar hal seperti in tidak terulang di tahun-tahun berikutnya, misalnya dengan pembagian kupon serta pembagian dengan didistribusikan ke daerah warga misalnya ke kecamatan masing-masing, biar warga ini tidak tumplek-blek di satu tempat. Lebih baik sedikit repot dan mengeluarkan biaya tambahan daripada harus ada korban jiwa dan seolah-olah tidak memanusiawikan manusia.
Terakhir bagi kita yang bisa merasakan nikmatnya daging kurban, bahkan mendapat berlebih sampai eneg karena terlalu banyak hendaknya bersyukur bahwa kita masih bisa makan daging baik di saat lebaran maupun hari-hari biasa. Jangan kita serakah dengan meminta daging kurban padahal kita mampu, atau jika kita mempunya rizki yang berlebih kita bisa menjadikannya sebagai ladang untuk berbuat kebajikan kepada yang lebih membutuhkan.

Selamat Idul Adha…… ^_^

11 November 2009

Peraturan Oh Peraturan (UU No.2 Tahun 2009)

Beberapa waktu lalu saya sempat terlupa membawa STNK ke kampus. Saat berangkat sih tenang-tenang saja karena saya tidak tahu. Toh perlengkapan saya semua lengkap, mulai dari motor yang utuh, helm, SIM, dan STNK. Saya baru tahu STNK tersebut terlupa ketika hendak pulang dan akan mengambil motor di parkiran. Wooaaahhh... biasa tarik ulur dulu dengan pak penjaga parkir. Gara-gara itu saat pulang jadi was-was. Bagaimanapun saya kan orang yang taat peraturan lalu lintas. hehehe... (narsis mode on). Di bawah ini ada beberapa sanksi pelanggaran lalu lintas menurut UU No.2 tahun 2009:

1. Setiap pengendara kendaraan bermotor yang tidak memiliki SIM dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 bulan atau denda paling banyak Rp 1 juta (Pasal 281).

2. Setiap pengendara kendaraan bermotor yang memiliki SIM namun tak dapat menunjukkannya saat razia dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 288 ayat 2).

3. Setiap pengendara kendaraan bermotor yang tak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 282).

4. Setiap pengendara sepeda motor yang tak dilengkapi kelayakan kendaraan seperti spion, lampu utama, lampu rem, klakson, pengukur kecepatan, dan knalpot dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 285 ayat 1).

5.Setiap pengendara mobil yang tak dilengkapi kelayakan kendaraan seperti spion, klakson, lampu utama, lampu mundur, lampu rem, kaca depan, bumper, penghapus kaca dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 285 ayat 2).

6.Setiap pengendara mobil yang tidak dilengkapi dengan perlengkapan berupa ban cadangan, segitiga pengaman, dongkrak, pembuka roda, dan peralatan pertolongan pertama pada kecelakaan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 278).

7.Setiap pengendara yang melanggar rambu lalu lintas dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 287 ayat 1).

8.Setiap pengendara yang melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 287 ayat 5).

9. Setiap pengendara yang tak memiliki Surat Tanda Nomor Kendaraan atau STNK dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 288 ayat 1).

10. Setiap pengemudi atau penumpang yang duduk di samping pengemudi mobil tak mengenakan sabuk keselamatan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 289).



Wah lumayan berat juga ya dendanya. Kalo tidak uang ya kurungan penjara. Apakah setiap kesalahan yang tidak bisa ditebus dengan uang harus mendapat sanksi kurungan penjara?? Tidak adakah alternatif lain?? Dan nampaknya peraturan ini juga tidak dilaksanakan dengan maksimal.Seandainya diterapkan dengan sungguh-sungguh mugkin sudah banyak yang kena denda atu masuk penjara. Faktanya masih ada tuh prosesi suap menyuap antara orang yang ditilang dengan pihak berwajib yang menilang. Ah.. ternyata....! Menyebalkan semua..!!

Tapis aya juga tidak membayangkan seandainya peraturan itu benar-benar diterapkan dan suatu ketika saya lupa membawa SIM atau STNK dan saya harus membayar denda, oh itu sungguh berat. (Dasar Egois!!) hehehe... entahlah... tidak bisakah peraturan ini ditata lagi menjadi lebih bijak tetapi dilaksanakan atau diterapkan dengan sungguh-sungguh. Peraturan oh peraturan...!!

04 November 2009

Gunung Penanggungan (lagi)

Penanggungan, 31 Oktober s.d 1 November 2009

Candi-candi di Gunung Penanggungan


Beberapa candi di bawah ini adalah candi yang saya temui ketika turun dari puncak Gunung Penanggungan melalui jalur Jolotundo. Sebenarnya menurut penelitian terdapat banyak candi dan tersebar di beberapa tempat di Gunung Penanggungan. Namun, tujuan saya saat itu adalah segera turun dan pulang, jadi saya tidak mencari candi-candi yang lain.

Candi Shinta





Candi Gentong



Candi Pure

Candi Putri


Candi/Petirtaan Jolotundo

30 September 2009

Pesona Gunung Lamongan


Foto-foto bisa dilihat di sini.

Bukan sebuah pendakian besar ke gunung yang ketinggiannya sampai beribu-ribu meter. Bukan juga ke gunung yang memiliki jalur sangat ekstrim. Hanya sekedar berjalan bersama kawan. Menyaksikan bumi yang berselimut awan. Dan Gunung Lamongan mempersembahkan keindahannya sebagai bukti kebesaran Sang Pencipta.


















Sabtu, 26 September 2009

Mendadak kami merencanakan perjalanan ini, tepatnya malam hari sebelumnya ketika ada SMS dari seorang teman di Probolinggo yang bersedia mengantar saya mendaki Gunung Lamongan. Lalu saya pun segera menghubungi teman-teman yang sekiranya bisa bergabung dan dapat diajak sekadar melepas penat di hijaunya tanah gunung. Menjelang sore saya dan tiga teman lain berangkat dari terminal Bungurasih, lalu bergabung dengan seorang teman dari Malang, dan tiga orang dari Probolinggo. Kami semua berkumpul di Pasar Klakah, Lumajang. Ya, Gunung Lamongan terletak di Lumajang, Jawa Timur. Jangan kira karena namanya G. Lamongan maka letaknya juga di Lamongan. Sampai sekarang saya masih belum mengerti menGapa gunung ini dinamai Gunung Lamongan, kenapa tidak Gunung Lumajang saja sesuai dengan tempatnya.

Meskipun saya pernah mendaki gunung ini sebelumnya, tapi saya mendapati situasi yang benar-benar berbeda. Kalau setahun yang lalu saya mendakinya hanya bertiga dan itu gadis semua kini saya mendaki berdelapan dengan tiga gadis dan lima lelaki. Rasanya jelas lebih ramai dan lebih tenang jikalau ada apa-apa. Selain itu ternyata ada juga rombongan lain yang ingin mendaki gunung ini, sekitar 40 orang. Tidak seperti tahun lalu yang sepi dan dihantam badai angin dan kabut.


















Singkat cerita setelah satu jam berjalan akhirnya kami tiba di pos Watu Gede. Kami tidak langsung mendirikan tenda, tetapi memilih duduk di atas batu besar tersebut, menikmati udara dingin yang bercampur angin, serta gemintang yang bergantungan di langit. Bulan separuh di arah Barat Daya juga nampak indah walau terkadang malu-malu dan bersembunyi di balik awan. Memang, lagi-lagi ada yang berbeda. Kali ini jalur yang kali lalui untuk ke tempat tersebut adalah jalur baru yang dibuat oleh Tunas Hijau. Kalau tidak salah jalur yang lama ditutup dan digalakkan penghijauan di sekitarnya. Malam itu sebagian dari kami tidur di dalam tenda, sedang sebagian lain memilih tidur di luar.



Minggu, 27 September 2009

Pukul empat pagi kami mulai berjalan lagi dengan tujuan puncak. Hanya berenam, sedang yang du memilih tinggal di tenda. Kondisi saya saat itu sedang kurang fit, sempat mual di awal hingga tiba di medan sebelum hutan basah. Memang jalurnya lumayan berat, yaitu tanah longsoran berupa pasir dan batuan lepas. Baru kemudian masuk hutan dan akhirnya tiba di puncak.















Setelah 2,5 jam akhirnya kai tiba di puncak. Rupanya rekor waktu saya meningkat setengah jam. Pada pendakian pertama ke gunung ini saya menempuh 3 jam untuk dapat tiba di puncak. Sudah agak siang, sekitar pukul 06.30 pagi. Cuacanya cerah sekali. Benar-benar saya menyaksikan negeri di atas awan. Indah. Fantastik. Langitnya biru, bumi terlihat putih tertutup awan, gugusan gunung-gunung pun terlihat jelas. Kawah aktif gunung tersebut juga keren. tidak kalah dengan Gunung Gede di Jabar sana.
Saya hanya dapat berucap syukur kepada Tuhan yang sekali lagi mengijinkan saya menyaksikan kebesaran-Nya dari salah satu atap dunia. Terima kasih juga buat semua teman-teman seperjalanan. I LOVE YOU FULL.

Surabaya - Pasar Klakah (bus): Rp 18.000,-/ orang
pasar Klakah - base camp (mbah Citro- ojek : Rp 15.000,-/ orang

29 September 2009

Peninggalan Jambore Petualang Indonesia di Media


















Selasa, 4 Agustus 2009 | 21:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Jambore Petualang Indonesia(JPI) 2009 yang digelar pada 8-9 Agustus 2009 di wilayah Perkemahan Ranca Upas, Ciwedey, Bandung yang akan dihadiri 1000 peserta baik dari dalam maupun luar negeri bakal meriah karena dihadiri tokoh petualang Indonesia, Herry Macan dan Kang Bongkeng.

Acara JPI kali ini terbilang tidak biasa karena sekaligus upaya kampanye melawan Global Development Village bersama LSM lingkungan seperti Green peace, The Nature Conservation, SIOUX (lembaga studi ular indonesia), dan World Wildlife Fund(WWF). "Jambore Petualangan Indonesia merupakan satu bentuk cermin kepedulian anak bangsa terhadap kondisi bumi dan tanah airnya."kata Aji Rahmat, Ketua JPI 2009 di Departemen Kehutanan pada Selasa(4/8).

Tema acara "Jambore Petualang Indonesia" sengaja dipilih karena wujud antusiasme yang besar dari para peserta yang merupakan penggiat kegiatan alam universal yang tergabung dalam komunitas online jejak petualang. "Acara ini akan menjadi ajang reuni penggemar acara petualang di televisi, sebab akan akan mempertemukan para peserta dengan host dari program petualangan dan petualang senior secara langsung." papar Aji.

Mengetengahkan 13 acara di alam terbuka ditemani para nara sumber yang qualified di bidangnya diharapkan mampu menarik minat para peserta. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan Fun Orienteering yang mendapat pengawasan langsung dari Badan Koodinasi survei dan Pemetaan Nasional(Bakorsutanal), bagi peminat fotografi akan didampingi fotografer profesional Roy Genggam.

Pengenalan habitat ular diarahkan para instruktur dari SIOUX, penulisan bertema alam bebas akan diarahkan oleh tim dari komunitas Penulis Pengelana.Selain itu acara sepeda gunung(Mountain Bike)akan berjalan bersama komunitas Bike to Work. Jelajah Survival akan ditemani EAST (Eiger Adventure Service Team).

Pada acara jelajah interpretasi hutan akan diajak membedah hutan di sekitar Ranca Upas oleh praktisi hutan dari Kehutanan Institut Pertanian Bogor(IPB). Program family camp juga akan terasa menyenangkan dengan mengajak keluarga mengenal rusa, kebun strawberry dan beragam permainan lainnya

Bagi mereka yang ingin mengenal keaneka ragaman tanaman obat para pakar dari Kehutanan IPB akan siap membantu. Selain itu terdapat acara "dugem" Duduk Gembira bersama tokoh senior petualang Indonesia dan "meet and greet" bersama host program petualang TV nasional. Beragam lomba menuju Hari Kemerdekaan RI ke-64 tanggal 17 Agustus turut dikemas dalam bentuk fun games.

Acara pun diakhiri dengan mengajak para peserta menanam 1000 bibit pohon eucalyptus di lahan yang disediakan PERHUTANI bersama para duta One Man One Three.

JIE yakin acara akan sukses dan jumlah peserta akan terus bertambah." Saya optimis acara akan sukses karena itu kami akan terus membuka pendaftaran sampai hari H. Kami yakin jumlah tempat yang kami sediakan cukup menampung seluruh peserta." imbuh Aji.