06 Maret 2011

Kisah KopLer di Jogja


Sebenarnya cerita ini sudah berlangsung lebih dari sebulan lalu, tepatnya  tanggal 22-24 Januari 2011 dalam rangka jalan-jalan liburan semester. Biasanya aku naik gunung, tapi tidak kali ini. Alasannya masih sama:  nggak ada teman cewek yang bisa diajak menikmati rimba. Ahh, sebuah permasalahan yang belum bisa kutemukan penyelesaiannya sampai sekarang. Akhirnya kuputuskan saja untuk ikut acara ini (meski sedikit dipaksa Uyun).
Sabtu menjelang siang kami sudah berkumpul ramai sekali di dalam gerbong KA Logawa. Kami memilih naik kereta karena harga tiketnya relatif lebih murah daripada bus, apalagi kami melilih KA ekonomi yang cocok untuk mahasiswa seperti kami. Kami berangkat berdelapan: aku, Uyun, Cindy, Intan, Yohanes, Mz Suneo, Fajar, dan Mas Hendro. Di Jogja, Wulan yang lebih dulu datang sudah menunggu kami. Hari itu gerbong tempat kami duduk sangat sepi. Hanya ada beberapa penumpang, penjaja makanan yang tidur, dan kegaduhan-kegaduhan yang kami timbulkan. Serasa naik kereta wisata eksekutif saja. Hehe…
Malam pertama di Jogja kami habiskan untuk menikmati pasar malam (sekaten) di alun-alun utara dan jalan-jalan di sekitar Malioboro. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan pasar malam, terlalu bising, dan tidak menghibur (setidaknya itu menurutku), karena itu aku memutuskan untuk memisahkan diri dan membeli semangkuk wedang ronde di tempat yang agak sepi. Hangat dan nikmat. Tiba-tiba aku terbawa perasaan lagi, tentang sesuatu di tempat itu beberapa tahun lalu…. Hmm….
Sepulang jalan-jalan bukannya istirahat kami malah mengadakan “konferensi”, membahas daerah tujuan wisata esok hari. Ternyata sebuah perjalanan tanpa perencanaan memang membingungkan. Seolah-olah perjalanan itu tiada artinya. Untung saja pertengahan malam itu sebuah keputusan diambil: carter mobil dan sopirnya untuk pergi ke Candi Borobudur dan Pantai Parangtritis. Senang akhirnya semua menjadi jelas meskipun aku tidak turut serta. Aku memilih jalanku sendiri, yakni ke Purworejo. Ada hal-hal indah di sana yang membuatku ingin mengunjunginya. Maafkan aku yang tak bisa ikut merasakan ketakutan kalian saat berhadapan dengan banjir lahar dingin.
Akhirnya kami pun tetap pulang bersama pada Senin pagi dengan Sri Tanjung yang sumpek. Mungkin memang dasarnya aku ini tak suka keramaian atau apa ya, sehingga lagi-lagi aku memisahkan diri dari teman-teman dan duduk menyendiri. Niatnya sih tidur, tapi lama kelamaan penumpang semakin banyak, dan aku tidak punya kesempatan untuk pindah. Mau tidak mau aku duduk di kursi dengan bermacam-macam orang. Adam mas-mas perwakilan pekerja yang habis mendatangi acara di Bandung, ada ibu muda dengan bayinya, ada wanita setengah baya yang mencintai profesinya, dan ada kakek yang hendak mengantar cucunya ke Sidoarjo. Asiknya lagi aku terlibat banyak pembicaraan dengan mereka. Semoga keberbauran membawa diri ini kepada ilmu dan manfaat.
“Rek, aku pulang, Assalamualaikum,” kataku sambil melangkah ke dalam angkot yang akan membawaku pulang ke Sidoarjo. Kami berpisah dengan senyum dan kenangan yang terajut sejak dari stasiun Wonokromo, Jogja. hingga ke Wonokromo lagi. Aku akan merindukan saat-saat itu lagi.

25 Februari 2011

TNDS: Sekadar Lewat, Sekadar Lihat


Danau Sentarum
Di antara daerah jajahan saya, ada tempat yang bernama Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Jangan bayangkan danau ini seperti danau-danau pada umumnya (misal: Danau Toba, Ranu Kumbolo, dsb). Danau ini adalah danau musiman karena merupakan daerah tangkapan air. Selebihnya bisa Anda baca di sini dan di sini atau sumber-sumber yang lain karena saya tak akan menuliskannya.
TNDS saya lalui ketika berangkat dari Meliau menuju Kota Lanjak. Tentu saja kami masih menggunakan kendaraan air, yakni speed boat 40 HP. Waktu itu saya sangat bingung bagaimana cara membedakan antara danau dengan sungai. Jangan kira saya tidak pernah sekolah sehingga untuk membedakan dua hal tersebut saja tidak bisa! Ini persoalan lain. Danau dan sungai terlihat menyatu. Kalau orang lokal mungkin sudah hafal mana yang sungai dan mana yang danau. Lha kalau saya? Katanya sih untuk membedakan hal itu hanya dilihat dari arusnya. Jika tenang, danau; jika berarus, sungai. Nampaknya mudah, tapi….
Sebenarnya saya tidak mau ambil pusing, tapi toh saya tetap merasa “pusing”. Bagaimana bisa hutan dengan ketinggian pohonnya yang mencapai 25 meter itu terendam air? Pepohonan hanya terlihat ujungnya satu atau dua meter. Bahkan guide saya pernah berkata, “Neng, saya dulu pernah naik motor di sini,” sembari jarinya menunjuk ke air. Wow!! Speechless… Saya tidak bisa berkata-kata selain subhanallah! Memang, sebagai daerah tangkapan air, TNDS akan kering di musim kemarau, namun jika musim hujan air bisa sampai pucuk pohon. 
Setahu saya daerah yang saya lewati ini hanya daerah pinggiran TNDS. Jadi, kami belum benar-benar memasuki kawasan TNDS. Meski begitu, saya sudah sangat terpesona dengan fenomena alam yang belum pernah saya saksikan ini. Sayangnya saya ini hanya seorang wisatawan, bukan seorang ahli biologi, ahli tumbuhan, ahli biota air, ataupun ahli-ahli yang lain. Bagi seorang ahli biologi mungkin TNDS adalah surga. Dan wisatawan hanya sedikit mencecap surga itu.

Hidup untuk Belajar

Ceritanya, dua minggu ini saya baru saja memulai sebuah titik untuk merasakan warna-warni dunia pendidikan yang memosisikan saya sebagai pengajar. Sebenarnya saya tidak sedang mengajar, tapi saya sedang menempuh mata kuliah perencanaan pembelajaran. Dan sebagai langkah awal, kami ditugaskan untuk observasi ke tiga sekolah yang berbeda kualitas, mulai dari yang bagus sampai yang kurang bagus. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana sih cara guru mengajar di kelas, bagaimana sih cara guru member instruksi, dll.
Secara keseluruhan, observasi saya dan dua orang teman saya (satu kelompok = tiga orang) berjalan lancar. Kami sudah bisa mendapatkan data-data yang kami butuhkan, baik berupa RPP, catatan perkataan guru, foto, dan video. Data-data tersebut tinggal kami olah dan kami kumpulkan. Namun, ada dua hal berbeda yang saya rasakan saat proses mendapatkan data tersebut berlangsung yang membuat perasaan saya sempat terganggu.
Hal pertama adalah sebuah kebahagiaan dan rasa puas yang saya peroleh saat meminta izin observasi dan saat melakukan observasi ke sekolah Y. Kebetulan sekolah Y adalah sekolah tempat saya menuntut ilmu dulu, jadi saya kenal dengan guru-guru di sana. Namun, bukan semata-mata karena saya pernah sekolah di sana lalu saya mendapatkan perhatian berbeda. Mereka toh awalnya tidak tahu bahwa saya ini adalah muridnya dulu, tapi mereka menerima saya dengan baik dan memudahkan segala urusan saya di sana. Cukup dua kali ke sana, segala urusan beres. Nostalgia alias reuni kecil antara saya dengan beberapa guru pun terasa begitu hangat.
Selanjutnya saya akan bercerita tentang hal kedua yang saya rasakan di sekolah Z. Sekolah Z bisa dibilang merupakan sekolah terbaik dari tiga sekolah yang saya kunjungi. Predikat RSBI sudah disandang sekolah ini. Namun, saya benar-benar merasa tidak nyaman di sana sejak tahap meminta izin. Tidak seperti dua sekolah sebelumnya, saya harus datang tiga kali ke sekolah ini dengan sambutan wakasek yang tidak begitu ramah, bahkan seolah-olah beliau tidak peduli kepada saya padahal saya sudah menunggunya hingga berjam-jam. Untung saja pada akhirnya beliau member izin, dan pertemuan itu hanya berlangsung tidak lebih dari sepuluh menit. Dan saat observasipun tiba. Ini kali keempat saya ke sana. Saya kira sudah tidak ada kata “menunggu” lagi, tapi nyatanya kami harus menunggu selama lebih dari satu jam tanpa ada yang bisa kami perbuat. Huffh… Tapi pada akhirnya selesai juga. Alhamdulillah..
Ah.. selemah inikah iman saya hingga bertemu hal begitu saja sudah mengeluh? Ternyata saya mesti lebih banyak belajar. Ini toh hanya sekelumit dari warna-warni kehidupan. Mungkin warnanya tadi cokelat, belum hitam. Dan saya rasa, cokelat bukan warna yang buruk. Bukan begitu, Kawan? Belajar belajar belajar!!!

***Bersegeralah dalam kebaikan karena kita hanya hidup saat ini.***

22 Februari 2011

“Blusukan” ke Kampung Dayak Iban


Pesona Alam
Blusukan adalah kosakata dari bahasa Jawa yang berarti mengunjungi/menjelajah ke tempat-tempat yang tidak biasa. Dan bagi saya, perjalanan ke kampung Meliau, kampung Dayak Iban, adalah sebuah blusukan.
Masih belum jelas apakah Meliau masuk kawasan TN Danau Sentarum (TNDS) atau tidak. Yang pasti saya sudah merasakan kekayaan bumi Borneo di tempat ini. Sejak berangkat dari Teluk Aur sampai ke desa ini, yang tentunya memakai transportasi air, saya melihat bukit-bukit yang rimbun, air yang melimpah (pasti banyak ikannya), dan madu-madu yang masih tersimpan aman di sarang lebah.
Belum lagi ketika kami diajak untuk mengamati satwa di beberapa danau di sekitar Meliau, wow berbagai macam burung beterbangan dan berkicau ramai, primata yang riuh dengan suara dan lompatannya, puluhan sarang lebah madu pada satu pohon, dan kecipak air yang ditingkah ikan. Subhanallah. Sungguh kaya alam itu. Ikannya juga enak. Malam itu saya menghabiskan dua porsi nasi dan masakan ikan semacam “asem-asem”, lalu saya ngemil ikan toman bakar. Nikmaaaaatt…!! Saya bahagia di sini. Hehe..

Human Interest
Perkampungan ini dihuni oleh suku Dayak Iban. Kondisinya masih sama seperti Teluk Aur, yakni tak ada daratan. Kami selalu berjalan di atas kayu-kayu. Menurut informasi, mata pencaharian masyarakat Iban adalah bertani (ketika air surut), mencari ikan, berburu, membuat sampan, dan menganyam. Karena ketiadaan listrik, malam-malam di sana pasti gelap. Meski begitu para ibu masih saja terus menganyam tanpa lelah hingga larut malam. Saya salut kepada mereka.
Tarian adat memang tidak jadi dipertontonkan kepada kami karena baru saja ada yang meninggal, dan mereka sedang dalam suasana berkabung. Namun saya tidak kecewa, karena sikap masyarakat lokal yang begitu respek dan menyenangkan. Bahkan Mas Sodiq, warga setempat, dengan begitu antusiasnya menjelaskan adat dan kebudayaan masyarakat Iban. Terima kasih, Mas Sodiq sekeluarga. J
Oiya, ada satu hal yang membuat saya tidak nyaman, yaitu tidak adanya kamar mandi. Saya terbiasa mandi di kamar mandi atau paling tidak di tempat yang tertutup. Namun, kali ini saya harus mau dan harus berani mandi di depan rumah, di danau, dalam gelap. Aaaaarrgghh..! Itu sangat menyeramkan. Saya jadi terbayang-bayang film Anaconda. Saya takut tiba-tiba sesuatu muncul dari bawah dan menggigit saya. Atau mungkin buaya, karena mereka bilang di sana ada buaya. Huff.. untunglah saya bisa pulang dengan selamat. Memang tidak mudah mengikuti gaya hidup masyarakat lokal.

Mempertanyakan Profesionalitas Komunitas Pariwisata Lokal


Kali ini saya ingin bercerita tentang Teluk Aur dan beberapa desa di sekitarnya. Tapi sebenarnya saya tidak tahu harus bercerita apa. Kesan saya di sana tak begitu baik. Saya sudah illfeel sejak adanya pembatalan tarian penyambutan oleh anak-anak desa untuk kami hanya karena turun hujan.
Saya ini wisatawan yang datang jauh-jauh dari Pulau Jawa. Saya tidak pergi ke sana dengan gratis. Tentu saja sejumlah uang harus kami bayarkan (dibayarin ACI Detikcom lho.. hehe..) kepada manajemen travel guide Kompakh. Iya, saya memang tidak tahu berapa jumlah uang yang dibayarkan. Entah itu memuaskan pihak Kompakh atau tidak. Tapi yang pasti setelah perjanjian disepakati, harusnya kesepakatan itu dilaksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab.
“Tarian dibatalkan mbak, kasihan anak-anak, sudah malam,” begitu kira-kira perkataan dari perwakilan pihak desa. Waktu itu memang saya mengiyakan karena memang tidak ada pilihan jawaban selain “ya”.
Saya bukannya egois dan tidak kasihan kepada anak-anak, hanya saja saya tiba-tiba merasa kurang dihargai dibandingkan wisatawan luar negeri yang datang ke sana. Bukankah jauh hari hal tersebut sudah dipersiapkan. Harusnya ketika kami tiba di sana (menjelang Magrib) mereka sudah bersiap-siap, lalu kami bisa segera menyaksikan tarian-tarian itu. Jujur saja hujan baru turun sekitar pukul 8 malam, dan sejak magrib sampai pukul 8 malam saya di sana tanpa aktivitas berarti.
Ketika hal itu saya utarakan ke guide saya, ia hanya menjab entahlah dan mengarahkan kesalahan kepada pihak desa. Fuih… Lalu, di manakah tanggung jawab dan profesionalitas komunitas pariwisata setempat ketika menjalankan pariwisata berbasis masyarakat? Kok nampaknya tak ada sinergi yang seimbang antara penggiat komunitas pariwisata dengan masyarakatnya sehingga menimbulkan miskomunikasi.

19 Februari 2011

31 Januari 2011

Eksotika Sungai Kapuas


Seingat saya, dulu waktu SD, bu guru mengatakan kalau Sungai Kapuas adalah sungai yang terpanjang di Indonesia. Lalu saat SMP, guru Geografi saya juga pernah bilang sesuatu tentang Kapuas, kira-kira begini, “Kapuas itu lebar sekali, seberang tepinya saja hampir tidak terlihat”. Dan kini saaatnya saya membuktikan sendiri perkataan-perkataan itu.
Yap, setelah berjam-jam bergoyang-goyang di dalam mobil melewati jalanan rusak Sintang-Putussibau, sampailah kami di Suhaid. Di sini kami harus berganti alat transportasi dari mobil ke speed boat. Tujuan kami adalah Desa Teluk Aur yang berjarak +/- 90 km dari sini dan hanya bisa ditempuh selama 2 jam dengan speed boat 40 Pk.
Saya senang, setelah beberapa hari di Kalbar akhirnya bisa berhadapan langsung dengan Kapuas. Namun jujur sebenarnya saya takut. Permukaannya yang bergelombang menunjukkan bahwa arusnya begitu deras dan dalam. Saya tidak membayangkan bila tercebur ke sana. Akankah saya masih bisa selamat? Belum lagi guide saya bercerita pernah ada yang hanyut dan jasadnya tidak ditemukan, saya semakin takut. Ngeri!! Toh akhirnya saya tetap melangkah ke dalam speed boat, meski dengan menggunakan pelampung, dan segera berpegangan erat, berdoa, dan berharap semuanya akan aman dan lancar.
Tegang… Saya tegang saat boat mulai bergerak ke tengah sungai. Semakin lama kecepatan pun semakin ditambah. Boat bergerak kadang di tengah sungai, kadang sedikit menepi, kadang pindah ke tepi yang lain. Saya bingung kenapa tidak lurus saja, bukankah lebih aman. Dan ternyata di sungai pun ada jalurnya. Sang driver (driver apa motoris ya? Bingung, sopirnya dinamain apa? Hehe…) ternyata tidak main-main. Ia tahu kemana mengarahkan boatnya. Ibarat jalan aspal, sang driver berusaha menghindari jalan yang berlubang. Kira-kira seperti itulah.
Selain mengarungi lebar dan panjangnya sungai Kapuas, kami pun diajak merasakan sensasi berspeedboat di antara pepohonan/ hutan di pinggir-pinggir sungai Kapuas. Hal ini dilakukan dalam rangka potong jalur agar jarak tempuh semakin dekat. Nantinya kami akan bertemu lagi dengan Sungai Kapuas di kelokan yang berbeda. Hutan-hutan itu ternyata sudah ada pemiliknya. Biasanya ada papan nama sebagai tanda kepemilikan.

Selain itu saya juga menemukan fakta bahwa rata-rata penduduk yang tinggal di tepi sungai Kapuas adalah penganut agama Islam, termasuk Desa Teluk Aur yang hendak saya kunjungi. Setelah beberapa hari di Kalbar akhirnya saya mendengar adzan juga. Hiks.. *terharu*. Saya takjub sekali ketika bertemu banyak anak-anak kecil bermain dengan senangnya di tengah arus Kapuas. Alam menempa mereka menjadi anak-anak yang tangguh.
Senja pun ikut mengantar kepergian kami ke timur, ke arah hulu. Saat itu permukaan Sungai Kapuas menjadi berwarna keemasan dan berkilau-kilau. Indah! Sensasi kali pertama membelah Kapuas memang sangat menakjubkan. Ini sungai terpanjang di Indonesia, Kawan!! Tak inginkah kalian mencobanya?

Keluh Masyarakat Dayak Desa



Tempat yang saya kunjungi berikutnya adalah rumah betang Ensaid Panjang. Letaknya di dusun Rentap Selatan. Jalan menuju tempat ini rusak parah dengan kanan kiri perkebunan penduduk dan bukit-bukit. Rumah panjang ini dihuni oleh suku Dayak Desa (“e” pada Desa seperti “e” pada kata depan).

Bentuk rumah betang ini hampir sama dengan betang yang saya kunjungi saat di Pontianak. Hanya saja penghuni rumah ini lebih ramai, mulai dari balita sampai orang tua. Data menunjukkan bahwa rumah ini dihuni oleh 26 KK (105 jiwa). Geliat keramaian penghuni betang ini semakin terlihat di malam hari ketika dua buah televisi yang ada di ujung timur dan selatan rumah betang dihidupkan. Para penghuni rumah bersama-sama menonton acara tv yang mereka sepakati. Biasanya tontonan ibu-ibu adalah sinetron, sedangkan tontonan para pria adalah berita atau bola.
Keramaian semakin terlihat ketika seluruh penghuni betang berkumpul untuk menyaksikan tarian sambutan untuk kami. Penarinya adalah gadis-gadis usia belasan, sedangkan pemusiknya adalah para pria dewasa. Mulai dari yang muda sampai yang tua bergabung menjadi satu, tertawa bersama, dan sebagian memandangi kami seolah ingin tahu. Saya hanya bisa tersenyum karena sebaguan besar dari mereka tidak mengerti bahasa Indonesia. Jika hendak bertanya-tanya saya hanya bisa mengandalkan guide lokal.
Menarik bukan? Lalu apa yang mereka keluhkan? Banyak! Ya, banyak hal yang sebenarnya mereka keluhkan. Hanya saja mereka masih bisa bersabar menghadapinya. Petama adalah masalah listrik. Siapa yang bisa nyaman tanpa listrik? Ketika orang lain di luar sana bisa hidup “terang” kenapa mereka tidak? Untuk menghidupkan dua buah tv dan beberapa bohlam 5 watt mereka harus mengggunakan genset. Sinyal? Jangan ditanya! Saya sudah menggantungkan hp di tiang depan rumah tapi tetap gagal mendapatnkan sebalok sinyal.
Kedua, yakni masalah kelayakan tempat tinggal. Awalnya saya bertanya-tanya mengapa mereka bisa begitu tahan hidup dengan kondisi seperti ini: jalanan rusak, rumah mulai rusak, tanpa listrik, dsb. Ternyata, mereka pun sudah ingin pindah dan membangun rumah baru yang lebih layak tapi oleh pemerintah daerah disarankan untuk tetap tinggal di situ. Keberadaan mereka di situ diharapkan dapat menjaga keutuhan rumah betang agar tetap terawat. Jika rumah betang ini tanpa penghuni maka keadaan rumah akan berubah sebaliknya, dan tentu saja wisatawan akan malas mengunjunginya. Namun, pemerintah daerah tidak banyak membantu masalah renovasi agar rumah betabg tersebut lebih layak huni. Sampai saat ini harapan itu masih tetap sebuah harapan. Harapan orang kecil yang lebih sering –mungkin selalu- disepelekan, entah sampai kapan.

18 Januari 2011

Helm untuk Keselamatan Pengendara



Beberapa hari yang lalu saya mendapati salah seorang teman saya mengeluh di facebook, “Duuhh kenapa mesti pake helm sih!” Lalu saya meninggalkan komentar, “ya gak papa mbak, biar aman”. Dia bales lagi, “Kan sumpeeekk”. Kira-kira seperti itulah perbincangan kami di facebook.
Bagi sebagian orang helm seolah-olah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dan malah menjadi beban. Alasan mereka tidak lain karena sumpek, pengap, berat, dll. Bahkan salah satu iklan sampo di televisi menggambarkan bahwa memakai helm dapat menyebabkan rambut bergelombang/ rusak. Menyedihkan bukan?
Bagi pengendara motor, helm adalah salah satu aksesoris yang wajib dipakai. Alasan utamanya bukan karena akan ditilang polisi jika tak mengenakannya, tapi lebih mengarah pada safety riding di jalan. Sepandai apapun seseorang dalam mengendarai kendaraan tidak berarti ia akan terbebas dari bahaya kecelakaan lalu lintas. Dan helm adalah salah satu alat safety riding yang dapat melindungi kepala jika terkena benturan.
Saya sendiri jujur lebih suka memakai helm ketika mengendarai motor baik itu di jalan raya (tertib lalu lintas) maupun di jalan biasa (jalan kampung). Bohong? Ah saya tidak berbohong dan ini bukan bualan semata. Helm memberi saya rasa aman ketika berkendara baik dari kecelakaan lalu lintas maupun terik matahari, kaca pada helm membuat mata saya terlindung dari debu jalanan, dan saya merasa lebih keren dengan helm merah yang saya miliki.
Kebetulan saya suka touring dengan motor bersama teman-teman ke beberapa kota di Jawa Timur. Medan yang kami lalui tidak hanya jalan aspal yang mulus, tapi juga lautan pasir Bromo, tanjakan terjal di kaki Gunung Semeru, jalan tanah di kaki Gunung Argopuro, dll. Itu semua kami jalani dengan tetap memperhatikan keamanan berkendara seperti memakai helm. Pernah suatu kali teman saya ditabrak oleh pengendara lain yang ceroboh. Tubuhnya terpental beberapa meter dari kendaraan, dan kepalanya terbentur aspal dengan sangat keras sampai-sampai helm mahal yang dibelinya itu rusak sebagian, tapi dia selamat dan hanya mendapat cedera ringan di tangan.
Bagaimana dengan Anda? Masih enggan memakain helm? Percayalah, helm tidak akan merusak penampilan Anda. Helm justru memberi Anda perlindungan dari bahaya yang mungkin menimpa. Jadi, sedia payung sebelum hujan. Pakailah helm dan Anda akan aman di jalan. Selamat berkendara….

12 Januari 2011

Yuk Aman dan Nyaman di Jalan


Seandainya jalanan adalah sebuah jaringan, maka pengguna jalan adalah sel-sel penyusun jaringan itu. Setiap sel-sel penyusun punya fungsi tersendiri agar kestabilan jaringan tidak terganggu. Begitu juga pengguna jalan. Mereka harus menjalankan fungsinya dengan baik agar kenyamanan di jalan raya tetap terjaga.
“Jalanan adalah pembunuh yang kejam”. Tidak salah kalau banyak orang berpikir seperti itu. Seringkali saya melihat kecelakaan lalu lintas terjadi ketika saya berangkat dan atau pulang kuliah. Kebetulan empat hari dalam seminggu saya harus pulang pergi dengan mengendarai motor ke kampus, sendirian pula. Setiap kali saya melihat kecelakaan, saat itu juga dada saya berdetak sangat kencang. Mungkin ini efek trauma karena saya pernah tertabrak motor yang ngebut ketika menyebrang jalan.
Tidak hanya sekali itu saya tertabrak motor. Pernah ketika saya berangkat kuliah, sebuah motor yang dikendarai anak SMP menabrak saya dari belakang saat saya berhenti untuk mempersilakan penyeberang lewat. Saat itu tidak hanya saya yang berhenti, tapi juga sebuah mobil di depan saya, dan beberapa pengendara motor. Lalu anak itu cuma bilang, “sory mbak, remnya blong”. Uhhh…. Saya sebel banget waktu itu!
Menurut saya jalan raya adalah salah satu ruang publik yang penting bagi semua orang. Semua orang punya kepentingan. Dan salah jika keegoisan masih mendominasi pikiran kita ketika di jalan raya. Safety riding tidak hanya masalah memakai helm, memiliki SIM, dan pandai berkendara, tapi lebih dari itu, yakni menyangkut hormat-menghormati hak dan kewajiban pengguna jalan agar tidak terjadi kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh faktor human error.
Meskipun Anda ahli mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi, bisa salib kanan-kiri dengan metode zig-zag, tapi jika Anda merebut hak orang lain (misalnya menerobos lampu merah), maka akan ada yang tersakiti. Syukur-syukur kalau tidak tabrakan, lha kalau tabrakan? Segala pekerjaan kita pasti akan terganggu. Belum lagi jika kendaraan rusak atau ada yang cedera. Berapa uang yang mesti dikeluarkan percuma?
Aman di jalan itu mudah kok. Bawa semua surat-surat kelengkapan berkendara, biar nggak ditilang. Hehe… Lalu kenakan alat pengaman berkendara seperti helm standard dan jaket karena udara polusi nggak baik buat kesehatan. Cek kondisi kendaraan seperti ban, bensin, dan rem. Terakhir, cek kondisi mental dan pikiran diri sendiri. Lho kok? Orang yang terburu-buru pasti banyak berbuat salah di jalan karena ingin segera sampai di tempat tujuan. Orang yang marah akan melampiaskannya pada jalanan. Orang yang sedih, mungkin akan nyetir sambil nangis dan otomatis tidak konsen nyetir. Jadi, berkendaralah dengan tenang dan nikmati setiap momen di jalan.
Selamat berkendara….