11 November 2011

Panorama Papuma yang Menggoda

(Tulisan ini sudah dimuat di Koran Jawa Pos pada hari Kamis, 10 November 2011 pada kolom journey for her halaman 22.)

Menunggu Fajar
Pantai Pasir Putih Malikan atau lebih sering disingkat dengan Papuma adalah salah satu pantai terindah di Jawa Timur. Keeksotisannya terdengar hampir di seluruh Pulau Jawa. Saya sendiri baru tahu tentang Pantai Papuma beberapa tahun lalu. Apa kata dunia jika saya yang tinggal di Jawa Timur belum pernah mengunjungi salah satu pantai terindahnya di Jember?
Minggu (15/10) kami berangkat. Setelah beberapa jam perjalanan, kami mulai mendekati lokasi Pantai Papuma. Hal pertama yang menyambut kami adalah hutan jati berselimut kabut di kanan kiri jalan. Sinar fajar mulai menyusup di antara daun dan ranting menyibak kabut lalu membentuk garis-garis cahaya (ray of light). Begitu memasuki areal wisata Pantai Papuma dari ketinggian, tampaklah pantai yang berwarna putih di bawah sana. Tak sabar rasanya untuk segera ke sana dan menunggu matahari terbit sempurna.
Laut yang terhampar terlihat putih bak kanvas yang siap dilukis oleh cahaya pagi yang perlahan-lahan muncul. Laut yang tadinya putih perlahan berubah menjadi kekuning-kuningan. Lalu terbentuk siluet kapal nelayan yang berjajar rapi. Di sana-sini wisatawan asik berfoto, begitu juga dengan saya. Tidak seorangpun ingin tertinggal momen indah itu.
Yang khas dari Papuma adalah gugusan batu karangnya. Untuk menuju ke sana saya harus sedikit bergeser ke arah selatan. Di sana saya bisa berjalan di atas hamparan batu-batu karang (sebelum ombak terlalu besar). Namun saya terlambat. Ketika itu air sudah mulai naik dan ombak semakin besar. Saya naik ke atas gardu pandang untuk mencari objek menarik yang bisa saya foto dengan poin utama batu karang besar maskot Pantai Papuma.
Deburan ombak di bawah sana seolah sedang memainkan nada-nada melalui batu-batu karang. Buihnya yang putih terlihat seperti hamparan salju. Panorama tersebut begitu indah dan menggoda saya untuk mengabadikannya. Ahh.., saya tergoda untuk difoto berlatar belakang batu tersebut.
Bersama Sahabat
Puas dengan tempat tersebut saya turun ke pantai. Saya berjalan tanpa alas di pasirnya yang putih. Terasa enak di kaki dan lembut. Tak salah kalau pantai itu dinamai Pantai Pasir Putih Malikan, yakni perpaduan pasir yang putih dengan gugusan batu malikan (batu karang). Beberapa teman hanya berdiri di tepi pantai. Tidak demikian dengan saya. Perlahan saya berjalan mendekati laut, melewati batu-batu karang dengan air dangkal. Semakin jauh dan jauh. Saya menikmati ombak-ombak kecil yang menghantam kaki saya. Tiba-tiba… “Byuuuurrrrr!!!” Ombak besar menghantam dan saya hampir limbung. Untung saya tak sampai terjatuh dan terbawa ombak. Perlahan ombak mengecil. Saya buru-buru menepi. Kaki saya gemetar.
Tidak takut, saya malah ketagihan. Sudah terlanjur basah. Saya kembali bermain-main dengan ombak. Tentu saja tidak sejauh tadi. Teman-teman mulai ikut bermain. Kami tertawa, berbasah-basah, dan berfoto sampai lupa waktu. Seolah hari itu adalah hari kami, kebahagiaan kami, dan pantai itu milik kami.
Cacing-cacing di perut mulai berteriak kelaparan. Kami segera menuju ke salah satu warung dan memesan ikan bakar. Walaupun proses membakarnya agak lama, hasilnya sangat memuaskan. Ikan yang baru ditangkap nelayan pagi itu terasa gurih, nikmat, dan bebas bau amis. Belum lagi sambalnya begitu nendang. Nyammm…! Adakah yang lebih nikmat dari menyantap ikan bakar di tepi pantai eksotis bersama kawan? Nikmatnya terbawa sampai Sidoarjo lho.
Saya bangga sudah mengunjungi Pantai Papuma. Saya bangga karena bisa semakin mengenali keindahan Jawa Timur, keindahan Indonesia. Jika ada orang lain bertanya mengenai Papuma, saya tidak bingung lagi menjawab.
Pergilah dan biarkan keindahannya menyusup ke dalam hatimu.

(Sidoarjo, 28 Oktober 2011 pukul 23.54)

08 November 2011

Kampung Bebek dan Telur Asin Kebonsari


Sejak SMA saya sering sekali main ke rumah sahabat saya di Desa Kebonsari, Candi. Tapi setelah sekian lama (sampai sekarang sekitar enam tahun) saya baru tahu kalau desa tersebut adalah desa peternak bebek dan penghasil telur asin atau sering disebut “Kampung Bebek dan Telur Asin”. Kelompok peternak bebeknya dinamai Sumberpangan dengan anggota 34 orang peternak dan dipimpin oleh Pak Nur Hidayat.
Mata saya terbuka gara-gara mendapat saran dari Pak Budi Sugiharto, Kepala detik.com biro Jawa Timur (detikSurabaya), untuk liputan di sana. O iya, saat ini saya sedang magang di detikSurabaya.
Hari ini (7/11) saya pergi ke desa tersebut sendirian. Walaupun sudah mendengar bahwa di sana banyak yang beternak bebek, saya masih belum tahu harus menuju ke rumah siapa dan di mana. Saya hanya mengikuti kemauan motor saya mau melaju ke mana. Dan singgahlah saya di rumah Pak Sulaiman yang di depan rumahnya terpampang banner bertuliskan “AGEN TELOR ASIN ADON JAYA”.
Jujur saya belum punya konsep pertanyaan untuk mewawancarai Pak Sulaiman. Tadinya saya hendak meliput pembuatan dodol jamur di Kampung Jamur, tapi karena masih musim kemarau mereka sedang tidak produksi jamur. Lalu saya langsung menuju ke Kebonsari. Alhasil saya agak gugup mau bertanya-tanya ke Pak Sulaiman. Untung saya dua orang karyawan Pak Sulaiman sangat ramah dan lucu, membuat suasana lebih nyaman.
Di sana saya hanya mengamati proses pemberian makanan, pencucian, dan pemilahan telur. Sebenarnya saya ingin menyaksikan proses pemeraman telur, tapi apa daya, bata merah halus yang sedang dijemur belum kering, jadi mereka belum bisa memeram telur. Akhirnya saya hanya mendapat penjelasan dari Pak Sulaiman dan istrinya tentang cara memproses telur sampai menjadi asin dan memiliki aneka rasa.
Menurut Bapak yang sudah beternak selama 15 tahun ini, pada dasarnya pembuatan telur asin aneka rasa sama dengan pembuatan telur asin biasa. Perbedaannya hanya pada pemasakan setelah dipanen dari proses pemeraman. Rasa yang ada pada telur tidak diperoleh dari bahan kimia ataupun injeksi (penyuntikan) ekstrak rasa-rasa. Rasa telur asinnya diperoleh dari proses pemasakan yang berbeda-beda. Sebagai contoh untuk telur rasa kepiting harus dimasak dengan cara diasap selama 12 jam, telur asin rasa udang dimasak dengan cara dioven selama 6-7 jam, dan terakhir rasa ikan salmon didapat dengan cara digoreng. Telur asin aneka rasa ini dijual dengan harga Rp2.000 per butir.
Saat ini Pak Sulaiman memiliki 1.500 ekor bebek dengan luas kandang mencapai 25x16 meter. Bebek-bebek ini mampu menghasilkan 1000 butir telur per hari. Karena itulah tidak salah jika Pak Sulaiman mengatakan bahwa omzetnya mencapai Rp200.000 per hari. Kok sedikit ya? Mungkin Pak Sulaiman salah hitung karena dia tidak menggunakan neraca keuangan. Jadi itu hanya jawaban perkiraan saja.
Kendala paling besar yang mereka hadapi adalah mahalnya harga pangan dan musim hujan. Menurut pengakuan  Pak Sulaiman, sudah dua tahun ini desa mereka selalu banjir jika hujan turun dengan lebat. Hal ini disinyalir karena adanya pendangkalan Kali Porong yang disebabkan pembuangan lumpur lapindo ke sungai tersebut. Debit air yang sangat banyak dari Kali Brantas akhirnya juga mengalir melalui sungai-sungai di sekitar Porong.
Bebek adalah salah satu hewan yang gampang stress dengan adanya perubahan cuaca, apalagi jika ditambah banjir dan petir. Bisa-bisa bebek tidak mau bertelur dan otomatis produksi telur asin pun menurun sampai 30%. Namun jika cuaca sudah stabil biasanya bebek pun kembali sehat dan bertelur lagi.
Syukurlah hal ini sudah diadukan ke pemda Sidoarjo. Sekarang permasalahan itu mulai ditangani dengan melakukan pengerukan di sungai-sungai untuk menghindari banjir.
“Jangan putus asa,” kata Pak Sulaiman saat saya bertanya apa rahasianya bisa bertahan selama belasan tahun.

(Senin, 7 November 2011)

07 November 2011

Foto Takbir Idul Adha 1432 H

Malam lebaran tiba-tiba saya ingin hunting foto takbir keliling. Pikiran saya jatuh pada alun-alun Sidoarjo. Biasanya di seputaran masjid agung dan pusat kota ada saja yang melaksanakan takbir keliling. Maka berangkatlah saya sendirian dengan mengendarai motor ke arah alun-alun. Ternyata semua di luar dugaan. Jalan raya Sidoarjo sepi. Bahkan terkesan malam itu bukan malam lebaran. Saya melanjutkan ke arah GOR. Ya, di sana ramai, tapi bukan ramai takbiran, hanya ramai orang jualan.

Kecewa, saya pun melajukan motor ke arah rumah teman di Desa Entalsewu. Tadi dia mengunggah status di fb bahwa di desanya sedang diadakan lomba takbir keliling. Waktu saya tiba di sana acaranya sudah dimulai. Saya langsung memarkir motor di rumah teman dan mulai memotret. Inilah hasilnya... Foto sederhana saya.
Tim Nomor 1

Arak-arakan ke-3

Takbir Keliling

27 Oktober 2011

Mengulang Hari Kelahiran


Hola.. Saat nulis ini, jarum pendek jam masih menunjuk ke angka tiga. Masih teramat pagi buat saya untuk bangun dan memulai aktifitas. Semalam saya tidur lebih cepat, makanya bangun juga jadi lebih cepat. Sebenarnya saya mau salat tahajud, bermunajat mensyukuri banyak nikmat yang Tuhan berikan pada saya, tapi gara-gara lihat si Mac hanya di-sleep hati ini tergoda untuk menuliskan beberapa kata.
Bangun tidur ini sudah ada beberapa SMS, email, dan pesan di facebook  yang berisi ucapan selamat ulang tahun. Sungguh senang. Bila masih ada yang mau mengucapkan selamat ulang tahun padamu artinya masih ada yang peduli dengan kamu. Dan saya sangat bersyukur masih ada yang peduli dengan saya.
Barusan juga suami saya terbangun dan mengecup pipi saya, mengucapkan selamat ulang tahun, dan memeluk saya dengan hangat. (Terima kasih, Cinta. Baru kali ini bisa di dekatmu saat ulang tahun. Tahun lalu engkau masih di Negeri Paman Sam). Lagi-lagi saya bersyukur atas berkah ini.
Lalu apa? Di usia yang ke-22 ini ada banyak impian yang belum tercapai. Tapi saya sedang mencicil untuk menaiki anak tangga kesuksesan itu. Waktu saya semakin pendek. Bayangkan saja, misalnya Tuhan menjatah saya 63 tahun hidup di dunia, lalu dikurangi 22, berarti jatah hidup sa ya tinggal 41 tahun lagi. Masih panjang? Ah tidak juga. Manusia sering lalai dengan umur dan waktu. Semoga saya tidak termasuk di dalamnya.
Permintaan saya sangat banyak kepada Tuhan. Saya ingin punya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, ingin bisa menjadi guru yang baik, menjadi anak yang lebih berbakti lagi pada orang tua, ingin menjadi orang yang bermanfaat, dan saya ingin resolusi kehidupan saya yang telah saya bikin listnya segera tercapai. Tak lupa, saya pun ingin berakhir dengan kepuasan, kelegaan, dan kebahagiaan menghadapi kehidupan akhirat. Ah sebetulnya masih banyak doa yang tak tertulis. Tuhan tahu apa yang saya butuhkan, dan Tuhan tahu kapan harus mengabulkan doa saya. Oh iya, semoga Tuhan juga melanggengkan persahabatan saya dengan Lailatul Maghfiroh, Anis Masitoh, Topan Ari, Wahyu Lukman, dan Tri Handoko. Aamiin.
Yap.. Hari ini adalah hari ulang tahun saya. Hari yang membuat saya lebih banyak mengingat dan bersyukur. Esok harus lebih baik. Insya Allah. Selamat ulang tahun, Nurul. Selamat ulang tahun untuk diri sendiri. J

26 Oktober 2011

Idealisme Kampret


Judul postingan saya itu hasil jiplakan. Judul ini pernah dipakai oleh seorang teman untuk menceritakan cinta di blognya. Sekarang giliran saya, tapi tidak untuk membicarakan cinta. Memang ya idealisme itu kadang menyebalkan. Tapi saya juga tidak bisa menyebut itu idealisme. Saya ragu.
Syahdan, tibalah saatnya bagi mahasiswa untuk mencari tampat PKL. Benyak mahasiswa yang sudah mulai memilih-milih mau ber-PKL di mana. Ada yang di Jawa Pos, JTV, Radar Surabaya, Sindo, Arek TV, SBO TV, dsb. Namun semua itu menjadi percuma karena dosen koordinator PKL tidak masuk beberapa minggu. Buntu. Beberapa mahasiswa mulai melobi media massa melalui ‘orang dalam’, termasuk kelompok saya karena ada salah satu anggota kelompok yang punya teman di JTv.
Tiba waktu pertemuan di Graha Pena hari Minggu. Pukul 11.00 siang, yang juga jam pertemuan, saya masih di kamar, mengotak-atik hp yang menyambungkan saya dengan internet. Saya tidak datang. Dan ketika ditanyai kapan bisa kumpul untuk membahas hal tersebut, saya menjawab, “aku ga jadi ikut, aku mau cari tempat PKL lain”. Keputusan ini sempat merisaukan saya beberapa hari sebelumnya.  Benar atau salahnya keputusan ini tak bisa saya tentukan sekarang.
Di mata orang lain saya akan terlihat bodoh. Sudah ada jalan yang teramat mudah untuk saya bisa ber-PKL di JTV, saya malah mangkir, mencari jalan yang sulit di tempat lain yang belum tentu menerima. Di saat saya masih mencari, mereka sudah mulai bekerja. Saya punya dua alasan untuk menjawab kebodohan saya itu.
Pertama, hati saya tidak mengatakan “Ya” untuk program kerja yang ditawarkan. Saya ingin sekali magang sebagai wartawan ataupun editor. Kalau saya mau di JTV, saya hanya akan bekerja untuk satu program yang tayang seminggu sekali. Keinginan hati saya tidak terpenuhi. Kedua, saya tidak mau terlalu bergantung pada orang lain. Saya ingin memenuhi hasrat saya dengan segenap kemampuan yang mampu saya kerahkan. Saya tidak menganggap itu buruk karena mungkin suatu saat pun saya akan mengandalkan ‘teman’. Tapi kali ini saya benar-benar ingin berusaha sendiri semaksimal mungkin.
Saya tahu mereka jengkel. Hal itu saya biarkan tanpa penjelasan. Paling saya hanya basa-basi sederhana. Yang paling membuat saya kecewa adalah ketidakpedulian seorang sahabat (yang juga di kelompok itu) kepada saya. Sebagai salah satu orang terdekat, saya berharap mendapat dukungan dan pengertian tanpa perlu penjelasan. Katanya sahabat itu bisa saling mengerti hanya dengan berpandangan, tanpa kata-kata. Kenapa kami tidak? Dan lagi hati ini tambah sesak ketika perlahan dia menjauh dan berubah sikap. Asli, saya sangat kecewa. Dia tak bertanya, saya pun tak hendak bercerita. Idealisme yang saya pertahankan, idealisme kampret!

Sidoarjo, 25 Oktober 2011, pukul 23.23

25 Oktober 2011

Yeaayy… Menulis Lagi


Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis. Entah itu menulis puisi, catatan perjalanan, opini, serius, ataupun sekadar cuap-cuap tak penting. Saya seperti mati: mati gaya, mati kutu, mati ide, mati kegiatan, mati berpikir. Parah! Kalau manusia sudah tak bisa berpikir, ia tak pantas hidup. Sia-sia. Jadi selama ini saya hidup sia-sia? Sungguh menyedihkan!
Menulis, apapun bentuknya, bagi saya ia seperti vitamin yang menyegarkan dan menyehatkan, terutama untuk akal pikir. Orang yang menulis pasti mau tidak mau akan berpikir, entah berpikir sederhana atau berpikir tingkat tinggi. Dengan menulis saya telah bersedekah untuk otak saya agar ia tak tumpul. Karena itu sekarang saya mau menulis lagi.
Karena sudah beberapa bulan tak menulis, tentu saya kehilangan banyak hal. Jadi sekarang saya hanya akan merangkumnya menjadi satu. Terakhir kali saya memosting undangan pernikahan. Yap, saya seorang istri sekarang. Waktu itu pernikahan saya berjalan dengan lancar, mulai akad nikah, resepsi, sampai ngunduh mantu. Akad dan resepsi dilaksanakan di rumah saya. Sedangkan ngunduh mantu dilaksanakan di kediaman suami di Purworejo. Saya di sana selama seminggu. Selain untuk mengenal keluarganya lebih jauh, saya juga menyempatkan diri jalan-jalan ke Pantai Jatimalang untuk menikmati seafood dan jalan-jalan ke Dieng untuk melihat Dieng Culture Festival 2. Menyenangkan!
Bulan Juli—September saya disibukkan dengan PPL di SMAN 1 Sidoarjo. Saya berkesempatan mengajar dua kelas, yakni kelas X-1 dan X-5. Mereka menyenangkan dan menantang. Selain PPL tentu saja saya juga sibuk belajar masak untuk suami. Bertepatan dengan bulan Ramadan. Sungguh indah. Itu Ramadan kami yang pertama setelah menikah. Kami memupuk pernikahan ini dengan bersama-sama mendekatkan diri kepada Yang Esa. Hampir setiap hari kami berjalan berdua di subuh dan petang menuju rumah-Nya. Romantis!

Tak ada libur panjang di akhir semester ini. Selepas PPL, saya langsung kembali kuliah dan menekuni mata kuliah ini itu. Ada satu mata kuliah yang saya rasa kurang tepat waktunya, yakni PKL. Jurusan mengharuskan kami untuk ber-PKL selama dua bulan di media massa baik cetak maupun elektronik, sedangkan di waktu yang sama kami harus kuliah setiap hari. Mau bagaimana lagi? Ini adalah cara agar cepat lulus. Oya, untuk memenuhi matkul PKL saya dan tim langsung mencari sasaran media: Jawa Pos, Radar Surabaya, Detik Surabaya, dan Nyata. Namun akhirnya kami hanya diterima di Detik Surabaya dan Nyata. Kami pun memilih Detik Surabaya.
Jenuh saya. Sudah sekian lama tidak mengisi baterai jiwa. Saya butuh perjalanan. Sudah hampir dua tahun saya tidak mendaki gunung dan sudah beberapa bulan sejak ACI 2010 dan Wisata Museum di Jakarta saya tidak bepergian jauh. Jiwa saya kering. Saya mau jalan-jalan. Beruntung ada beberapa teman yang juga ingin bepergian. Sampailah kami di Pantai Papuma. Saya berlari-lari, bermain kamera, bermain air, dan berbasah-basah. Puas!
Sekarang apa lagi? Saya sedang mencari rumah kontrak di Surabaya. Mengapa harus di Surabaya? Karena tempat kerja suami di Surabaya, saya kuliah di Surabaya, dan saya juga PKL di Surabaya. Kami berharap bisa menghemat tenaga dan dana dengan tinggal di sana. Sejujurnya kami agak lelah setiap hari berkutat dengan macet di jalan Surabaya—Sidoarjo.
Wah wah, sudah terlalu panjang. Padahal saya masih ingin cerita. Mungkin lain kali ya. Cukup sekian dan terima kasih. Salam lestari! J

Sidoarjo, 25 Oktober 2011, pukul 21.50

29 April 2011

Pilih Mana, Kuliah atau Nikah?


Kemarin di kampus, saya bertemu teman lama. Dia kakak kelas saya jaman SMA dulu. Nah karena kedekatan saya dengannya maka saya bercerita tentang rencana pernikahan saya bulan Juni nanti. Dia dengan muka kaget berkali-kali berkata, “bener ta Rul?” atau “Ha? Seorang Nurul nikah? Siap ta?” dan sebagainya. Sampai-sampai ketika pulang pun ia masih SMS berkali-kali dan bilang, “I’m still surprise!” dan “I’m still shocked!” hahaha…
Baiklah, saya maklum kok orang lain berkata seperti itu. Lha wong kakak kandung saya saya saja pada awalnya tidak setuju. Alasannya, saya masih kuliah semester 6 dan dikhawatirkan pernikahan akan menghambat kelulusan dan karir saya. Untungnya bapak dan ibu memberi respon positif. Beliau berdua setuju saja asalkan saya bisa melanjutkan kuliah dan bisa tetap menjadi guru Bahasa Indonesia.
Saudara-saudara sekalian, saya menikah bukan tanpa alasan. Keputusan ini sudah saya pikirkan baik-baik. Awalnya saya memang  ragu, bisakah saya menjalaninya dengan baik sedang saya masih berkuliah? Namun berpikir saja tidak akan menyelesaikan masalah, saya harus mencobanya. Setelah proses berpikir dan menimba ilmu, saya yakin, menikah saat kuliah bukanlah awal dari penderitaan dan permasalahan. Justru itulah proses pendewasaan mental dan spiritual dalam menjalani kehidupan. Bukankah suatu kebanggaan jika saya bisa terus kuliah, bekerja, tapi juga bisa menjalani kehidupan berumah tangga dengan baik.
Saya teringat kisah Bunda Siti Khadijah istri Rasulullah SAW yang menghibur dan menenangkan keresahan Rasulullah SAW saat menerima wahyu pertama dari Allah SWT. Nabi yang tadinya menggigil, resah, cemas, tiba-tiba menjadi tenang, damai, dan hilang kecemasannya setelah mendengar kata-kata Siti Khadijah. Nampak sekali bahwa keluarga tidak hanya menjadi tempat menenangkan syahwat yang bergejolak, tapi lebih dari itu, pasangan juga tempat menenangkan jiwa yang dilanda keresahan.
Tahu tidak, saya ingin sekali menjadi istri yang solehah seperti bunda Khadijah. Itu saja. Dan jalan ke sana insya Allah sudah tampak di depan mata. Sabtu, 23 April kemarin Kangmas dan keluarganya jauh-jauh datang dari Purworejo untuk melamar saya. Dua bulan lagi insya Allah akad nikah akan segera dilangsungkan. Mohon doanya semoga dimudahkan segala urusan menuju ikatan suci itu. Amin.

29 Maret 2011

Kopdar JP, JPers, Mancing Mania, dan Gramahom

Kru JP Trans|7
Selasa subuh, 22 Maret, tiba-tiba dapat pemberitahuan dari Om Silo, dedengkotnya milist Jejak Petualang, bahwa ada undangan dari Trans7 untuk JPers Jatim untuk menghadiri meet & greet dengan tim Opera Van Java (OVJ) dan nonton roadshow OVJ di Malang pada tanggal 25 dan 26 Maret. Pemberitahuan yang mendadak ini tentu saja sedikit membuat bingung anggota JPers Jatim yang cuma sedikit ini. Belum lagi yang sibuk kuliah, kerja, dan jadi suami siaga, otomatis tidak bisa datang.

Sebar berita sana-sini, ajak kawan main via telp, sms, dan fb, tetap aja mentok enam orang JPers Jatim yang bisa menghadiri acara meet & greet, yaitu saya, Mas Wahyu, Mas Tovik, Mas Hero, Mba Omi, dan Om Silo. Jangan heran kalau yang saya sebutkan sedikit tapi yang ada di foto sangat banyak. Walaupun mereka memakai kaos JP tapi saya tidak kenal, dan sepertinya mereka juga bukan anggota milist JP. Mereka adalah para anggota PA di Malang yang dikerahkan Om Silo untuk ikut hadir agar memenuhi kuota yang diminta Trans7.

Saat tiba di hotel, Jumat malam, saya kaget kok ada mba Putri Ayudya (host baru JP). Awalnya saya berpikir mungkin karena ini acara Trans7 maka ia diajak serta. Kami sempat ngobrol-ngobrol lama. Kebetulan JPers Jatim ini sangat akrab dengan para host JP, jadi bisa membaur dengan nyaman. Lalu di ruangan sebelah (ada dua ruangan yang dipersiapkan) acara meet & greet OVJ sudah dimulai. Ramai sekali! Kami, JPers Jatim, belum juga sadar. Kami masih berpikir, “oo.. gantian kali ya, setelah ruangan sana, baru ke ruangan kita”.

Lalu tibalah saatnya kru Trans7 menyuruh kami semua duduk. Ruangan sebelah sudah mulai sepi. Lalu bergiliran host JP dan Mancing Mania menempati kursi yang ada di depan. Peserta datang dari dua komunitas, yakni JPers dan Gramahom. Dan barulah kami sadar bahwa kami telah dibohongi Om Silo. Katanya meet & greet dengan OVJ malah meet & greet dengan JP dan Mancing Mania. Aw aw aw aw… Tapi nggak apa-apalah. Seneng juga sih. Hehehe…
Isi acaranya tentu saja sharing tentang acara JP oleh Mas Fauzan, lalu dilanjutkan dengan cerita pengalaman dari Mba Putri dan Mas Bayu Mancing Mania. Setelah itu pasti ada pertanyaan-pertanyaan berhadiah. Yang paling lucu tuh saat ada pertanyaan hari apa dan pukul berapa saja acara JP ditayangkan. Kami, anggota JPers Jatim tolah-toleh bingung. Nggak ngerti. Pasalnya walaupun kami ini penggemar acara JP tapi kami nggak setiap hari nonton. Ada yang kerja, kuliah, dan beragam aktivitas lainnya. Tapi Mas Wahyu dengan ilmu ngawurnya bisa menjawab pertanyaan dengan benar dan mendapat hadiah lho. Selamat ya.

Hari itu kami akhiri dengan foto bareng rame-rame. Lalu Jpers Jatim melaju ke Batu, ngadem di rumah Mas Tovik. Menikmati dinginnya air dan mekarnya bunga-bunga. Seneng banget bisa ngadem di Batu setelah berhari-hari pesta polusi di Surabaya.

Say thanks to:
Trans7 yang sudah mau mengundang kami.
Om Silo yang sudah mengkoordinasi semuanya
Om Tovik yang sudah mau meminjamkan rumahnya.
Teman-teman JPers Jatim atas partisipasinya

06 Maret 2011

Kondangan + Jalan-jalan


Tidak ada yang lebih indah dari melihat teman kita bahagia. Itulah yang kurasakan kemarin saat berkesempatan menghadiri resepsi pernikahan Mbak Atik dan Mas Bayu di Solo. Awalnya sempat bingung, ikut atau nggak ya, ada beberapa tugas yang harusnya kukerjakan akhir pekan itu. Pada akhirnya aku memilih ikut rombongan Cartenz Surabaya ke Solo dan meninggalkan tugas-tugasku. Tugas bisa ditangguhkan, tapi momen seperti ini kan tidak bisa.
Sabtu hampir tengah malam, kami berangkat berenam. Lagi-lagi aku menjadi satu-satunya manusia tercantik di antara mereka. Ada Mas Trisno, Mas Wahyu, , dan Mas Sony yang sudah kukenal agak lama,lalu Mas Martinus dan Kak Seto yang baru kukenal hari itu. Yang kuingat dari perjalanan malam itu hanyalah toilet pom bensin, rawon tengah malam, dan guncangan tiada henti di dalam mobil.
Pagi itu aku terbangun karena suara musik terdengar sangat keras dari luar toko Cartenz Solo. Kira-kira baru pukul 6 pagi. Aku melongok ke jendela, ada ibu-ibu senam, ada yang bersepeda, ada yang berjalan kaki. Ah, rupanya ada car free day. Setelah cuci muka seadanya aku pun bergabung dengan teman-teman. Senangnya bisa merasakan udara pagi Solo, kota yang mungkin sering kulewati, tapi baru kali ini kusinggahi. Aku, Mas Wahyu, Mas Trisno, dan Mas Jun jalan-jalan sampai lupa waktu. Dan ini mengakibatkan kami tidak bisa ikut menyaksikan akad nikah Mbak Atik dan Mas Bayu. Hiks.. sedihnya..
Syukurlah masih ada resepsi pernikahan yang bisa kuhadiri. Aku bingung dengan tata caranya. Nyuguhin makanan sampai empat kali, mulai dari kue, sayur (ga tau namanya), nasi, dan terakhir es kopyor. Kenyang!! Setelah itu aku ikut berfoto bersama pengantin lalu menunggu sampai acara hampir usai karena Mas-mas ikut mendokumentasikan pernikahan mbak Atik.
Dari sana perjalanan dilanjutkan ke Salatiga. Kami pergi ke wisata Senjoyo (semoga tidak salah sebut). Awalnya kukira aku salah kostum, tapi ternyata saltum membawa berkah. Lumayanlah buat mempermanis fotoku di sana. Di manapun tempatnya, narsis tetap yang utama. Yang paling gila adalah Mas Trisno. Di tengah hujan dan udara yang dingin, ia malah dengan asiknya berenang-renang di kolam, lompat-lompat kayak katak, bahkan keramas dan pakai facial foam. Widiiiwww….. Salut wes!
Malamnya, masih di Salatiga, kami makan malam di rumah saudaranya Mas Martinus. Sudah numpang makan, numpang pipis, numpang tidur pula. Apa nggak kurang ajar? Makasih ya Mas Martinus sekeluarga. Kapan-kapan aku diajak ke sana lagi yaa. Lalu kami lanjut lagi ke Solo. Sambil menunggu tengah malam, kami minum dulu di angkringan, dan nggak lupa hal terpenting dari setiap perjalanan adalah “FOTO”. Makasih buat Mas Ismed yang sudah mau meladeni kenarsisanku.

@Mbak Atik dan Mas Bayu: Selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga samara.
@Mas Martinus dan keluarga: Aku pengen makan banyak, tapi perutku mual, hiks :(
@Kak Seto: hiks.. kau selalu memanggilku “elek”. Penganiayaan terhadap kaum minoritas.
@Mas Wahyu: makasih sudah mau menjemput dan mengantarkan aku pulang
@Grup Cartenz: Makasihhh udah ngajak aku ^_^