16 Agustus 2010

Pendakian Merah Putih Gunung Merapi Jogja


Foto-foto bisa dilihat di sini.
Jumat, 15 Agustus 2008

Sesuai rencana trip Merah Putih bareng JPers ke G.Merapi, pukul 22.50 WIB kami berenam: Nurul, Mz Kohan, Mz Hero, Mz Wahyu, Mz Doi, dan Mz Gentong berangkat dari Terminal Bungurasih Surabaya menuju Terminal Giwangan Yogyakarta naik Bus Mira dengan tarif Rp36.000,- perorang. Sebenarnya tim Jatim berjumlah sebelas orang, yang empat orang, yaitu Ayah Mey, Mey, Devim, dan Konde berangkat dari Probolinggo, dan seorang lagi, Mz Tovik, berangkat dari Malang. Kami sepakat bersua di Terminal Giwangan.

Sabtu, 16 Agustus 2008
Di dalam bus aku sempat menulis ini:
Tahukah engkau kawan
Aku di sini
Dalam sebuah ruang yang bergerak maju
Angin malam menerpaku, kurasakan dingin
Hanya tawa teman seperjalanan memberi hangat di hati
Kawan…
Senyumku mengembang saat kutahu jarakku denganmu semakin berkurang
Dalam hentakan-hentakan ricuh bayangmu muncul perlahan
Saat itu akan segera tiba…
Ingin rasa kupacu mesin ini lebih cepat
Agar lebih cepat pula ku bersua denganmu
Dadaku bergetar…
Hatiku deg-degan…
Oh kawan…
Ternyata aku telah sangat merindukanmu
(Bus Mira, 16 Agustus ’08, 02:03 WIB)

Pukul 04.35 WIB tim Surabaya tiba di terminal. Hmmm… Jogja I’m coming..!! Hatiku deg-degan lhoo…!! Kami menunggu tim Jatim yang lain dan Mz Eko JPers Jogja yang akan menjemput kami di Musholla sembari beristirahat. Tidak lama kemudian Mz Tovik datang, sejam kemudian disusul tim Mba Devim. Kami tinggal menunggu Mz Eko untuk menuju ke Selo. Kami sarapan dan mutur-muter dulu di sekitar terminal dan akhirnya nyangkut di pasar, hihihi….

Menuju Selo
Pukul 09.32 WIB kami, tiga belas Jpers, naik bus jurusan Magelang turun di Blabak @ Rp 7.000,- dan tiba di Blabak pukul 10.55 WIB. Tiba di Blabak kami tidak langsung melanjutkan ke Selo. Teman-teman sedang berusaha mencari kendaraan dengan tarif yang tidak terlalu mahal untuk mengangkut kami ke Selo. Pukul 11.45 kami melaju ke Selo nyatar lyn Rp 175.000,-, sempat terkendala masalah transportasi ke Selo, tapi bisa diatasi dengan mudah, jadi kami bisa tiba di Selo pukul 13.00 WIB dan membayar retribusi sebesar Rp 4.000,-/org. Di sana sudah ada Mz Cempluk dan seorang temannya.

Lomba Untuk Bocah-bocah Selo

Sesuai titah Komandan Obie, karena kendala yang dialami tim Jakarta selama di perjalanan menuju Jogja, kami yang sudah tiba di Selo segera membuat beberapa perlombaan untuk adik-adik di desa Selo. Ada tiga perlombaan: makan kerupuk, memindahkan kelereng dengan sendok, dan memasukkan paku ke dalam botol. Walaupun sangat sederhana ternyata mereka benar-benar antusias, mereka adik-adik kecil yang lucu dan lugu berebut mendaftarkan diri dan temannya dalam perlombaan. Perlombaan pun berjalan dengan meriah walaupun ada yang menangis karena kalah, hihi.. itulah anak-anak..!

Setibanya Tim Jakarta
Sudah sangat sore ketika tim Jakarta tiba di Selo. Kami teman seperjalanan ini sudah sangat khawatir, dan adik-adik desa Selo yang lugu ini sudah ribut menanti hadiah yang dijanjikan Komandan Obie. Perlahan tapi pasti… bus itu mendekat, adik-adik bersorak bahagia. Hmmm…. Prosesi pembagian hadiah dimulai. Semua anak, mulai dari yang juara sampai yang kalah, mendapat hadiah dari Komandan. Kalau melihat muka-muka lugu itu, hmm.. damainya hati ini..

Pendakian-- Pasar Bubrah
Pukul 19.30 kami mulai pendakian dari New Selo. Banyak pendaki-pendaki dari daerah lain yang telah berangkat duluan, yang belakangan juga banyak. Trek Merapi diawali dengan jalan setapak berdebu di samping ladang-ladang penduduk. Ramainya pendaki yang naik ternyata unik juga, apalagi pas ada tanjakan yang lumayan berat, wah.. antri deh. Ada juga trek berpasir seperti pasir Semeru, kemudian didominasi trek berbatu yang semuanya menanjak sampai Pasar Bubrah. Mendekati Pasar Bubrah kami mendaki Puncak Semu, treknya bebatuan lepas tapi masih lumayan enak dipijak disertai angin yang sangat kencang dan juga kabut. Pukul 23.30 tibalah kami di Pasar Bubrah lalu mendirikan tenda terus Zz…ZZzz….

Gerhana Bulan
Seperti kabar dari teman-teman di milist, memang benar malam itu terjadi gerhana bulan. Tapi karena angin malam sangat kencang dan dingin aku cuma sesekali mengintipnya dari balik tenda. Aku setenda dengan mas Cempluk, mas Arief, mas Bagas, dan mb Shanty. Di dalam tenda kami bercanda dan bercerita banyak hal. Inilah pertemanan yang hangat. Purnama total menjelang pagi, dan itupun kata teman-teman. Saya tidak tahu. Saya tidur sangat lelap.

Sunrise Pasar Bubrah
Hmm..tak terasa, pagi datang begitu cepat. Di luar sudah ramai teriakan-teriakan tak jelas. Aku pun segera membuka jendela tenda, dan wowwww….!! Langit jingga merekah di ufuk timur, sunrise akan segera muncul menyapa kami. Teman-teman langsung hunting foto dari segala penjuru yang dianggap strategis. Seperti biasa, aku hanya jadi foto modelnya (hehe). Dari punggungan bukit sebelum Pasar Bubrah kami nikmati sunrise. Subhanallah… indahnya… Di sebelah timur kulihat langit yang memerah jingga dan bintang itu memancar perlahan menghangatkan bumi Merapi, jurang-jurang Merapi yang menghijau lumut dan nampak dingin terbias sinar yang perlahan menyapanya. Sebelah Utara tampak Gunung Merbabu sejelas-jelasnya, dataran tinggi yang berselimut awan, juga Telomoyo. Nun jauh di sisi barat ada G. Sindoro - Sumbing. Sebelah Barat:. Di sebelah selatan Ada Puncak Merapi berbatu yang memanggil-manggil untuk segera dicumbu.

Puncak Garuda
Selepas menikmati sunrise yang hangat rombongan kami segera bersama-sama melangkahkan kaki ke gundukan batu yang di sana terdapat puncak garuda. Tak lama menuju ke sana, hanya saja kami harus mengantri. Maklum di saat seperti ini ratusan pendaki pasti ingin mengibarkan sang saka dari ketinggian. Antrian tak hanya dari orang-orang yang mau ke puncak, tapi juga dari orang-orang yang mau turun dari puncak. Jalanan berbatu itu sungguh menjadi lebih berdebu.
Rencana awal kami akan mengadakan upacara bendera, tapi tidak di puncak. Jadi di atas kami hanya mengabadikan momen-momen berharga yang belum tentu terulang lagi. Kami panjati batuan, kami pandangi semesta, kami bisikkan syukur, juga doa agar bumi persada ini tetap damai makmur sepanjang masa.

Upacara Bendera bersama Metro Tv

Di puncak kami tak lama, mungkin hanya satu jam. Kami bergegas turun ke pasar bubrah dan segera memulai upacara kemerdekaan sebelum siang datang dan para pendaki lain turun. Tidak disangka ada rombongan Metro Tv yang juga mendaki dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan. Maka kedua belah pihak saling bekerja sama. Upacara disiapkan sedemikian rupa mulai dari pembukaan, acara inti, pengibaran sang saka merah putih, juga nyanyian lagu kemerdekaan. Meski pada saat latihan terjadi beberapa kesalahan, waktu peliputan upacara sungguhannya nampak begitu khidmat. Puluhan orang berkumpul di pasar bubrah dan menancapkan betul Indonesia Raya di dadanya. Sangat khidmat.

Kembali ke Jogja
Gunung Merapi usai kami daki. Sampah-sampah yang kami temui di jalur pendakian sudah kami punguti. Segera setelah mandi dan bersih-bersih kami naik bus carteran yang dipakai teman-teman Jakarta menuju ke Jogja. Rencananya kami akan bermalam di Jogja, lalu esok harinya jalan-jalan sebentar. Di dalam bus yang terdengar hanya dengkuran orang-orang. Rupanya sebagian besar sudah tidur karena kelelahan. Aku pun ikut tidur. Tak lama kemudian tiba-tiba bus berhenti dan orng-orang ramai. Aku dah was-was ada apa gerangan, alhamdulillah hanya ban yang kempes. Kami yang tidak tahu menahu permasalahan ban dan sejenisnya hanya menunggu sambil bercanda. Setelah semuanya beres kami segera melanjutkan perjalanan ke Jogja.

11 Agustus 2010

Menentukan Waktu Salat di Eropa Utara


Bismilaah…
Semoga saya tidak salah dalam menulis sedikit tentang hal ini. Saya baru belajar perihal menentukan waktu shalat di Eropa Utara dan berusaha mendalaminya karena saya dihadapkan pada permasalahan yang membuat saya bingung.

Juli lalu teman dekat saya terbang ke Copenhagen, Denmark. Awalnya ia mengikuti waktu salat daerah setempat, tapi lama kelamaan ia bingung karena saat itu pukul lima pagi matahari sudah tinggi dan baru terbenam sekitar pukul sebelas malam, bahkan kadang sampai pukul dua belas malam. Lalu ia bercerita pada saya, dan saya menyarankan untuk mengikuti waktu salat yang telah saya tetapkan untuknya dengan mengikuti waktu salat daerah ekuator yang sebujur dengan daerah di mana dia berada. Daerah-daerah yang membujur dari kutub utara sampai kutub selatan memiliki waktu yang sama, jika pukul 05.00 ya semua daerah itu pukul 05.00 walaupun ada perbedaan di gelap dan terangnya.


Mulanya ia bingung. Sama, saya juga bingung. Tapi saya sudah mempersiapkan hal tersebut jauh hari sejak jadwal keberangkatannya ditentukan. Ide itu muncul ketika saya ingin membantunya menetapkan waktu salat. Allah mengingatkan saya mengenai bukunya Bapak Agus Mustofa Tahajud Siang Hari Dhuhur Malam Hari yang pernah saya baca waktu SMA. Kebetulan dulu Bapak Agus Mustofa pernah datang ke sekolah dan menjelaskan maksud isi buku tersebut.

Kata Bapak Agus Mustofa, “Kita harus proposional dalam menyikapi waktu. Sebab, sebenarnya waktu berjalan bukan karena pergerakan matahari dan bulan. Matahari dan bulan hanya berfungsi untuk ‘menandai’ pergerakan waktu. Yang menjadi substansi adalah pergerakan waktu. Bukan pergerakan matahari ataupun bulan.” Dengan kata lain, sebenarnya kita bisa saja mengukur pergerakkan waktu dengan tidak berdasar pada pergerakan bulan dan matahari. Di zaman modern ini, jam adalah pengukur waktu yang bersifat universal. Di manapun Anda berada jam kita akan berputar dengan durasi yang sama. Bahkan kita bisa menyesuaikan dengan kondisi setempat.

Singkat kata waktu itu Bapak Agus Mustofa memberikan tiga solusi dalam menghadapi hal tersebut. Pertama, mengikuti pergerakan matahari seperti yang dicontohkan Rasulullah. Kedua, menggunakan acuan waktu berdasarkan daerah yang sebujur di ekuator. Ketiga, mohon maaf saya lupa. Dari ketiga hal tersebut saya memilih yang kedua karena lebih fleksibel. Begitu pula jadwal imsak di Ramadan ini untuknya.

Untuk teman saya itu, saya berusaha menetapkan waktu salatnya dengan bantuan waktu salat di daerah Afrika dan peta online. Copenhagen, Denmark insya Allah sebujur dengan Gabon, Norway sebujur dengan Nigeria, Sweden sebujur dengan Kongo, timurnya lagi sebujur dengan Republik Demokratik Kongo, dan terakhir St.Peterburg sebujur dengan Uganda. Insya Allah. Dari situ saya membuat daftar jadwal salat sesuai masing-masing daerah. Sebenarnya bukan membuat sih, tapi lebih kepada menyampaikan informasi kepada yang bersangkutan sesuai waktu daerah ekuator sehingga dia tinggal menggunakan data yang saya kumpulkan.

Menurut saya sebenarnya di zaman sekarang, kita tinggal melihat jam untuk menentukan waktu salat, mengingat sudah adanya kesepakatan waktu antarwilayah di belahan dunia ini, dan sama dengan daerah yang sebujur. Jadi, untuk menentukan waktu dzuhur ya kira-kira dimulai pukul 12 waktu setempat. Kalau imsak mengukurnya bagaimana? Bahaya kalau kelewat. Berarti kita harus mau mengakhiri sahur sedikit lebih awal, jangan mepet dengan waktu subuh. Insya Allah.

Inilah kemudahan yang ditawarkan Islam. Janganlah merasa Islam tidak cocok untuk daerah selain tropis. Islam itu fleksibel selama dalam menjalaninya kita memang benar-benar ingin menghadapkan diri kepada-Nya. Allah sudah menyiapkan jawaban atas hal-hal yang tidak kita ketahui di dunia ini. Pelan-pelan rahasia-rahasia itu mulai terbuka dan membuat kita terpesona.

Meski begitu saya takut salah juga. Waktu-waktu yang saya sampaikan ternyata juga dipakai oleh teman-temannya. Lha kalau saya salah bagaimana? Dosa-dosanya lari ke saya semua dong? Astaghfirullah... Semoga Allah Yang Maha Berilmu berkenan memberi ampunan atas keterbatasan kami, memberi petunjuk atas kebingungan kami, serta menambahkan ilmu kepada kami atas hal-hal yang belum kami ketahui. Amin.

Silakan baca kasus yang sama.

Sumber tambahan yang mungkin bisa menjelaskan lebih dalam :
  1. Islamic finder
  2. Blog Azwarti

19 Juli 2010

Pendakian Merbabu-Merapi (Bag.II)


Foto-foto bisa dilihat di sini.

Bagian II – Merapi jalur Selo
Kisahku bersama Dina, Dedi, Jupi, Dwi, Adip, Dito, dan Ikhwan

27 Desember 2008 Base Camp Selo Merapi

Dari desa Gesikan kami berjalan melewati setapak di antara ladang-ladang sekitar satu kilometer. Setelah menemukan jalan raya kami menumpang sebuah mobil pick up dan membayar Rp 15.000,- sampai di Selo. Di sini kami berpisah dengan Mz Uchit yang harus kembali ke Jakarta dan Mz Tovik yang harus kembali ke Malang karena masalah pekerjaan. Hikkss… Kami tidak lagi ber-13 dalam trip ini.


Di base camp Mz Amsi dan Mba Salma kembali mendatangi kami. Kami berbincang seakan sudah kenal sekian lama. Kami berbagi cerita dan foto. Hehe… Lalu lebih sore lagi Om Jarot menelponku dan mendatangi rombongan kami. Beliau datang bersama Mz Jarody. Aksi foto bersama pun kami lakukan. Dinginnya hujan sore itu seakan sirna oleh kehangatan rasa persaudaraan di antara kami.

Pukul 21.20 WIB Mz Amsi dan Mba Salma pamitan pulang. Lalu aku beranjak tidur meskipun teman-teman yang lain masih asik bermain kartu dan tertawa keras-keras. Aku harus tidur karena aku ingin naik ke Merapi. Sempat terjadi kebimbangan dalam diriku. Akankah aku mampu naik dengan fisik selemah ini. Mungkinkah nanti aku hanya mampu menyusahkan teman-temanku ini. Aku harus tidur.. aku harus sehat.. dan aku akan naik bersama mereka. Insya Allah.

28 Desember 2008
Mendaki Merapi yang Dingin

Pukul 00.10 WIB kami beranjak dari hangatnya SB dan bersiap-siap mendaki Merapi. Hanya kami berdelapan, sedangkan yang lain menunggu di base camp. Pukul 01.00 WIB kami melantunkan doa memohon perlindungan-Nya dalam pendakian ini dan melangkahkan kaki ini menuju puncak.
Alhamdulillah walau sejak siang tadi hujan mengguyur dan kabut menyelimuti, tapi malam itu bintang-bintang masih dapat kami lihat kerlipnya. Kami mendaki santai saja. Mereka tahu kondisi fisikku tidak seberapa bagus. Mz Jupi selalu menanyakan bagaimana keadaanku. Terima kasih untuk perhatianmu kawan.
Saya sempat ditertawakan teman-teman karena mengatakan bahwa saya merasa tanjakan jalur itu tidak seterjal sekarang. Tapi memang benar itu yang saya rasakan.
Kata mereka, “Jangan pake perasaan, Rul. Merapi ya seperti ini”.
Emang Mungkin dulu karena banyak orang yang mendaki di
Jbener ya? Entahlah… saat Agustusan jadi medannya tidak begitu kuperhatikan.
Gunung Merbabu nampak indah sekali berhiaskan kilauan-kilauan di bawahnya.
Merapi juga indah, tentu saja dengan tanjakan-tanjakannya terjalnya.

Selepas Pos II angin begitu kencang, kabutnya tebal. Dingin begitu menusuk kulitku. Teman-teman selalu siaga membantuku, terutama Mz Dwi yang sedari tadi menarik dan memegangiku agar tidak terjatuh. Terima kasih saudara-saudaraku…!


Pasar Bubrah

tak ada sinar surya pagi itu
tak ada hangat sedikit menjengukku
hanya hamparan putih tak tersentuh
membawa dingin yang melukaiku
kutunggu ia mungkin akan segera berlalu
dan hanya bisu yang aku tahu

Tepat pukul 04.45 WIB kami tiba di Pasar Bubrah. Kabutnya begitu tebal dan angin masih kecang. Nampaknya tidak ada sunrise pagi ini. Kami bergantian melaksanakan shalat subuh dalam terpaan angin dingin. Kami menunggu pagi dan menyiapkan kamera. Dan benar saja, sunrise tak hendak menemui kami. Namun kami masih bisa berfoto-foto dengan panorama pagi yang indah. Subhanallah…

Aku enggan ke puncak karena kabut terlalu tebal. Aku tidak yakin ke puncak akan memberi kepuasan, dan juga aku pikir itu berbahaya mengingat medan ke puncak berbatu seperti itu. Tiga orang teman: Dina, Dedi, dan Mz Ikhwan yang belum pernah muncak ke Merapi bersikeras muncak. Karena tidak tega akhirnya Mz Jupi menemani mereka. Berangkat pukul 07.45 dan kembali pukul 10.20. Lama banget!!

Menunggu mereka yang ke puncak kami didera rasa lapar (hehe..), rasa dingin yang semakin menjadi, dan berisik karena Mz Adip bobo’ terus dan menimbulkan suara-suara yang ga nyaring, hehe… Antara sebel dan khawatir menunggu mereka. Kami takut terjadi apa-apa pada mereka. Semoga saja tidak. Amin. Dan syukurlah mereka kembali dengan selamat walaupun Dina sempat menangis karena sedikit kecelakaan. Ternyata mereka melewati jalur yang salah (makanya lama buangeet). Aku senang kawan kita bisa berkumpul lagi

Back to Base Camp
Pukul 11 siang kami kembali ke base camp. Baru saja turun kami sudah diguyur hujan sampai di New Selo. Pukul dua siang kami tiba di New Selo dan langsung menyantap soto hangat dan teh panas. Masya Allah… kakiku yang kemarin sakit gara-gara turun dari Merbabu sekarang dah nggak sakit lagi. Hehe…

Tiba di base camp kami langsung disuruh Mz Cempluk packing karena khawatir tidak ada angkutan tuk pulang ke Jogja. Aku bisa masuk angin nih. Hehe.. Untung dapatLbelum sempet ganti pakaian pinjeman kaos dari Mz Cempluk. Thanks Mz….

Gara-gara keceplosan ngomong, seorang cewek cantik yang sedang rebahan tiba-tiba bangun dan bertanya, “Kamu Nurul ya?”
Hwaaa….. aku kaget! “Iya Mbak,” jawabku,” Mba Hani ya?”
Dan benar itu Mba Hani dari milist Merbabu.com. kemudian aku juga berkenalan dengan Om Afandi, Mz Ajis, dan Mz Amar. Di luar base camp aku juga berkenalan dengan Om Kiting dan Mba Winda. Hihihih… lucu deh!

Tiba di base camp sekitar pukul 13.30 siang. Kami langsung packing karena mengejar angkutan agar bisa ke Jogja. Saat itu Selo ramai akan para pendaki dan masyarakat yang menyambut satu suro dengan acara sedekah gunung. Pukul 16.30 sore kami meluncur ke Boyolali dengan pick up Rp 120.000,- untuk 12 orang. Sekitar pukul 19.00-20.00 malam kami nebeng Pick up lagi dari Boyolali sampai pasar Prambanan. Kami Cuma memberi ucapan terima kasih sebesar Rp 10.000,00. Dilanjutkan naik trans Jogja @Rp 3.000,- tapi kami diturunkan paksa dengan alasan jam operasinya sudah habis (saat itu sekitar pukul 21.30). Jadi kami harus berjalan sekian kilometer di dalam kota (hikksss…) sampai asrama tempat Mz Eko tinggal. Tiba di asrama kira-kira pukul 22.10 WIB. Akhirnya aku bisa tidurrrrr….

Pendakian Merbabu-Merapi (Bag.I)


Foto-foto bisa dilihat di sini.

Desember 2008
Bagian I – Merbabu Jalur Wekas-Selo
Kisahku bersama Dina, Dedi, Uchit, Jupi, Fariez, Eko, Cempluk, Tovik, Hero, Dito, Ikhwan, dan Dwi

Menuju Base Camp

Kami menyusuri aspal jalanan menuju base camp pendakian Gunung Merbabu. Hari sudah beranjak sore ketika itu. Kira-kira pukul 14.00 WIB. Terbayang bagaimana matahari masih sangat menyengat di atas kepala. Keringat setetes demi setetes membasahi kulit-kulit kami. Kami yang tadinya berjalan bersama kini mulai terpecah-pecah. Setelah jalan beraspal, kami menyusuri jalanan makadam yang diadakan perbaikan jalan. Jalanan ini kurasa sangat panjang. Aku mulai lelah dan jalankupun semakin lambat. Kabut mulai datang di antara pinus-pinus tepi jalan. Dingin….

Camp Pos II
Sedikit barmalas-malasan kami melipat SB yang baru kami pakai. Kemudian merasakan dingin air wudhu dan melaksanakan shalat. Mz Cempluk dan Mz Eko sebagai leader karena di antara kami ber-13 hanya mereka yang pernah mendaki gunung ini. Bintang malam tidak hanya bersinar di langit, bahkan mereka berkilau-kilau begitu indah di bawah sana. Bumi seakan menjadi cermin bintang-bintang angkasa. Subhanallah.. Subhanallah.. Dalam lelahku aku merasakan begitu besar keagungan Allah. Mendaki untuk tadabbur alam. Kusaksikan kebesaran-Nya

Tanjakan-tanjakan terjal kami lalui.
Nafasku begitu terengah merasakan lelah di kaki dan berat keril di punggung. Untung saja dome tendaku sudah dibawakan Mz Tovik sehingga hanya framenya saja yang tertinggal di kerilku. Namun begitu, dua kali aku sempat merasakan pusing dan sekilas sekitarku menjadi gelap. Untung saja aku tidak pingsan.

“Wah di atas badai nih. Anginnya gede banget. Ntar kita camp di pos II aja,” kata mz Cempluk. Dan kami semua mengiyakan saja karena tidak mengetahui bagaimana medannya.
Tawa canda masih mewarnai perjalanan kami. Saling bahu membahu membantu teman melewati tanjakan terjal.
Tanganku dingin sekali. Bukan hanya tanganku, tapi seluruh badanku. Gigiku gemeretak. “Ah.. kok aku payah sih, kok aku lemah. Ayo Nurul semangat!” kataku dalam hati tuk menyemangati diriku sendiri. Aku YAKIN aku BISA.
Setapak tidak lagi berupa tanjakan terjal. Aku bisa melangkahkan kakiku dengan agak cepat. Dan di depan sana ada tanah datar yang luas. Ah.. akhirnya… Pos II (mata air). Jam menunjukkan pukul 12.05 WIB. Di sisi kiri di atas bukit jauh di sana nampak pemancar berdiri kokoh dalam dingin.

Kubongkar kerilku, kukeluarkan frame dan kubantu teman-teman mendirikan tenda. Setelah itu aku beristirahat dalam hangatnya SB di dalam tenda yang bergoyang-goyang karena hembusan angin.

Beratnya Menuju Puncak


Kuingat pesan ibuku untuk tidak meninggalkan shalat. Walau sedikit malas, subuh itu aku bangun dan kulaksanakan shalat subuh. Kemudian bersama Mz Uchit menyaksikan lukisan alam yang begitu indah. Hamparan awan kapas dan jajaran Gunung Sundoro, Gunung Sumbing, Telomoyo. Di bawah sana, di jurang dan lembah yang dalam nampak deburan air terjun dan mengalir sebuah sungai berbatu di bawahnya. Subhanallah…
Pukul 09.20 a.m. kami berdoa bersama dan melanjutkan perjuangan ini. Jalan yang kami lalui terasa semakin menanjak. Tumbuh-tumbuhan pun lebat karena musim penghujan. Dan pemandangan alam Merbabu sangat menawan menguatkan tekad untuk mencapai puncak.
“Nduk, arbei tuh.”
“Sek, sek mz, tunggu!! Aku panen dulu, hehe..” kataku begitu senang.
Sejam dua jam kami terus berjalan. Sekian bukit kokoh aku saksikan, kukira itu puncak, tapi ternyata bukan. Hehe… Di balik bukit masih ada bukit lagi. Fuih….!!

Puncak Euy…
Aku tidak tahu apa nama tempat-tempat yang aku lalui. Yang kutahu hanya saat kami menapaki jalan terjal di antara jurang di sisi kiri dan kanannya, itu adalah Jembatan Setan. Merambati tebing menakutkan dalam gerimis yang melicinkan batu pijakan. Basah, kotor, dan dingin… alhamdulillah kami tiba di persimpangan. Waktu itu kira-kira pukul satu siang. Kami beristirahat sebentar kemudian beberapa orang, termasuk aku melanjutkan ke Puncak Syarif (3119 mdpl). Angin kencang dan kabut menyambut kami di puncak.
Tak lama kami kembali ke persimpangan, mengambil keril dan melanjutkan ke puncak Kenteng Songo (3142 mdpl). Betapa haru hatiku. Aku bersyukur kepada Yang Maha Kuasa karena mengijinkan kami menginjakkan kaki di puncak. Kegembiraan kami lampiaskan melalui foto-foto dengan berbagai pose. Beberapa cemilan dan susu kami keluarkan untuk tambahan energi. Sebelum turun aku menyempatkan shalat dhuhur dan ashar yang kujamak, sembari berdoa agar kami selalu dikaruniai keselamatan dan kebahagiaan oleh Allah.

Selo yang Menjadi Seli
Sekitar pukul 15.00 kami turun arah jalur Selo. Kami menuruni lereng bukit yang hijau dan pemandangan di depan mata begitu menggoda. Sungguh indah seakan-akan kata tak mampu menggambarkannya. Setelah di bawah, di persimpangan jalan kami berhenti dan menatap setapak yang baru kami lalui, wow..!!!
Keren!!! Kami melanjutkan perjalanan dengan mengambil percabangan itu ke arah kiri. Tidak lama berjalan di antara semak kami melewati sebuah savana luas yang begitu indah. Rumput-rumput yang hijau namun kecoklatan. Aku benar-benar takjub dengan pemandangan indah ini. Aku jadi teringat Cikasurnya Argopuro.

Kembali kami berjalan mengikuti setapak-setapak di savana itu. Naik bukit dan menuruni lereng-lereng yang kuanggap vertikal karena susah sekali melaluinya sampai terperosok dan tersungkur bersama tanah dan rumputan. Sungguh aku berjalan sangat lambat, paling belakang, dan ditemani Mz Tovik pendaki yang baik hati itu. Makasih ya Mz… Hingga sampailah kami di tempat yang namanya “Batu Tulis”. Di sini kami beristirahat sejenak. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 p.m. Hari hampir gelap dan kabut sesekali menyapa.

Sempat terjadi kebingungan menentukan percabangan mana yang harus kami lewati untuk tiba di Selo karena di sini terdapat tiga percabangan. Dan di antara kami ber-13 tak seorangpun pernah turun lewat Selo. Tentu saja kami mengambil jalan yang tengah karena merupakan setapak yang paling jelas dan nampaknya sering dilewati.

Hari mulai gelap. Kami hanya berjalan sebelas orang. Dua orang lainnya yaitu Mz Hero dan Mz Eko sudah termat jauh di depan entah di mana. Kami sempat sedikit geram namun khawatir kalau-kalau mereka tersasar. Kami terus menuruni lereng-lereng perbukitan. Kakiku semakin sakit saja, aku tidak terbiasa berjalan selama itu. Ritme perjalanan kami semakin lambat. Aku tahu semuanya lelah dan ingin segera tiba di base camp. Namun, ladang penduduk saja belum kami jumpai. Sempat terdengar adzan magrib di kejauhan. Kami merasa sudah dekat, sebuah harap seakan menerangi gelap hari itu. Kami terus berjalan dan berjalan. Adzan isya’ terdengar, berarti sekitar pukul 19.00 WIB. Terus dan terus berjalan menembus kabut tebal dan gerimis malam itu. Lampu-lampu di bawah sana tak terlihat, apa yang di depan, bukit, jurang atau gunung tak dapat kami lihat. Ladang-ladang penduduk di lereng terjal telah kami lalui. Hingga kami tiba di sebuah pertigaan. Bingung harus ke arah mana. Sedikit mencoba-coba kompas dan GPS yang dibawa Mz Uchit akhirnya kami belok ke kiri.

Tidak lama kemudian Mz Jupi kontak telepon dengan Mz Eko yang sudah tiba duluan di desa. Berikutnya kami dijemput penduduk dan ditunjukkan jalan ke tempat mereka. Kami tiba di rumah penduduk yang entah siapa namanya (lupa, hehe) sekitar pukul 21.30 WIB. Lelah, lapar, sakit di kaki, dan syukur akhirnya aku tak harus berjalan lagi. Desa itu bernama desa Gesikan. Ternyata kami tersasar 6 km jauhnya dari Selo. Kami menamai sendiri jalur tadi dengan sebutan “jalur Seli”, jalur kenangan kami.

Setelah makan nasi dari tuan rumah dan nasi bawaan Mz Amsi dan mba Salma yang jauh-jauh datang menemui kami akupun tertidur pulas berharap esok hari kakiku tak sakit lagi dan bisa melanjutkan ke Merapi. Aku bermimpi indah malam itu, bermimpi berlari-lari di savanna Merbabu.
Aku teramat takjub dengan savanna itu.

Untuk teman-teman seperjalanan, mungkin kita akan merindukan savana itu lagi. Datanglah ke sana dan baca kembali untaian kisah menarik antara Kenteng Songo – Savana indah – Batu Tulis – dan Selo yang menjadi Seli.

Pendakian Gunung Gede-Pangrango (tahun 2009)




Foto-foto bisa dilihat di sini.

Dua kali sudah saya membatalkan rencana trip mendaki ke Gede- Pangrango (3019 dan 2958 mdpl). Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi ketidakkonsistenan saya ini. Tidak perlu saya sebutkan semua, tetapi salah satu di antaranya adalah karena tidak adanya partner dari Surabaya. Agak susah juga kalau saya harus berangkat ke kota nun jauh di sana sendirian. Namun, sepertinya keinginan mendaki ini benar-benar telah mendorong saya untuk tetap berangkat walau sendiri.
ada keinginan yang meragukan
ada harapan yang menjanjikan
ada perkataan yang melemahkan
ada semangat yang menguatkan
dan ada satu hati dan pikiran yang mengambil keputusan
Jumat, 26 Juni 2009
Singkat cerita akhirnya saya berangkat juga ke Jakarta. Setelah perjuangan dua hari sebelumnya dalam berebut tiket kereta dengan calon penumpang lain. Waktu itu musim liburan sudah tiba, jadi dapat dipastikan harga tiket kereta api naik dan tempat duduk sudah terisi nama-nama calon penumpang. Dan sepanjang malam sebelum saya tiba di Jakarta hanya saya lalui sendiri. Bahkan dengan orang sebelah pun saya tidak saling bercakap-cakap. Untungnya tempat duduk saya di kursi D, yang berarti dekat jendela, sehingga saya dapat menghibur diri dengan menikmati pemandangan di luar jendela. Gelap. Romantis sekali meski saya hanya sendiri. Teringat adegan-adegan di sinetron atau film ketika aktornya sedang naik kereta lalu menatap keluar jendela dengan isak tangis meninggalkan kekasih hatinya ataupun tersenyum penuh debaran karena di stasiun terakhir nanti akan ada seseorang yang menunggunya. Memang benar-benar romantis.

“Neng, kenalan dulu, saya Mang Idi,” kata seorang bapak sembari mengulurkan tangannya kepada saya untuk bersalaman. Tidak lupa sesungging senyum tergambar jelas di raut wajahnya yang telah keriput. Sungguh sambutan yang hangat dari dan untuk orang yang baru dikenal. Warung Mang Idi, tempat saya dan beberapa teman mendaki malam itu beristirahat di Cibodas. Sebagian sudah saya kenal pada trip-trip sebelumnya: Om Anwar dalam pendakian ke G. Arjuno-Welirang, Chepot dalam pendakian ke Semeru. Dan yang baru saya kenal hari itu adalah Mbak Ika dan Mz Ari dari Cirebon. Masih ada dua orang lagi kawan dari Jakarta yang hendak mengantar kami sampai Air Terjun Cibeureum, yaitu Mbak Susan dan Mz Arief.

Sabtu, 27 Juni 2009
Menuju Kandang Badak
Pukul 07.15 pagi kami sudah tiba di depan pos informasi dekat basecamp Montana setelah sebelumnya melapor di pos perijinan. Kami mengawali trip ini dengan doa bersama. Sebuah permohonan kepada Allah untuk keselamatan, kegembiraan, dan kemudahan kami dalam mendaki gunung ini. Setelah berjalan kurang lebih setengah jam tibalah kami di Telaga Biru, dan berjalan lagi sekitar 20 menit untuk tiba di Pos Panyangcangan. Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan medan yang dilalui, semuanya telah ditata rapi dan Insya Allah aman dilalui. Tidak terlalu menanjak, lumayan untuk sekedar pemanasan pagi hari.


Seperti rencana awal bahwa Mz Arief dan Mbak Susan hanya akan mengantarkan kami samapi Cibeureum, maka kamipun menuju ke sana. Bisa ditempuh sekitar 10 menit dari Panyangcangan. Deburan air terjun yang enak dipandang sambil menikmati sarapan pagi saya. Sarapan nasi bungkus yang saya beli di warung Mang Idi. Dari Cibereum kami kembali ke Panyangcangan. Trip ini dilanjutkan oleh kami berlima.


Butuh sekitar 2,5 jam dari pos Panyangcangan untuk tiba di Pos Air Panas. Jalannya berbatu-batu dan agak menanjak. Jalan yang membosankan. Untung saja tidak panas seperti makadam di jalur pendakian G.Welirang via Tretes. Di sini hutannya memang terjaga. Rindang dan nyaman. Itu kesan saya. Pelajaran berharga dalam mengatur ritme berjalan saya dapat dari Om Anwar. Berjalan di belakangnya dan mengikuti langkahnya membuat saya dengan sendirinya mengatur ritme berjalan, nafas, dan istirahat. Terima kasih, Om…. ^_^

Medan setelah Kandang Batu agak menanjak juga. Cukup menguras energi. Untungnya Om Anwar yang telah mengetahui medan mengajak kami menyempatkan makan siang di sebuah dataran, lima menit dari Kandang Batu di dekat air terjun kecil. Kandang Batu letaknya tidak jauh dari Pos Air Panas, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Dari tempat itu kami masih membutuhkan waktu satu jam untuk tiba di Kandang Badak. Lega rasanya siang itu kami tiba di Kandang Badak. Sepertinya kami masih sempat untuk mendaki ke puncak Pangrango. Istirahat sebentar lalu mendirkan tenda untuk tidur kami malam ini.

Kandang Badak – Mandalawangi (PP)
Setelah musyawarah untuk mufakat akhirnya disetujui bahwa yang akan ke puncak Pangrango hanya tiga orang, yaitu saya, Mbak Ika, dan Chepot. Sedangkan Mz Arik dan Om Anwar tetap di Kandang Badak. Hutan Pangrango memang lebat dan agak gelap. Banyak pohon tumbang melintang yang harus kami lalui. Jalurnya pun lumayan menguras tenaga. Menanjak dan sesekali harus sedikit memanjat akar-akaran. Sempat terbersit perasaan takut dalam benak saya di awal perjalanan ke puncak waktu itu. Alasannya karena satu-satunya orang yang tahu jalan, Chepot, agak lupa jalan. Bahkan untuk ke persimpangan jalur ke puncak Gede dan puncak Pangrango pun kami harus diantar Om Anwar karena Chepot lupa. Ternyata Chepot sudah lama tidak mendaki ke sana. Wah kacau! Namun karena saya dan mbak Ika telah mempercayakan posisi leader kepadanya maka saya berusaha untuk menghormati dan percaya padanya.

Puncak Pangarango memang biasa saja, tapi perjuangan ke sana menakjubkan. Dari puncak Pangrango kami dapat melihat kawah Gede dan gigiran kawah jalur menuju puncaknya. Sungguh indah! Lalu kami cepat-cepat berlari ke lembah Mandalawangi, tempat yang menjadi alasan utama saya menapaki terjalnya gunung ini. Cakrawala ufuk barat berselimutkan awan dan bertabur warna senja. Indah!



…..
Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu, dan dalam dinginmu
…..
(Gie ; Mandalawangi-Pangrango)

Lelah telah menggelayuti tubuh kami, tapi kami harus tetap kembali ke Kandang Badak malam ini juga. Kami masih menikmati sebotol susu coklat dan sereal berenergi serta beberapa cemilan sambil melepas senja. Hari mulai gelap dan udara benar-benar dingin. Termometer mbak Ika menunjukkan angka 10o C. Wow..! Padahal masih sore. Kamipun segera kembali ke Kandang Badak dalam sunyi malam, taburan bintang, dan sinar rembulan.













Sepi telah menjeratku di antara akar-akar yang garang
Membayangiku dengan ketakutan dan keraguan
Hanya ada teman
Serta TUHAN
Yang menjadikan malam menjadi nyaman
Dan Ia telah memberikan senyumnya
Lewat selirit bulan sabit yang dijadikan-Nya terang

buka juga ini

BERSAMBUNG

14 Juli 2010

Jalur Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng


Tulisan ini saya buat karena ada permintaan dari seseorang. Bukan cerita pendakian, melainkan tulisan tentang jalur pendakian ke Gunung Penanggungan via desa Tamiadjeng. Kebetulan saya belum pernah menuliskannya walau saya sudah beberapa kali mendaki ke sana via Tamiajeng. Semoga tulisan ini dapat membantu Anda yang membutuhkan informasi.

Desa Tamiajeng bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum.

I. Dengan Kendaraan Pribadi
Jika Anda tidak malas menyetir sendiri silakan membawa kendaraan baik motor, mobil, ataupun sepeda. Jalurnya mudah. Dari perempatan terminal Pandaan ambil jalan ke arah Tretes/Trawas (Surabaya ambil kanan, Malang ambil kiri). Lalu mengikuti jalan saja ke arah Trawas. Desa ini tidak jauh dari wisata air terjun Dlundung. Jika Anda kebingungan silakan bertanya kepada orang sekitar yang sudah terbiasa dengan para pendaki. Anda bisa menuju ke warung Mak Ti, tempat para pendaki biasa makan dan menitipkan kendaraan. Tapi saya sarankan Anda tidak menitipkan kendaraan di sini karena masih jauh dari setapak pendakian. Lebih baik Anda lurus terus di jalan yang menuju G. Penanggungan sampai melewati pertigaan dua pertigaan. Tepat di pertigaan yang kedua, di warung rujak dan tukang tambal ban, Anda bisa menitipkan kendaraan. Pemiliknya sangat ramah dan baik hati.


II. Kendaraan Umum
Jika pilihan Anda adalah kendaraan umum, silakan naik angkutan jurusan trawas dari terminal Pandaan. Tarifnya Rp5.000,- s.d. Rp7.000.-. Biasanya Anda akan diturunkan di warung Mak Ti.

Memulai Pendakian
Setelah semuanya siap, perjalanan bisa dimulai. Jangan membawa snack terlalu banyak, secukupnya saja daripada memberatkan tas. Lebih baik sebelum mendaki Anda membeli nasi bungkus di warung Mak Ti biar di atas tidak terlalu repot. Gunung ini dikenal gersang, sehingga tidak ada sumber air. Jadi bawalah air untuk persediaan minum Anda.







Waktu normal penempuhan jalur ini sekitar 4 jam, tidak terlalu santai dan tidak pula terburu-buru. Ikuti saja jalan makadam - tanah - setapak itu meliuk ke kiri dan ke kanan. Lalu belok ke kanan di pertigaan kecil. Di pertigaan itu ada pohon (ga tau namanya) yang di dahannya ada goresan tanda panah, dan di depan pohon itu ada batu seukuran kompor minyak. Setelah belokan itu ya tinggal lurus terus ke atas. Setelah satu jam nanti akan ada pos peristirahatan.

Untuk mengecek Anda salah jalan atau tidak, perhatikan posisi Anda. Bila Anda berada di punggungan dan agak jauh di kiri kanan Anda ada bukit berarti jalan Anda benar.
Bari pos tersebut perjalanan masih sekitar tiga jam lagi. Jalurnya jelas sampai ke puncak. Separuh perjalanan masih melewati hutan (hutan tanpa pohon), separuhnya lagi batu-batuan terjal. Dari bawah ke atas medannya relatif terjal dan berbatu-batu.

Sekadar informasi, 15 menit sebelum puncak ada gua yang bisa ditempati untuk tiga orang (saya pernah enam orang :p ). Anda bisa bermalam di situ tanpa mendirikan tenda atau terus ke puncak dan mendirikan tenda di puncak. Pintu masuknya sempit, tapi di dalam Anda masih bisa berdiri. Terserah Anda saja. Puncaknya sangat luas, dan banyak ditumbuhi rerumputan.






Bila pagi datang rumput yang basah oleh embun itu akan berkilau-kilau betapa indahnya. Bayangan gunung yang kerucut terbentuk di sisi barat gunung (coba perhatikan sendiri). Perkotaan akan dapat Anda lihat begitu jelas tanpa aling-aling pepohonan. Pesan saya: jangan mengharapkan lautan awan!

Oya. saya biasa memulai perjalan di sore hari untuk menghindari terik matahari dan malam harinya bisa beristirahat.
















Selamat mendaki….


note: Ada sedikit perubahan. Saya baru tahu beberapa hari yang lalu. Pertama, sekarang sudah ada pos perijinan pendakian di depan kampus ubaya, biayaya Rp 3.000,-. Kedua, pos perhutani di tengah gunung itu sudah tidak ada lagi. Sekarang bentuknya hanya tanah lapang dan di sekitarnya pun sudah tidak dijadikan ladang.

Tulisan lain tentang Gunung Penanggungan:

  1. Candi-candi di Jalur Pendakian Jolotundo
  2. Journey to The Holy Penanggungan Mountain (edisi pencarian candy)
  3. Pameran foto menelusuri gunung suci penanggungan

10 Juli 2010

Kepergiannya ke Copenhagen

Padahal baru sehari dia tak di Indonesia aku sudah kangen. Sehari semalam penuh sejak pukul 01.00 WIB 9 Juli 2010 ia naik pesawat ke Copenhagen, Denmark. Otomatis hp dinonaktifkan, dan itu berarti kami tak bisa saling kontak. Ia sempat menghubungiku waktu pesawat yang ditumpanginya transit di Qatar, itu sekitar pukul 10.00 pagi. Duhh senangnya hatiku. Tapi tadi malam aku sempat menangis kesepian karena sejak siangnya ia belum memberiku kabar. Aku merasakan hal yang sangat berbeda dari sebelumnya saat ia masih bekerja di Indonesia.

Dulu waktu dia masih di Indonesia meskipun ia sibuk aku masih tetap bisa mengiriminya SMS, dan dia pasti akan membaca dan segera membalas kala punya kesempatan. Malam tadi berbeda. Ia masih di pesawat dan itu tidak memungkinkan kami saling berhubungan. Aku rindu. Sungguh malam tadi aku rindu. Aku rindu perhatian dan suaranya yang ringan. Untung saja di hp ada rekaman suaranya saat kami bertelepon dulu. Itu sedikit menenangkan hatiku yang galau oleh rindu-rindu. Ia telah memlilih bekerja di kapal pesiar. Dan ini adalah perjalanan pertamanya, tentu saja aku tak mau mengganggu semangatnya yang membara itu. Dalam suatu hubungan tidak boleh ada keegoisan yang mendominasi. Memang sulit untuk menyatukan dua pemikiran yang berbeda. Kita harus saling mengerti. Toh ia berjanji tak akan naik kapal lagi setelah kami menikah. Biarlah ia pergi melihat dunia luas. Rindu hanya permasalahan hati. Aku masih bisa menunggu.

Bangun tidur pagi tadi aku bisa tersenyum, meski dengan mata bengkak, mendapati satu SMS darinya yang mengabarkan ia sudah tiba di Copenhagen. Lalu segera aku buka facebook, dan benar saja di sana aku temui beberapa aktivitasnya membalas kalimat rinduku. Bahagianya aku.

Ternyata perasaanku begitu dalam padanya. Perasaan yang terbangun hampir dua tahun. Semoga Allah meridhoi hubungan kami dan segera memersatukan kami dalam ikatan suci setelah ia pulang delapan bulan nanti. Amin.

21 Juni 2010

From Bromo With Love




Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 16-18 Juni aku ke Bromo. Sebenarnya ini adalah kesekian kalinya aku liburan ke Bromo. Boleh dikatakan bosan karena di sana pemandangannya ya itu-itu saja: lautan pasir, Bromo, Batok, dan gunung-gunung di sekitanya. Aku ke sana karena terpaksa (hehe). Aku hanya mencari alternatif liburan yang mudah dijangkau, murah, dan berudara dingin. Paru-paruku sudah berteriak-teriak minta udara segar kaya oksigen dan bebas dari polusi. Dan ini adalah bentuk amalku kepada paru-paru.
Seperti biasa Gunung Bromo bisa ditempuh dari banyak tempat, salah satunya dari Probolinggo. Tinggal naik angkutan ke Cemoro Lawang (Rp 25.000) lalu kita bebas memilih penginapan, mau di hotel, homestay, atau mendirikan tenda. Tak ada masalah. Kemarin aku memilih tinggal di homestay. Homestaynya bukan homestay mewah, tapi rumah milik warga yang disewakan untuk para pengunjung. Kamar hotel kelas ekonomi paling murah Rp100.000,- dengan kamar yang kecil dan kamar mandi di luar. Untuk menyewa yang lebih mahal aku nggak punya uang. Akhirnya aku memilih rumah yang ditawarkan warga itu. Awalnya dia minta Rp200.000/malam, lalu dengan sedikit nego dia menurunkan harga menjadi Rp150.000,00. Rumahnya biasa saja, tidak mewah, dengan satu ruang tamu yang diisi sofa dan tempat tidur, ruang tengah ada tempat tidur dan televisi, lalu masiha da dua kamar dan kamar mandi yang airnya super dingin. Bbbrr….!!

Sejak awal aku tak punya keinginan untuk ke Penanjakan ataupun ke kawah Bromo. Ya sudah akhirnya pagi hingga siang di hari pertama aku hanya jalan-jalan di bukit kecil sebelah utara Bromo, di antara kebun-kebun warga, dan cemara-cemara yang indah. Mengabadikan kenarsisan, kemesraan, dan keharuan yang menggumpal di dalam dada. Dilanjutkan dengan makan siang lalapan ayam yang sambalnya super nikmat dan pedas. POKOKE MAKNYUSS. Hehehe…
Pagi di hari kedua aku, mas Arief, dan temannya menunggu matahari terbit di belakang penginapan Lava Lodge. Dari rumah kami berjalan terus hingga melewati pintu tarik karcis masuk Bromo lalu belok kiri mengikuti jalan aspal sampai ke belakang hotel Lava Lodge. Gratis kok. Kalau cuma hendak belok kiri kita tidak akan ditarik karcis masuk. Sayangnya pagi itu berawan, sunrise tidak sempurna. Jadi kasihan dengan orang-orang yang rela bayar mahal naik jeep ke Penanjakan. Haha… Selepas itu kami berjalan terus melewati bukit-bukit yang hijau, indah, dan ramai celoteh burung di sisi timur Bromo. Masak tahunya Cuma Cemoro Lawang-Bromo-Penanjakan aja! Hehe..

~salam cuap-cuap~

09 Maret 2010

Air Suci Petirtaan Jolotundo

Apakah Anda pernah mendengar petirtaan Jolotundo?


Petirtaan Jolotundo adalah pemandian yang disucikan oleh pemeluk agama Hindu, merupakan peninggalan kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga. Asal-muasal nama Jolotundo diambil dari kata jolo (menjelajah) dan tundo (ditunda) yang berarti penundaan penjelajahan sungai yang ada di daerah tersebut kala itu. Air petirtaan Jolotundo diyakini masyarakat sekitar sebagai air bertuah, bahkan seseorang yang telah minum atau mandi di pancuran airnya dapat menentramkan pikiran, serta dipercaya dapat membuat awet muda. Tak heran jika pengunjung yang datang ke tempat ini pasti tidak melewatkan untuk mandi atau sekadar cuci muka, tidak lupa membawa airnya untuk dibawa pulang. Konon dahulu ketika Raja Airlangga masih muda, beliau pernah singgah ke daerah Jolotundo untuk menenangkan jiwanya, beliau mandi di sumber air tersebut dan merasa tentram jiwanya ketika selesai mandi.
Namun, menurut cerita yang lain, petirtaan Jolotundo sengaja dibangun oleh Raja Udayana pada tahun 997 M untuk menyambut momen kelahiran putrannya dari putri Gunapriya Dharmapatni, yaitu Airlangga (991 M). Berarti candi ini dibangun sebelum masa kerajaan Kediri, bahkan Kahuripan sekalipun karena pendiri kerajaan Kahuripan adalah Airlangga, dan Kediri adalah satu dari dua bagian kerajaan Kahuripan, satunya lagi adalah kerajaan Jenggala.
Candi ini berbentuk empat persegi panjang dengan teras di tengah dan puncak pancuran di tengah-tengahnya, dan ternyata memiliki arti simbolis sebagai gambaran Mahameru. Dalam konsep Hindu, Gunung Mahameru dianggap sebagai gunung suci tempat bersemayam para dewa. Petirtaan ini juga dianggap melambangkan pengadukan lautan dalam cerita Amrtamanthana yang menceritakan proses mendapatkan air suci dengan Gunung Mahameru yang dililit oleh ular Batara Wasuki. Berdasarkan hal itu kolam Jolotundo disamakan dengan lautan, sedangkan teras dengan pancuran berbentuk silindris yang dililit seekor ular melambangkan Mahameru. Air yang keluar dari pancuran itu sendiri dianggap air suci atau Amrta. Dan memang berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, air yang terdapat di Petirtaan Jolotundo sebenarnya merupakan salah satu air terbersih selain yang ada di Bali dan di NTB.





Secara administratif Jolotundo terletak di desa Seloliman, kecamatan Trawas, kabupaten Mojokerto. Tempat ini bisa ditempuh melalui Mojokerto, Japanan, maupun Trawas. Pengunjung bisa mendatangi lokasi baik dengan motor, mobil, maupun bus. Jika menggunakan angkutan umum sedikit susah, yaitu dengan naik ojek dari desa Tamiajeng (jarak +/- 8 km). Namun jika Anda ke sana dengan rombongan mungkin bisa carter colt jurusan Trawas. Harga tiket masuk sebesar Rp.3500,- per orang.

Baca juga Candi-candi di Gunung Penanggungan.


04 Januari 2010

Pendaki Nekat, Pendaki Egois

Salah satu hobi saya selain makan dan tidur adalah mendaki gunung. Kegiatan ini sudah saya lakoni sejak empat tahun lalu saat kelas I SMA dan tergabung dalam organisasi pecinta alam. Pokoknya sejak saat itu saya suka sekali mendaki, ikut-ikutan milist, tambah-tambah teman mendaki, baca-baca catatan perjalanan orang baik di buku maupun blog. Semua itu saya maksudkan untuk menambah wawasan saya mengenai dunia yang saya cintai ini.

Dari banyak membaca, mendengar, dan melihat itu memang banyak ilmu yang saya dapatkan. Namun ternyata tidak sedikit juga kejanggalan-kejanggalan yang saya temukan, yaitu tentang keegoisan. Padahal sejatinya para pendaki akrab dengan kata membuang jauh-jauh keegoisan dari dalam diri. Namun, masih banyak juga pendaki egois yang tidak merasa bahwa dirinya egois. Salah satu bentuk ketidaksadaran itu bisa berupa kenekatan tanpa persiapan yang matang saat mendaki.

Salah satu contoh adalah alm.Hanafi yang tanggal 17 Desember kemarin meninggal di Semeru saat mengikuti acara napak tilas So Hok Gie. Menurut berbagai cerita yang saya dengar di sana, ada yang menyebutkan bahwa Hanafi meninggal karena hipoxia dan hipotermia, ada juga yang bilang karena kondisi fisik yang tidak bagus tapi tetap memaksakan diri dan tidak memberitahukan kepada orang lain termasuk panitia. Menurut saya mungkin saja Hanafi berpikir kalau ia mengadu sakit dia tidak akan bisa sampai ke puncak, mungkin juga dia berpikir tidak ingin merepotkan orang lain, dsb yang hanya diketahui sendiri olehnya. Sadar atau tidak ini adalah bentuk keegoisan pada diri sendiri dengan mengabaikan keselamatan. Sebenarnya banyak kasus seperti ini yang kadang terjadi pada diri kita dan tidak kita sadari. Berusaha mendaki hingga puncak, padahal puncak bukanlah tujuan akhir perjalanan.

Beberapa hari setelah itu ada juga yang tersesat di Gunung Panderman dan terperosok ke jurang hanya gara-gara kenekatan. Kalau tidak salah namanya Imam. Awalnya dia dan rombongannya bertemu dengan rombongan pendaki lain saat turun. Karena ingin cepat sampai bawah ia mengikuti jalan pintas yang diberitahukan rombongan yang naik tadi, tapi sebelumnya Imam dkk belum pernah lewat jalur tersebut, dan tersesatlah mereka. Jurang menghambat mereka di tengah jalan dan Imam nekat menuruninya padahal sudah dilarang oleh teman-temannya. Hasilnya ia terperosok dan patah tulang kaki bagian kanan.

Oya September lalu saya naik Gunung Lamongan di Lumajang, Jatim (maaf contoh lagi). Tidak terlalu tinggi memang, hanya sekitar 1600-an mdpl dan cuma butuh 4 jam untuk mencapai puncaknya. Waktu itu saya berbarengan dengan rombongan dari Lamongan sekitar 40 orang. Nampaknya masih SMA. Mungkin dari sispala. Saya melihat mereka diajak berjalan malam dan tiba di Pos Watu Gede tempat saya dkk mendirikan tenda kira-kira pukul 12 malam, mungkin lebih. Lalu tidak tidur dan pukul 2 dini hari melanjutkan perjalanan dengan harapan saat fajar mereka sudah tiba di puncak. Saya masih tidur waktu itu dan merasa terganggu dengan keramaian yang mereka buat. Yang ada di pikiran saya saat itu kenapa adik-adik pendaki ini diajari kakaknya untuk berjalan di malam hari, kayak babi hutan aja. Hehe.. Lalu saat turun baru saya tahu sebagian dari mereka cuma memakai sandal, celana pendek, dan kaos pendek. Padahal jalur di situ didominasi bebatuan lepas yang lumayan menyulitkan. "Kasihan adik-adik ini," pikir saya.

Sedih kan kalau mendengar cerita seperti itu? Sangat disayangkan bila hal ini terus-terusan terjadi. Sangat disayangkan kalau masih banyak pendaki yang mendaki tanpa persiapan yang memadai baik fisik, mental, dan perbekalan. Dan sangat-sangat disayangkan kalau pendaki hanya berpikir bahwa puncak adalah adalah tujuan akhir, puncak adalah tujuan terpenting. Makna mendaki gunung tidak terbatas pada puncak, bisa melalui kebersamaan, pengalaman, pelajaran, dan kesederhanaan.

Saya mungkin cuma pendaki cupu yang baru kenal dunia pendakian kemarin sore, tapi saya ingin menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Saya sadar bahwa saya bukan orang yang tidak egois, tapi saya ingin belajar menundukkan keegoisan ini. Mari belajar bersama-sama dan saling mengingatkan.

Teringat kalimat dari Mbah Jarody, "Gunung mempertemukan kita semua". Juga kalimat bijak dari mas Wiwid, "Keberhasilan sebuah pendakian bukanlah saat puncak bisa didapat, tapi bagaimana bisa kembali dengan selamat".